Maut I

Thursday, 20-9-2007 | 13:55 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

KETIKA MAUT…

“WAHAI anakku! Jika ada sesuatu yang tak bisa kau pastikan bila dia datang, maka persiapkan dirimu untuk menghadapinya sebelum dia mendatangimu sedang engkau dalam keadaan lengah” (Nasihat Luqman kepada anaknya)

KAMU sering menyedot minuman dari dalam botol? Persis! Seperti itulah aku (malaikat maut) menarik ruh manusia dari tubuhnya. Saat itu aku lakukan, seluruh sel-sel genetis tubuhmu mulai dari ujung kaki, sedikit demi sedikit akan mati.

Seketika itu juga jemari kaki akan mengalami kematian pertama kali. Baru kemudian bergerak ke telapak kaki, tungkai, kemudian ke betis, paha dan seterusnya. Pada saat ruh kutarik, ujung-ujung kaki akan mengejang, kaku.

Dengan cara yang sama setiap bagian tubuh pelan-pelan akan mengalami kesakitan. Rasanya teramat menyakitkan. Kemudian mati rasa. Itu pertanda ruh sudah melalui bergerak menuju ke sebuah lorong… (babak awal menuju alam keabadian). Berpisahnya tubuh dengan ruh akan terjadi setelah ruh dan tubuh merasakan sakit yang sangat dahsyat.

Bagaimana rasanya? Susah kugambarkan, karena aku cuma melihat saja, karena tugasku hanya mencabut nyawa atas perintah Tuhanku. Aku cuma melihat bagaimana manusia yang kucabut nyawanya berkelojotan dan sangat ekspresif akibat rasa sakit yang dideritanya. Aku sendiri juga tidak tahu bagaimana rasanya ketika ruh manusia kutarik dari jasadnya.

Rasanya seperti disayat-sayat karena ruh kehidupanmu yang menempel di setiap atom tubuhmu, sel-sel genetismu yang menjadi jaringan syaraf, otot, pembuluh darah, persendian, rambut, kulit kepala, kulit yang membungkus tubuhmu, dan semua bagian tubuhmu kutarik-tarik, kubetot-betot dengan keras. Bayangkan saja jika ruhmu enggan meninggalkan dunia, maka semakin enggan, semakin sakitlah rasanya. Kalau ndak percaya, coba saja kamu cubit kulitmu keras-keras. Bagaimana rasanya?

Kamu pernah kan mengalami luka disayat. Perih! Begitulah teriakan sebagian dari mereka yang kucabut ruhnya. Tapi luka tersayat yang sering dialami manusia tidak seberapa dibandingkan dengan tercabutnya ruh dari jasadmu dengan paksa. Kalau sayatan luka cuma terjadi di sekitar luka saja. Itu pun sakitnya sudah luar biasa dan terasa di bagian tubuh lainnya. Bisa dibayangkan bagaimana kalau seluruh sel tubuh terasa disayat-sayat.

Jangan heran kalau ketika itu manusia akan berkeringat, menjerit, melolong-lolong, meraung-raung dan menggeliat-geliat, mirip enthung (ulat) keluar dari kepompongnya.
Manusia akan terkuras tenaganya akibat kelelahan. Ia bahkan tak lagi dapat bernafas, ia akan merasakan seperti tertimpa beban berat kesombongan, kedengkian, ketamakan, kemaksiatan, dan kejahilan lainnya.

Apabila tubuh calon mayat kuat, suara yang dikeluarkan ketika bernafas akan berbeda-beda. Ada yang dengan susah payah, ada yang mudah. Sesuai dengan amal yang pernah dilakukan tubuhnya. Rasa sakit tak terkira muncul karena ruh yang lembut menjadi jinak dan menyatu setelah berhubungan dengan tubuh.

Keduanya kemudian bercampur dan saling merasuki satu sama lain. Sehingga keduanya seperti menjadi sesuatu yang satu. Ruh dan jasad menjadi melekat. Keduanya tak akan terpisahkan, kecuali dengan suatu upaya penarikan yang kuat, sehingga manusia merasakannya sebagai suatu kepayahan yang amat sangat dan sakit yang luar biasa.

Ketahuilah, kesukaanmu akan syahwat, nafsu dan materi serta keduniawian cenderung akan semakin melekatkan ruhmu dalam jasadmu. Kenapa demikian, ini karena atom-atom tubuhmu semakin memiliki energi yang tinggi, sehingga ikatan-ikatan atomis dalam tubuhmu akan semakin kuat.

Tubuhmu menyimpan energi yang berlebihan. Seringkali energi berlebihan ini melonjak-lonjak dengan liar dan menumbuhkan berbagai syahwat dan nafsu. Kromosom-kromosommu akan terganggu, kode-kodenya yang asli akan jungkir balik, bahkan akibat langsung akan muncul menjadi berbagai penyakit yang payah seperti kanker, jantung, atau pikun. Itulah yang akan mencelakakanmu, akan menyiksamu.

Jadi semakin lekat ruh dalam jasad maka semakin sakitlah apa yang engkau rasakan. Setelah rasa sakit tak terkira dan kekuatan jasad menurun, suara akan berangsur hilang, dan setiap bagian tubuh perlahan-lahan akan menjadi kaku.

Sakitnya penarikan ruh memang menggentarkan siapapun juga. Jangankan manusia biasa, para nabi dan rasul pun menggigil ketakutan manakala aku datang. Karena alasan itulah, seorang nabi yang paling dimuliakan diantara nabi-nabi dan rasul-rasul, Muhammad SAW, memohon kepada Allah SWT agar membebaskan beliau dari penderitaan dan kepedihan kematian.

Beliaupun sudah mengingatkan, “Perbanyaklah mengingat sesuatu yang menghancurkan kelezatan yakni kematian.” Banyak orang arif dan ulama yang membuat syair tentang hilangnya kelezatan ketika aku datang. Ingatlah kematian yang menghancurkan kelezatan dan bersiaplah untuk menuju kematian yang akan datang.

Wahai yang hatinya lalai dari mengingat kematian, ingatlah tempatmu sebelum tiba saat perjumpaan. Bertobatlah kepada Allah dari kelalaian dan segala yang lezat. Sesungguhnya kematian sangatlah dekat.Ingatlah musibah dan saat-saat yang terlewat. Jangan merasa tenang dengan dunia dan perhiasannya melekat.

Dalam Al-Qur’an, Allah menggambarkan kesakitan saat penarikan ruh. “Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan) (QS 75:29)”. Ayat ini banyak ditafsirkan oleh ulama sebagai berhimpunnya rasa sakit sakratul maut dengan kerugian karena melepaskan ridha Allah.

Allah menyebut keadaan tersebut dengan sakrah, karena sakitnya kematian disertai dengan keburukan yang dihimpun akan membuat semaput pemiliknya. Biasanya kesadarannya hilang. Allah berfirman, “Dan datanglah sakratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya (QS 50:19).”

Leave a Reply