Ayat Sarat Makna
PASAR menjadi sumber inspirasi kehidupan. Lebih-lebih kalau kita mau melangkahkan kaki ke pasar tradisional. Ada spirit yang bisa kita ambil, setelah mengamati kehidupan dan perilaku para pedagangnya. Entah sudah berapa banyak sahabat yang saya ajak nongkrong di pasar, hanya sekedar memetik hikmah dari kerasnya kehidupan. Read more
Tren Baru di Era Kuliner
Oleh Achmad Subechi - 31 Mei 2009 - Dibaca 887 Kali -
HARI masih pagi. Seorang sahabat mengingatkan melalui SMS. “Bos… apakah acara masak- memasaknya jadi?” “Okey sipp bos.. Segera meluncur. Saya sudah di kantor nih.” Lima belas menit kemudian Jhony, tiba di ruangan saya. Sasaran pagi ini adalah ke Pasar Buton, Balikpapan. Pasar tak terlalu besar itu terletak di sekitar ring road, Balikpapan, Kalimantan Timur. Read more
‘Pasar Hati’ Mendukungmu Prita (Era Humanisme)
Oleh Achmad Subechi - 3 Juni 2009 - Dibaca 875 Kali -
PRITA Mulyasari. Dia hanya manusia biasa. Popularitasnya mengalahkan artis-artis papan atas di Indonesia, karena ketertindasan. Sudah ada 15.000 dukungan di facebook. Hampir setiap hari saya mendapatkan surat dukungan itu dari beberapa rekan saya. Tuntutan teman-teman adalah ‘Bebaskan Ibu Prita Mulyasari dari tahanan dan segala tuntutan hukum’. Read more
Kontradiksi
Kutitipkan Bangsa Ini…
Oleh Achmad Subechi - 25 Maret 2009 - Dibaca 505 Kali -
LELAKI tua itu selalu saja datang ke rumah, setiap kali saya pulang dari Balikpapan. saya juga heran, kenapa ia bisa tahu kalau saya sudah tiba di Jakarta. Usianya sekitar 65 tahun. Ia tinggal di rumah petak bersama istri keduanya. Anaknya dua, semua wanita. Satu pelajar SMA dan satu lagi pelajar SMP. Meski tergolong kurang mampu, namun anaknya terawat, bersih dan tak kelihatan kalau mereka anaknya orang tidak mampu.
Setiap kali saya lewat di depan rumahnya ada rasa trenyuh dan terharu dengan spiritnya. Bayangkan, tinggal di rumah petak berukuran 3 X 4 meter, tanpa kamar dan hanya ada satu kamar mandi Pak Tua itu mampu menyekolahkan anaknya. Istrinya hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
Sehari-hari, dengan nafas tersenggal-senggal, ia datangi rumah tetangga kanan kirinya. Tangannya menengadah tanda meminta. Saya enggak tahu persis berapa penghasilan yang ia dapatkan dalam sehari. Kadang, seusai bertemu saya, Pak Tua itu selalu tersenyum manja. Wow… hati saya terasa plong. Artinya, hari ini saya bisa membahagiakan manusia lain, walau hanya dengan senyuman dan kata-kata.
Anak-anak saya sudah hafal. Ketika Pak Tua terlihat berjalan kaki tertatih-tatih dari jauh, anak saya selalu teriak. “Pak Pak… Tua tuh… Dia mau ke rumah.” Biasanya, kami duduk di teras rumah, sekedar ngobrol. Sesekali saya berpura-pura sebagai orang ‘pintar’ saat penyakit asmanya kambuh. Biasanya, telapak tangan saya tempelkan ke dada. Enggak lama kemudian, Pak Tua itu tersenyum sambil mengatakan, “Kena… kena… Nah itu dia… penyakitnya… Alhamdulillah….” Saya tertawa kecil, karena apa yang saya lakukan itu hanya sedikit memberikan sugesti saja.
Apakah ia dapat BLT? Ternyata tidak. Sama dengan tetangga saya lainnya. Seorang janda beranak tiga. Tahun lalu, ia mengadu dan menangis di depan saya menceritakan ada rasa ketidakadilan terhadap program BLT. “Masak… tetangga saya yang mampu malah dapat BLT, sedangkan saya tidak. Padahal nama saya sudah didata. Pak RT sudah saya datangi, tapi dia diam saja,” tuturnya.
Rasanya ingin hari itu juga saya menemui Ketua RT setempat. Tapi karena rumah kontrakan saya beda dengan RT sang Ibu, saya tak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya mengelus dada melihat perilaku-perilaku penguasa kampung.
