Sumidjan I

Tuesday, 25-9-2007 | 13:42 WIB | 2 Komentar | Kategori: Gagasan

Perjuangan Sumidjan…

NAMANYA Sumidjan. Sehari-hari ia bekerja sebagai penjual es campur. Pendidikannya hanya SLTP. Meski begitu, ia tergolong manusia yang mendapatkan ilham. Kecerdasannya amat luar biasa. Ia pandai memahami berbagai macam persoalan. Kalau dilihat tampangnya (maaf), Sumidjan bukan tipe pria metropolis. Penampilannya biasa-biasa saja, mirip orang ndeso.

JABATAN yang disandangnya boleh juga. Ia kini menjadi Koordinator Bontang Watch dan Walikota LIRA. Sejak mengenal anak ini, saya sudah menangkap kesan Sumidjan bukanlah tokoh LSM yang ecek-ecek alias mudah dibeli dengan uang. Ia benar-benar pribadi yang memiliki idealisme. Integritasnya pun sudah teruji. Berkali-kali dia saya pancing agar data-data mengenai KKN di Bontang yang dipegangnya dijual saja. Tapi, Sumidjan ogah. Katanya, “Kebenaran tak bisa dikendalikan oleh uang Sam (Mas).” Salut..! Hebat..!

Dalam beberapa hari ini, saya agak pusing melayani SMS yang masuk ke HP saya. Selain puanjanggg… banget, isi SMS-nya selalu bernada keluhan, cibiran bahkan makian. Tidak tanggung-tanggung, Sumidjan kapan hari mem-foward semua isi SMS-nya kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ny Ani Yudhoyono, Hendarman Supandji (Jaksa Agung) dan sejumlah pejabat KPK. Ia memang kesal dan amat kesal. KPK yang katanya sebagai lembaga pemberantas korupsi di negeri ini, dinilainya mandul.. ndul… dan tebang pilih.

Saya kenal Sumidjan sudah cukup lama. Ketika itu saya masih dinas di Harian Tribun Kaltim (Balikpapan). Meski hanya sebagai penjual es campur, namun Sumidjan sangat peduli dengan yang namanya gerakan anti korupsi. Ia amat sangat membeci korupsi. Kata dia, korupsi menyebabkan negeri ini terpuruk. Koruptor-lah yang menjadi penyebab rakyat kecil terlunta-lunta dan menjadi orang bodoh. Kalau negeri ini selalu jadi sarang koruptor, maka bagaimana nasib anak cucu mereka nantinya. “Saya berjuang atas nama Allah….. Kami tidak mempunyai motivasi apa-apa kecuali hanya menegakkan kebenaran dan ingin menjadikan kota Bontang ini sebagai kota yang bersih dari korupsi.”

Nama Sumidjan di Bontang cukup tenar. Ia berkali-kali diperiksa polisi gara-gara melakukan demo dan mengritik sang penguasa di Kota Bontang. Sekali tempo Sumidjan babak belur dihajar preman saat melakukan demo mengungkap kasus KKN sang walikota. Wajahnya nyonyor alias babak belur tak berbentuk. Begitu juga sekujur tubuhnya. Selang beberapa hari kemudian Sumidjan dilaporkan ke polisi. Ia divonis tiga bulan penjara. Sumidjan, kasasi ke Mahkamah Agung (MA) dan hingga kini belum keluar putusan.

Selain digebuki preman, keselamatan Sumidjan benar-benar mengkhawatirkan. Rumahnya juga nyaris dibakar gara-gara kevokalannya. Mungkin kalau didaftarkan di MURI, aksi demo yang dilakukan akan tercatat sebagai demo paling abadi yang ada di Bontang. Hampir setiap hari Sumidjan selalu membawa pasukannya demo ke jalan-jalan, menggalang gerakan anti korupsi. Terakhir, ia memberikan kuliah umum kepada masyarakat setempat. Ada dialog setiap kali ia menyuarakan aspirasinya di depan kantor instansi yang membidangi masalah hukum.

Dua hari lalu ia mengirimkan SMS ke saya. Intinya, ia minta tolong agar saya mengecek ke MA apakah benar putusan MA sudah keluar. “Sam (Mas) sabar… Soekarno, Bung Hatta dan tokoh-tokoh dunia lainnya juga pernah di penjara kok. Kenapa musti takut? Itulah konsekuensi dari perjuangan,” kelakar saya.

Semalam dia kembali mengirimkan SMS. “Ass Wr Wb. Di bulan suci Ramadhan ini bagi kami terasa sangat berbeda dengan sebelumnya. Sebab, Ramadhan kali ini sering diwarnai isak tangis para sahabat saya yang setiap hari menahan beban derita akibat terhempas lepas arus kuat strategi musuh (koruptor) yang bertubi-tubi. Setiap hari saya menyaksikan rintihan lirih, sedih, pedih, kadang tatapan wajah-wajah kosong bengong seakan bertanya-tanya sampai dimanakah bahtera perjuangan ini akan berhenti? Sampai kapan kami akan sanggup menahan dan bertahan…? Masih jauhkah perjalanan? Mereka adalah sahabat setia Sumidjan yang hidup laksana di penjara boikot politik dan ekonomi. Benar bahwa pada jaman jahiliyah Nabi dan pengikutnya juga pernah bertahan diboikot kaum Qurais. Sedangkan aku hanyalah seorang Sumidjan. Oh… ya… Robb…Betapa sangat kepenatan dan pengharapan mereka (sahabat). Mereka para sahabatku ya Allah… yang merindukan keberpihankan-MU, surga-MU, yang merindukan belaian keagungan-MU. Ya Allah walau pun mereka sangat tersiksa, namun bahagiakanlah hatinya ya Allah… sehingga tetap sehat dan kuat,” tulis Sumidjan.

