Serigala

Friday, 28-9-2007 | 15:18 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

SERIGALA

SEBENTAR lagi semua umat Islam di seantero dunia akan saling bermaaf-maafan, melalui moment tahunan hari raya Idul Fitri 1428 H. Bermaaf-amaafan tak hanya dilakukan secara fisik, melainkan harus benar-benar tulus, ikhlas yang lahir dari lubuk hati manusia paling dalam –kalbu.

MAKNANYA ke depan, mari kita semua saling melakukan introspeksi diri, berusaha mengeliminir kelemahan dan kekurangan kita sebagai makhluk Allah SWT paling sempurna, karena diberi senjata berupa akal. Dengan demikian, hubungan kita dengan Tuhan semakin tebal ––tingkat keimanannya.
Begitu juga hubungan kita dengan manusia lainnya, akan terjalin erat tanpa membedakan warna kulit, status dan ideologi.

Kita semua adalah sama, sama-sama makhluk Tuhan yang diberi akal untuk memperpanjang usia di dunia ini, berkreasi, melahirkan temuan-temuan baru untuk kepentingan manusia. Sesungguhnya manusia lahir ke planet bumi ini melalui sebuah proses yang panjang dan berliku-liku. Manusia tidak ujuk-ujuk menempati planet ini, tanpa adanya campur tangan Tuhan. Semuanya sudah diatur sedemikian rupa, baik sistem maupun tujuannya. Jujur saja, proses itu kadang kala kita ingkari atau bahkan sengaja tidak pernah kita renungkan karena kita terlena pada kehidupan duniawi.
Akibatnya, kita sudah menyaksikan bagaimana dampaknya ketika nalar dan empati tak lagi berjalan dengan sempurna, karena memang kita tidak mau menggunakan dua kekuatan itu untuk orang lain. Kita terjebak pada ego, kita terjebak pada rutinitas, kita terjebak pada permainan dunia yang ternyata hanyalah impian semu belaka (sesaat).
Implikasi nyata dan sudah kita rasakan selama ini adalah ketidakharmonisan (hubungan) antara manusia yang satu dengan yang lain. Rasa cinta kasih seakan hanya sebagai jargon dan lama-lama raib ditelan bumi. Sebaliknya yang ada hanyalah kepentingan sesaat, kepentingan sempit tanpa ada maknanya yang tersisa.
Selanjutnya watak manusia berubah menjadi serigala dan menempatkan diri sebagai raja di lingkungan mana pun serta cenderung meminta diladeni, disanjung, dielukan dan dihormati ole manusia lainnya. Ketika berbagai keinginan-keinginan itu tak kesampaian, maka serigala siap mengaum dan menerkam. Ia melahap siapa saja yang dianggap tak patuh dan taat pada titah sang raja.
Lalu… antar mereka saling berkelahi, berjibaku, berhantaman, bahkan dengan tegas berani memutuskan tali silahturrahim dengan orang lain dan sanak familinya hanya karena mempetahankan vested interest. Vested interest lahir akibat sempit dan pendeknya akal manusia. Seakan-akan dunia ini akan selamanya ada dan umur mereka (manusia) bisa bertahan hingga 1000 tahun. Sebuah kemuskhilan.
Karena itu kepentingan untuk menjaga ‘kursi’ empuknya dan mepertahankan jabatan, dilakukan dengan berbagai macam cara. Main sikut-sikutan, pembunuhan kharakter sudah lazim di era yang kini sedang mengalami dekadensi moral. Orang sah-sah saja menikam manusia lainnya.
Mereka lalai dan lalai bahwa sesungguhnya di era atau abad informasi seperti ini, tidak ada jabatan yang bisa bertahan cukup lama akibat tuntutan zaman. Tatangan ke depan semakin berat. Hanya mereka yang memiliki modal intelektual yang mampu menjawab tantangan (perubahan).
Kemapanan yang selama ini mereka rasakan, akan lenyap hanya dalam waktu sesaat manakala mereka tidak mampu menjawab datangya sebuah fenomena baru yaitu abad informasi serba digital. Kepentingan pribadi manusia itu tidak akan menonjol kalau mereka mampu menekan hawa nafsunya dan tidak berorientasi sempit atau sesaat dalam menghadapi kehidupan ini.
Perjalanan manusia masih panjang dan teramat panjang paska tinggal di planet bumi. Jasad boleh mati, hancur karena berjuta-juta tahun terkubur di dalam tanah. Tetapi, percayalah Tuhan akan membangkitan kita semua pada saatnya nanti.
Kita akan tertegun manakala jasad-jasad itu saling tidak mengenal antara satu dengan lainnya manakala Tuhan menghidupkan mereka kembali sebelum menuju hari pengadilan. Apa yang saya sampaikan ini bukan untuk menakut-nakuti atau membuat skeptis manusia. Saya percaya –sesuai dengan akidah yang saya miliki— apa-apa yang dikatakan Tuhan adalah benar dan pasti.
Lalu kenapa hati kita yang asal muasalnya teramat bersih ketika kali pertama keluar dari rahim seorang ibu, tiba-tiba terkontaminasi oleh nafsu-nafsu dan pikiran kotor dan endingnya melahirkan permusuhan antar sesama? Kenapa kita tak bisa melindungi bahkan membentengi hati kita dari kuasa gelap? Kenapa kita mau diintervensi? Kenapa kita bersedia mengikuti irama pemainan mereka?
Marilah di bulan Rmadhan yang penuh rachat dan nikmat ini, kita telantarkan dan kita buang nafsu-nafsu kotor itu jauh-jauh dari hati dan jiwa kita dengan harapan di hari Raya Idul Fitri nanti kita semua kembali menjadi suci dan bersih, seperti ketika kali pertama lahir ke bumi.
Sebagai manusia, kita semua penuh kekurangan dan kelemahan. Tapi percayalah, ketika niat yang ikhlas dan tulus untuk kembali menjadi manusia sempurna sudah terpatri di dalam jiwa, maka Allah Sang Maha Suci akan meridhoi apa yang kita lakukan apapun bentuknya. Kapan kita harus berubah dan berubah serta tidak menunggu jarum jam berhenti dengan sendirinya? (achmad subechi)

Leave a Reply