Kemarin seorang janda setengah baya, punya dua orang anak datang ke rumah saya. Ia mengucapkan rasa terima kasih karena selama ini biaya sekolah anaknya dihandle oleh istri saya. Lagi-lagi, dia mengeluh tak mendapatkan dana BLT. “Tapi untunglah Pak… Ibu mau memberi dana kepada anak saya untuk biaya sekolah…”
***
DI BALIKPAPAN ketika bencana tanah longsor menghantam salah satu pemukiman, saya datang ke lokasi kejadian memotret dan mencari data. Masya Allah, saya dapati sebuah rumah berukuran 3 kali 2 meter yang dihuni oleh lima orang anggota keluarga. Kamar tidurnya saja tidak ada. Semua ngruntel jadi satu. “Bapak bekerja menjadi penjaga sekolah… Kami berlima tinggal di rumah ini,” kata seorang bocah berusia tujuh tahun kepada saya.
Pemandangan memilukan juga saya lihat di Maumere. Ketika itu saya meliput gempa bumi. Ketika masuk ke pedalaman, ada juga manusia yang tinggal di kandang binatang bersama anak-anak dan istrinya. Pekerjaannya di ladang. Lagi-lagi saya mengelus dada.
Gambaran seperti ini amat kontras dengan di ibu kota. Mall-mall penuh sesak. Rumah-rumah makan bertebaran disana sini. Mau apa saja bisa. Semuanya tersedia. Bagaimana dengan yang di pelosok-pelosok desa yang infrastrukturnya belum memadai bahkan hampir tidak ada?
Dimana rasa keadilan? Dimana pemerataan? Dimana kesejahteraan? Lalu mengapa kemakmuran itu masih jauh dan tak bisa dipetik? Mengapa bangsaku menjadi terpecah-pecah begini, terkotak-kotak oleh simbol dan kekuasaan, tercabik-cabik oleh kepentingan?
Indonesia, bukan negeri yang tak memiliki masa depan. Indonesia adalah aset dunia. Negeri ini akan menjadi bangsa yang besar kalau para pemimpinnya bertindak adil, visioner, arif, bijaksana, berintegritas, merakyat, cerdas dan punya hati.
Wahai para calon pemimpin bangsa, “Kutitipkan negeri ini kepada kalian. Kutitipkan jasa-jasa bapaku yang telah berjuang terhadap negeri ini kepada kalian. Kutitipkan anak-anak bangsa ini kepada kalian. Kuserahkan semuanya kepada kalian… dan dengarkan jeritan hati rakyat serta pahami tingkat kesulitan mereka. Tenggoklah mereka dan jangan hanya duduk di singgasana… Angkatlah derajat kesadaran manusia ke dalam nilai-nilai kemanusian universal..”
Bangsa ini terlalu mahal dipertaruhkan hanya untuk kepentingan sempit. Bangsa ini harus tetap ada, bangsa ini harus mampu memerdekakan kemiskinan, kebodohan, kesengsaraan, ketidakadilan, kesenjangan, kerampuhan jiwa dan segala tetek bengeknya. Akankah masa depan bangsa ini kita percayakan kepada manusia-manusia yang pragmatis, oportunis, tak memiliki integritas, tak profesional, tak berintelektual? Jawabannya ada pada bangsa ini…. Salam dari anak bangsa…
Share on Facebook Share on Twitter
10 tanggapan untuk “Kutitipkan Bangsa Ini…”
1. Novrita,
— 25 Maret 2009 jam 3:16 pm
Ketika orang yang dianggap sebagai pemegang amanah untuk menyelenggarakan negara ini , untuk mensejahterakan rakayt negeri ini, untuk memakmurkan kehidupan bernegara…tidak mampu atau bahkan ada yang menyelewengkan amanah… Kewajiban kita adalah mengingatkan…
Tidak bisa kita memaksakan dengan cara-cara kekerasan…
Namun setidaknya…janganlah kita menjadi penyebab dari keterpurukan, kemiskinan, kesemrawutan, kekacauan…
Tamparlah diri kita sendiri ketika kita mengabaikan tangisan orang disekeliling kita yang kelaparan….
2. jalil,
— 25 Maret 2009 jam 3:49 pm
Ya bangsa ini adalah bangsa yang besar, gemah ripah lo jinawi, seharusnya tidak ada pemandangan kurang makan, anak2 tidak sekolah, susah berobat krn ngga punya biaya, tidur di kandang binatang, tapi saat ini realitanya demikian adanya. Masih banyak jumlahnya lalu kapan akan berkahir penderitaan saudara-saudara kita sebangsa yang kurang beruntung tersebut, Kita memang hanya bisa menitip bangsa ini kepada pemimpinnya, sang pemimpin yang BENAR.