Membaca SMS itu hati saya berkecamuk. Makfum, ribuan pendukung Sumidjan yang anti KKN sebagian besar berasal dari rakyat kecil, rakyat jelata yang hidupnya pas-pasan. Perjuangan Sumidjan dalam menegakkan kebenaran dan berusaha menyeret para pelaku koruptor di kotanya, sudah tak bisa dihitung dengan jari. Kegigihannya dalam melawan keddhaliman setara dengan konco saya almarhum Munir yang tewas dibunuh di pesawat Garuda.

Trenyuh, sedih dan saya merasa tak bisa berbuat apa-apa lagi. Saya hanya bisa membalas SMS-nya dengan kata-kata pendek namun saya yakin kata-kata itu tak bakal bisa menghibur hati Sumidjan dan pasukan-pasukannya. “Sabar Sam (Mas)… Insya Allah hukum Tuhan yang akan bicara, ketika hukum yang dibuat manusia mandul.”

Sumidjan tak membalas SMS saya. Mungkin ia kecewa, marah atau jengkel… karena saya yang dianggap sebagai sahabatnya tak bisa memberikan solusi apa-apa kepada dirinya. Maafkan saya Sam… Saya hanya manusia biasa. Upaya kalian dalam membongkar kasus-kasus korupsi di Bontang, termasuk tetesan keringat yang kalian torehkan di Bumi Etam, saya yakin akan direkam dan didengar oleh seisi perut bumi.

Keadilan akan datang…! Keadilan pasti dan benar akan terjadi, terutama kepada makhluk-makhluk yang selama ini mementingan perutnya sendiri dan menghisap uang rakyat. Sam… percayalah…. Alam akan melaporkan semua penderitaan, semua tetesan air mata kalian kepada Sang Khalik, Sang Maha Kuasa, Sang Maha Melihat, Sang Maha Adil… Kalau sementara ini perjuangan kalian gagal, bukan berarti energi yang kalian keluarkan tak ada manfaatnya.

Saya hampir tak bisa berkata apa-apa ketika membaca SMS dari sahabat-sahabat kami di Bontang. Korupsi memang sudah merajalela di tanah Bontang. Bermeter-meter data yang didalami sahabat kami dan sudah disampaikan berkali-kali kepada KPK, Presiden, DPR, Kejaksaan Agung dan semua pejabat negeri ini… menguap alias tak direken sama sekali. Janji tingalan janji, apalagi Sumidjan adalah penjual es campur.

Saya tahu SAM, apa yang kalian perjuangkan adalah mencari kebenaran. Kebenaran kini tidak pernah kalian temukan… Kebenaran itu masih di awang-awang nan jauh disana. Akan tetapi saya yakin Sam, kebenaran abadi pasti akan datang dan kalian akan menjadi saksi di hadapan Tuhan ketika para koruptor sudah memasuki alam keabadian.. Kalian boleh protes dan harus bersedia memberikan kesaksian manakala para penilep uang rakyat itu diadili oleh hakim yang tak bisa disogok atau disuap dengan duit.

Sesen pun uang rakyat yang mereka embat, akan berbicara di hadapan Tuhan. Uang-uang kertas itu pasti akan memberikan kesaksian dan tak bisa disumpal mulutnya. selamat buat para koruptor, siap-siaplah kalian memasuki alam kefanaan. kepada Sumidjan, koncoku, bersabarlah… Sabar, merupakan kunci keselamatan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, ketamakan, keserakahan, kesewenang-wenangan merupakan kunci pembuka pintu neraka… Entah sudah berapa kali pintu neraka itu terketuk akibat perilaku mereka? (achmad subechi)

Comments (2)

 

  1. Hengki says:

    wah puji TUHAN sekali ada seorang pahlawan yang bangkit bagi INDONESIA di tengah keterpurukkannya…. kita butuh lebih lagi, aku bersedia ketika aku sudah siap, karena aku sekarang sedang kuliah di luar negeri… BANG SUMIDJAN, bersandarlah terus kepada TUHAN dan berseru terus dengan tak henti2nya…DIA yang maha kuasa dan ALLAH yang hidup pasti sudah lama tidak tinggal diam.. terus berjuang dalam IMAN DAN PERBUATAN, amen.

  2. BECHI says:

    Amin… amin… Terima kasih Mas Hengki. Nanti aku sampaikan spiritnya kepada Sumidjan. Kemarin dia dapat award dari Meneg PAN dan Tiga Pilar Kemitraan sebagai penggiat anti korupsi. Kapan nih, ikutan membereskan negeri ini? Saya doakan cepat lulus ya…

    Mas Bechi (www.kompas.com)

Leave a Reply