Biji Sawi

Thursday, 27-9-2007 | 15:38 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

SEBUTIR BIJI SAWI

USIA ibu saya sudah cukup renta, sekitar 79 tahun. Beliau tinggal di sebuah kampung –gang tikus– di Surabaya. Nama kampungnya Bronggalan Sawah. Dulu, sekitar tahun 1970 an, kali pertama tinggal di kampung itu.. ehmm… rasanya amat tidak betah. Bayangkan, rumah yang kami tempati tidak ada aliran listriknya dan berada di tengah-tengah hamparan sawah yang cukup luas, tanpa ada tetangga kanan kiri.

DI ATAS tanah berukuran 7 X 8 meter, dibangunlah rumah bambu. Tanah itu milik kakak saya. Ia bisa membeli tanah setelah empat tahun bekerja di sebuah BUMN. Harganya kalau tidak salah sekitar Rp 250.000. Ibu sangat bergembira sekali ketika kakak memberitahukan bahwa dia telah membelikan sebidang tanah buat keluarganya. Beberapa bulan kemudian, melalui uang tabungan yang ibu kumpulkan, akhirnya kami membeli sebuah rumah gubuk reyot terbuat dari bambu. Zaman dulu, rumah bambu bisa digotong kesana kemari, tanpa mengeluarkan ongkos angkut –bergotong royong dengan tetangga.

Setelah tiang-tiangnya dipancangkan, barulah kami semua mengangkat genteng, menyusuri pematang sawah di tengah teriknya matahari. Saya masih terkenang ketika melihat ibu mengangkat genteng yang diletakkan di atas kepalanya dengan keringat yang berkucuran. Rumah bambu kami tanpa disekat. Di sanalah kami tinggal bertahun-tahun. Pekerjaan saya kalau sore hari adalah membersihkan lampu templek dengan menggunakan kain gombal, termasuk mengisinya dengan minyak tanah.

Di rumah itulah kami belajar menikmati dan merasakan bagaimana sedihnya menjadi orang tidak mampu. Kadang sehari makan, kadang tidak. Setiap siang, saya mendapat tugas membeli singkong buat sarapan pagi. Biasanya, seusai makan singkong, perut saya isi dengan dua gelas air supaya singkong itu mekar di dalam perut kami.

Sebagai orang Minang, ibu saya selalu meminta kepada kami agar menjaga harga diri, berlaku jujur dan apa adanya. “Lebih baik mati berkalang tanah daripada membuat malu keluarga,” pesan ibu. Meski kami miskin, ibu selalu melarang untuk mencari duit sendiri hanya sekedar menutupi kebutuhan ekonomi keluarga. ”Tugas kamu adalah belajar dan belajar. Jadilah orang pintar.”

Pernah suatu hari, uang pensiun ayah terlambat. Anak-anak sudah pada kelaparan. Jangankan menjual barang yang ada di rumah, untuk membeli minyak tanah saja tidak ada. Terpaksa, kayu kursi di rumah dijadikan bahan bakar.

Setelah nasi tertanak, kami kebingungan mencari lauknya. Saya lalu diperintahkan mencari kangkung di sawah. Kankung-kangkung liar itu kemudian dimasak. Lalu ibu membikinkan sambal, lengkap dengan nasi yang masih hangat yang baru keluar dari dalam periuk. Ehmm…. Sedap…!

Kini ibu saya terbaring sakit. Ia terkena deman berdarah dan menjalani rawat inap di Surabaya. Kakak saya kemarin memberitahukan info itu melalui telepon. “Adikmu itu bagaimana… Masak ibu dimasukan ke rumah sakit yang biaya seharinya Rp 250.000. Belum lagi biaya obatnya… Saya tadinya mau marah sama adik, tapi karena dia keburu menangis… maka kemarahan saya tunda…” kata kakak.

Mendengar cerita itu, saya hanya bisa mengelus dada. Seandainya saya memiliki uang segudang di bank, tentu saya akan terbang detik itu juga ke Surabaya. Kalau toh naik kereta, tentu biayanya juga lumayan. Lebih baik saya kirim uang daripada datang menjenguk ibu. “Okey… enggak usah disesali… Besok saya kirim uang seadanya,” tutur saya kepada kakak.

Malam tadi kesehatannya sudah mulai membaik. Kata Kakak, dokter masih belum boleh mengizinkan pulang. Saya hanya bisa berdoa dari jauh semoga Allah memberikan usia panjang, kembali sehat wal afiat dan ditenangkan pikirannya di usia senjanya serta dijauhkan dari musibah. Amien… Kepada saudara-saudaraku, jagalah ibu dengan ketulusan dan keikhlasan. Bukan dengan ketidakridhoan… Sayangi ibu dengan setulus-tulusnya, karena ia telah melahirkan dan mendidik kami…. Terima kasih ibu… perjuanganmu akan selalu saya kenang dan maafkan saya karena belum bisa membalas dengan sebutir biji sawi pun… (achmad subechi)

Leave a Reply