3. slametwijadi,
— 25 Maret 2009 jam 3:54 pm
ada adagium yang menyatakan “the society get a leader it deserves”. apakah memang “layak” bangsa indonesia mendapatkan pemimpin2 spt sekarang ini? jawaban ada pada kita sendiri. indonesia mempunyai semua syarat2 untuk menjadi bangsa yang besar, makmur dan sejahtera tetapi ibarat diterowongan yang panjang dan gelap, saat ini kita belum melihat sinar cahaya diujung terowongan.betapapun, kita tidak boleh pesimis,semoga satu saat nanti bangsa kita dapat memilih pemimpin2nya yang benar.
4. Unang Muchtar,
— 25 Maret 2009 jam 4:07 pm
Ya Allah, sayatlah di api neraka lidah para pemimpin kami, yang hari-hari ini sedang menebar janji untuk memperbaiki nasib Saudara-saudara kami dari belenggu kemiskinan, kesengsaraan dan kesulitan hidup, sayatlah lidah mereka bila mereka terpilih dan tak menepati janjinya……………..
Engkau maha bijaksana, engkau maha tahu dan jauhkanlah kami dari Pemimpin-pemimpin munafik.
Amin……
5. Ryani,
— 25 Maret 2009 jam 7:52 pm
Seharusnya para pemimpin bangsa ini lebih banyak meluangkan waktunya untuk melihat langsung keadaan rakyatnya. Jangan hanya pandai berteori saja & mengumbarkan kata2 yang mengatasnamakan kepentingan rakyat.
6. abuga,
— 25 Maret 2009 jam 8:05 pm
salam,
saya yakin masih banyak cerita pilu di negeri ini.
ini bisa akibat dari aparat daerah yang hanya berpangku tangan dan membuat laporan abs ‘asal bapak senang’ saja. sudah biasa aparat daerah hanya nunggu jatah dan ngemplang.
sementar pemimpin nasional kalo mau terjun terlalu ribet dengan protokol. pendek kata pemimpin tidak punya gambaran ttg rakyat yang sebenarnya.
hanya satu pertanyaan di hati: apa kira2 yang terpikirkan di benak presiden, gubernur, bupati, dpr jika media memberitakan kisah2 pilu anak negeri ini. di mana peran mereka?? kenapa kisah2 ini selalu ditemukan oleh wartawan bukan dpr yang katanya dekat dengan rakyat?? bukan pemerintah yang katanya pengayom rakyat??
masihkah mereka bisa tertawa, makan enak omong kosong, selingkuh, tidur nyenyak, menilep uang rakyat miskin………. entahlah.
7. Endro,
— 25 Maret 2009 jam 8:20 pm
Mohon maaf, ada satu hal yang bisa dilakukan pak Achmad Subechi. Sepertinya pak SBY meski dikritik kiri kanan masih komit melanjutkan program BLT apabila terpilih jadi presiden lagi.
Mohon maaf lho ya pak Achmad, mungkin anda masih bisa mendatangi pak RT dari Pak Tua. Meskpun bukan Pak RT anda namun apabila didatangi dan dihimbau baik-baik untuk menambahkan nama Pak Tua pada daftar penerima BLT dan pak RT tahu anda wartawan insya Allah beliau tergerak melakukannya. Wassalam.
8. Bambang Darmanto,
— 26 Maret 2009 jam 9:37 am
Saya sendiri heran kalau membaca dan mendengar SBY dengan lantangnya mengatakan bahwa tingkat kemiskinan dan pengangguran telah menurun dibandingkan sebelumnya, padahal dalam keseharian melihat disekitar kita semakin banyak pengemis, pengamen & pengangguran yang berseliweran disepanjang jalan dan di tempat-tempat umum.
Apakah keberhasilan hanya mungkin dinikmati oleh mereka yang dekat dengan kekuasaan ?
9. Fatchurrachman,
— 27 Maret 2009 jam 6:57 am
Tentu saja SBY mengatakan tingkat kemiskinan dan pengangguran turun, karena disekeliling dia kan orang-orang kaya yang meskipun mengemis, tetapi SBY pikir dia bisa dimanfaatkan untuk kumpulin dana kampanye gitu. Lha korban lumpur lapindo yang kepengin ketemu saja dicuekin, tapi dia ga bisa menindak Nirwan Bakrie. Hopo tumon ?
