SJ 2

Sunday, 30-9-2007 | 9:29 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

———————–
SEpanJAnG JaLan

alamaakkkkkkkk…..

ANGKUTAN darat yang namanya kereta api ini selain murah meriah, ternyata masih diminati masyarakat. Tak peduli mereka yang berkantong tebal. Suatu hari Tono berniat pulang ke Jawa. Persoalannya ia kehabisan tiket kereta api kelas eksekutif.

Begitu melihat lokomotif yang hendak membawa penumpang menuju ke Surabaya tiba di stasiun Gambir, Tono –sang penumpang gelap– bersiap-siap naik. Kali ini ia tahu diri. Karena tak punya karcis, ia sengaja duduk di restorasi. Di tempat ini ada empat pria yang bernasib sama –penumpang gelap. Mereka pura-pura ngopi, sementara para kondektur sudah paham dengan sandi cincai-cincai. ”Tenang… Nanti kalau keretanya sudah jalan, kalian saya carikan kursi ya…” kata sang kondektur.

Kereta terus melaju dengan cepat. Malam mulai larut. Uang sogokan sudah ditempelkan ke tangan kondektur… ehmm lumayan besar. Maklum, kelas eksekutif, bukan kereta kelas ecek-ecek… Pak Kondektur senyam-senyum tanda sama-sama tahu.

Dua jam kemudian sang kondektur mendatangi mereka. ”Nih… nomer tempat duduk kalian,” katanya sambil menyerahkan secarik kertas bekas bungkus rokok yang di dalamnya terdapat tulisan tangan nomor bangku (kursi) dari Pak Kondektur.

Bak pahlawan kesiangan, Tono lalu bangkit dari duduknya. Ia mengajak keeempat priapenumpang gelap segera mencari tempat duduknya masing-masing. ”Bapak duduk di sini… Kamu juga… Sedangkan kamu? Ikut saya… Kursinya ada di bagian ujung belakang…” kata Tono.

Setelah mengantarkan teman seperjalanan ke kursinya masing-masing, kini giliran Tono mencari kursinya sendiri. ”Ancriiit…. No 12 A… ternyata sudah ada orangnya.” Ia lari ke depan mencari Pak Kondektur. ”Pak… kursi kepunyaan saya kok sudah ditempati orang?” protesnya.

Pak kondektur garuk-garuk kepala. ”Wah… Kalau sudah penuh ya mau apalagi… Silakan duduk di bordas saja…” sahut kondektur dengan enteng. ”Huah? Bordas….” Tono pun pecicilan duduk sendirian di bordas berbantal tas. Sesekali ia terbangun, lalu mendatangi empat penumpang gelap yang telah ia bantu. Tapi, keempat rekan barunya itu ogah diajak duduk di bordas…….. Alamaakkkkkkkk….. (achmad subechi)

Leave a Reply