10. sumijan,
— 21 Mei 2009 jam 3:58 pm
Ya, ini satu realitas anomali jiwa dari negeri yang katanya mengusung visi kedilan bagi sosial dan kemakmuran begi seluruh rakyat Indonesia.
Disisi lain, sebagai anak bangsa yang mengedepankan hati empati dan nalar ketika bersikap, jangan sampai lupa mengkalkulasi secara lebih cermat setiap keadaan sebelum bertindak. Dengan begitu energi positif yang hendak kita transpormasikan untuk membela kebenaran itu jangan sampai secara tidak disadari ternyata telah terjebak kedalam wilayah yang kontra pruduktif,di tengah 99% sumber daya dan dana di negeri ini di kuasai oleh para “politikus hitam,pengusaha hitam dan konlomerat hitam”.
Jadi secara itung-itungan ilmu saudagar, syarat utama yang dibutuhkan untuk menolong orang kecil di neri ini adalah dengan cara bersikap premisif terhadap perilaku koruptif kapanpu, dimanapun dan dalam keadaan situasi serta kondisi yang bagaimanapun,pokoknya harus dapet restu kaum koruptif terlebih dahulu.
Dengan begitu pekerjaan menolong orang lain dalam bentuk mengentaskan dari jurang kemiskinan atau apapun masalahnya di jamin menjadi “LEBIH CEPAT DAN LEBIH BAIK”.
Pendeknya, semua itu tergantung ISITAS para pihak yang berkompeten. Urusan pantas atau tidak,nanti dulu.
Terapi Urin
Oleh Achmad Subechi - 6 April 2009 - Dibaca 516 Kali -
UMURNYA sekitar 45 tahun. Badannya agak gemuk. Dulu ketika muda, ia pernah menderita asma. Nah, kemarin ketika bertemu dengan saya, nafasnya saya amati. Seperti ia sudah sembuh total. Padahal pekerjaannya, kuli angkut beras di Pasar Pacarkeling, Surabaya. Apa resepnya?
SAYA masih duduk di beranda rumah, walau hari sudah larut malam. Seorang tukang becak menyapa saya. “Kapan datang? Sampean itu jangan cari uang melulu. Ingat ibu… Ibu sampean sekarang sering sakitt. Kapan lagi membahagiakan orang tua. Masak kalau mati saja baru pulang. Mumpung usianya masih panjang, sering-seringlah pulang ke Surabaya,” pesannya.
Saya terkaget. Wong cilik tak berpebdidikan, ternyata memiliki nilai-nilai yang sekali ucap, maknanya teramat dalam. Saya hanya senyam-senym saja ketika dinasehati teman lama. “Sehatkah?” “Alhamdulillah.. sudah tiga minggu ini saya kembali dsehat. Sebelumnya, saya sering sakit-sakitan. Asma kambuh, ke dokter…. Uang habis, tapi tidak sembuh,” ungkapnya.
Terus pakai obat apa kok bisa sembuh? “Obat luar…” “Maksudnya?” “Ya obat luar… Saya juga baru tahu kalau obat luar itu jos… ” tuturnya. Berapa harga obat luarnya? “Gratis…. dan dijamin cespleng.” Kok gratis? “Iya… gratis… Obat luar ini saya dapatkan dari dokter. Kapan hari saya ke RS Karangmenjangan. Setiap kali kambuh saya berobat ke RS itu. Rupanya dokter ini kasihan sama saya, dia lalu memberikan obat luar.”
Apa nama obat luar itu? “Maafff… ini rahasia… Saya minum air kencing sendiri setiap pagi.” Lho itu yang sampean maksudkan obat luar? “Iya… Waktu itu Pak Dokternya bilang… Kalau mau cepat sembuh… coba minum air kencing setiap pukul 04.30. Ini obat dari luar, kata Pak Doter. Tadinya saya sih enggak percaya. Tapi setelah saya coba meminumnya, ehmm… badan langsung berkeringat, capek-capek hilang dan asma saya alhamdulillah hilang,” kenangnya.
Ah saya kgak percaya? “Lho… coba tanya ke tetangga saya. Kemarin ada ibu-ibu juga mendeerira asma. Saya ajarin supaya minum air kencingnya. E.. dia marah-marah. Masak orang sakit disuruh minum air kencing sendiri. Kamu ini kurang ajar. Untung suaminya sudah saya jelaskan. Besoknya dia mencoba, dan alhamdulillah ibu itu sehat kembali,” ungkapnya.
Sekarang asma sampean tidak kambuh? “Tidak… Kalau dulu disuruh ngangkat satu kuintal beras, ampun deh.. Saya tidak kuat dan nafas saya keluar suara ngik.. ngik.. ngik…. Sekarang disuruh angkut berapa kuintal pun… okey punya. Artinya saya siappp.” Gimana atuh rasanya? “Ya ada sepetnya, kadang asin, kadang pedes.. Huaha… ha.. ha…. Tapi demi kesehatan, saya merem saja kalau minum air kencing. Apalagi lan tidak banyak, cuman beberapa cc saja.” Benarkah air kencing bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit? Itulah jawaban teman saya yang sudah mencobanya… Alhamdulillah, dia kembali pulih dan sehat… Selamat bekerja Cak… cari duit buat besarkan anak-anak…
Share on Facebook Share on Twitter
6 tanggapan untuk “Terapi”
1. Vicky Laurentina,
— 6 April 2009 jam 12:12 pm
Hari ini, ada yang bilang, obatnya minum air kencing sendiri. Besok apa? Minum ingus sendiri?
Ada-ada aja..
2. Novrita,
— 6 April 2009 jam 6:47 pm
Wah..nek aku yo gak mentholo ngombe koyok ngono….
Mungkin cuma sugesti… APa sudah ada pembuktian ilmiah? Karena urine itu kan kotoran yang dihasilkan tubuh yang harus dibuang keluar. Masa sih harus masuk lagi…? Apa iya ibu sampeyan kalo sakit dikasih gitu.. Coba deh tanya istri sampeyan.. yang lebih tahu tentang dunia kedokteran..
* Nov: Apa yang saya tulis di atas sebenarnya bukan soal benar atau tidaknya khasiat dari urine. Tetapi saya menangkap pesan dari abang becak bahwa hidup ini terlalu sulit. Ke dokter, mereka kagak gablek duit. Nah, akhirnya urine pun akhirnya ia jadikan ‘obat’ demi kesehatan mereka…. Maknanya bahwa rakyat kita ini memang belum sejahtera. Coba kalau punya duit, mereka pasti ke dokter spesialis… Betul enggak?
3. ima,
— 8 April 2009 jam 1:52 pm
Kalo kita meyakini sesuatu.. Insya Allah pasti terkabul..sama saja dgn air kencing yg dijadikan obat…
4. shinta setyawati,
— 11 April 2009 jam 8:27 pm
Kalo aku sih berdoa supaya aku selalu diberi kesehatan lahir batin oleh Allah SWT sehingga tidak perlu minum / mencoba obat yang aneh2….yang mungkin bagi sebagian orang (termasuk aku) dianggap tidak rasional.
5. Yani,
— 13 April 2009 jam 4:55 pm
Hal ini bukan pertama kalinya saya dengar. Karna memang ada yang namanya Terapi Urine untuk pengobatan. Yang diminum memang urine yang pertama kali keluar di pagi hari.
Ada juga beberapa orang yang melakoninya dan merasakan khasiatnya.
Berikhtiar untuk kesembuhan sepertinya bukanlah hal yang buruk.
6. sumijan,
— 21 Mei 2009 jam 2:56 pm
Ibuku adalah alasan kehidupanku,itulah yang membuat aku sewaktu kecil sangat patuh,walau disuruh minum air kencing ibuku yang direbus layaknya teh panas. Waktu itu kehidupan ekonomi keluargaku sangat sulit luar biasa,sehingga aku dan adik-adiku terjangkiti penyakit kuning,begitu yang kuingat. Alkhamdulillah aku dan adik-adiku sembuh lantaran minum air kencing rebus ibuku dan kini kami telah beranak-cucu. Itu cerita dulu di tahun 1972,saat sebagian besar penduduk di kota ku (nganjuk) makan ampas ketela pohon,ampas tahu, ketela/singkong.
Teman baiku di kaltim tiga tahun lalu memperlihatkan aksi irasional menurutku, ia adalah seorang kepala bagian laborat di RS ternama di kotaku. Terheran-heran aku dibuatnya, ternyata secara diam-diam ia telah meminum air kencingnya sendiri saben pagi untuk mangatasi penyakit yang ada pada dirinya. Padahal ia orang dengan status sosial mapan,bahkan istrinya bekerja sebagai boss di insytansi perpajakan dan bolak-balik ke luar negeri.
Yang aku tahu,sekarang ia tampak sehat dan bahagia setiap hari,sekali waktu meneleponku minta bertemu dalam suatu acara keluarga. ketika kutanya soal kebiasaannya meminum air kencing tiap pagi,ia pun tertawa lepas terbahak-bahak hingga mengundang perhatian para undangan lain yang hadir. ini bener-bener blog yang bagus dan mendidik empati dan nalar.


