Dikira Sudah Meninggal…
Tuesday, 9-10-2007 | 14:15 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan
Chijmes Pusat Entertain Singapura
Dikira Sudah Meninggal…
DI TENGAH lamunan itu saya teringat seorang teman baru yang sama-sama menginap di hotel. Ia mengatakan, “Jika cari tempat hiburan enggak usah jauh-jauh. Datang saja ke pusat entertain Chijmes. Di
Seketika itu juga saya ajak Sigit Setiono, Redaktur Pelaksana Warta Kota dan beberapa teman lainnya. Kami lalu menyeberangi jalan di depan hotel yang mulai sepi dari kendaraan roda empat. Kali pertama memasuki areal itu, kami agak sedikit kaget. Mengapa? Ternyata tempat itu merupakan sebuah gereja. “Ngawur saja… Ini gereja, bukan restoran,” kataku.
Seorang rekan bertanya pada beberapa pria yang berdiri di sekitar gereja. Pria itu memberitahukan kalau hendak ke Chijmes, letaknya ada di belakang gereja. Kami serentak melangkahkah kaki ke
“Ayo kita duduk disitu saja…” kata seorang rekan sambil menunjuk sebuah tempat yang cukup nyaman. Namanya Pizzeria Giardio. Tempat itu menyerupai café yang cukup elit. Di halaman depannya ada beberapa pohon besar. Di bawahnya tertata meja dan kursi buat pengunjung. Kalau malam hari, hamper semua pohon dihiasi dengan warna-warni lampu, mulai dari batangnya hingga ranting-rantingnya.
Waktu hanya ada tiga bule wanita yang asyik mengobrol sambil minum kopi. Sementara di sudut sebelah timur saya melihat sepasang kekasih sedang beroman-romanan di tempat terbuka. Kami semua melonggo melihat ulah mereka. Tapi itulah
Kami kembali duduk di kursi Pizzeria. Sambil menunggu kopi, kami ngobrol kesana-kemari. Mulai dari keelokan pemerintah Singapura dalam menata
Sekilas saya menangkap kesan bahwa lokasi di sekitar gereja awalnya merupakan sebuah chapel. Sebab, di kanan kirinya terlihat bangunan mirip asrama. Setelah kami cek ternyata benar. Nama gereja itu adalah Convent of the Holy Infant Jesus (CHICJ) Chapel and Calwell House, didirikan tanggal 18 Agustus 1852 atas pesanan pendeta JM Beurell. Kemudian komplek chapel ini dibangun antara tahun 1855-1892 dengan
***
TANPA terasa waktu menunjukkan pukul 02.00 dinihari. Kami semua melangkahkan kaki menuju ke hotel. Di lobi hotel kita semua berembuk soak makan sahur. Kami bertanya kepada petugas hotel apakah nanti pada makan sahur akan disediakan makanan di restoran. Petugas hotel menjawab bahwa tidak ada persiapan khusus untuk itu. “Kecuali kalau Anda habis bersantap sahur, lalu mau minum jus atau apa di restoran, kami masih menyediakan.”
Hasil kesepakatan antara kami, sahur akan dilakukan di luar. Artinya, kami harus mencari sendiri. Kebetulan di belakang hotel ada sejumlah café yang buka 24 jam. Jadi, tepat pukul 03.00 kami semua akan saling mengontak.
Di dalam kamar saya tidak bisa tidur. Pikir saya, kalau saya tinggal bobok, pasti kelewatan. Hingga pukul 03.30, rupanya tidak ada satupun teman-teman yang membangunkan saya. Panik… Saya lalu teringat nasi kotak yang diberikan pramugari di dalam pesawat. Nasi itu masih tersimpan di dalam tas saya. Setelah saya buka dan saya cium-cium, ternyata tidak basi. Ah… asyik… Gue akhirnya jadi makan. Baru sekitar pukul 04.30 saya terlelap.
Sekitar pukul 12.00, pintu kamar saya didobrak-dobrak oleh Sigit –wartawan Warta Kota. Ia teriak-teriak dengan kerasnya. Saya terbangun, lalu pintu saya buka. “Ayo cepat… teman-teman semua sudah menunggu di lobi. Pesawat kita dimajukan dari pukul 20.00 menjadi pukul 14.00,” katanya. Hah… segera saya mandi lalu bergegas turun ke bawah. Semua teman pada meledak. “Kemana saja semalam? Pasti ke Geylang sendiri… ya…” Saya hanya senyum saja. Seorang lainnya nyeletuk, “Kami semua tadi sudah hamper telepon ambulan. Kirain Mas Bec sudah meninggal.. Kami telepon enggak diangkat, diketok-ketok juga diammm.”
“Lho ka nada kunci serep di hotel?” kataku. “Hus… di Singapura berbeda dengan di
Di Bandara kami sempat berbelanja. Sesuai keinginan istri saya, dia minta dibelikan parfum. Saya beli beberapa kotak. Harganya lumayan selangit. Setelah itu saya melangkahkan kaki ke D 30, tempat kami boarding. Nah, pada saat saya berada di ruang tunggu, dari balik kaca ada seorang wanita. Usianya masih muda. Ia memanggil-manggil nama saya. Saya kaget, karena merasa tidak kenal. Wanita itu kemudian meinta izin kepada petugas Imigrasi Singapura agar saya diizinkan keluar sebentar sambil membawa satu kantong plastic berisi parfum.
Ketika saya temui, wanita itu segera mengajak saya datang ke tokonya kembali. “Ayo cepat… kita lari saja… Nanti terlambat” teriaknya. Saya agak binggung, ada apa? Saya sudah berpikir yang tidak-tidak. Begitu juga teman-teman saya yang sudah di ruang tunggu. Pikir saya, parfum-parfum yang saya beli tadi tidak boleh dibawa keluar dari Singapura. Apalagi ada peraturan baru di bandara bahwa penumpang dilarang membawa parfum, kecuali kalau dibungkus tas plastic yang dilem dan ada bonnya. Banyak penumpang dari luar negeri yang membawa oleh-oleh parfum, terpaksa dicampakan di tong sampah. Begitu juga kepada calon penumpang yang hendak keluar dari Singapurea, dilarang membeli parfum di luar bandara. Kalau Anda nekat, pasti tempat sampah akan menyapa barang bawaan Anda yang cukup mahal harganya.
“Tadi Anda membeli parfum ini
Sesampainya di counter, wanita itu mendatani seorang kasir. Ia marah-marah kepada sang kasir. ”Kenapa dia tidak kamu kasih diskon? Kembalikan uangnya segera. Cepat.. dia nanti bisa ketinggalan pesawat,” ungkapnya.
Sang kasir mengambil kalkulator. Ia menghitung-hitung kembali barang belanjaan kami. Saya lalu diberi uang sebesar 25 dolar. Setelah saya terima, wanita yang menjemput saya ikut kembali mengantarkan saya ke ruang tunggu sambil meminta maaf berkali-kali. Saya lalu berhenti berjalan. Wanita itu menatap saya. “Sudahlah… uang ini Anda ambil saja.” “Oh.. tidak.. Maaf… Kami tidak pernah diajarkan untuk menerima pemberian orang lain seperti ini,” tuturnya. Wajah saya mendadak memerah. Saya malu, betapa harga diri begitu dijunjung dan dihormati. “You married?” “Saya belum menikah. Saya lagi mengumpulkan uang. Siapa tahu ada rezeki dan jodoh,” kata wanita berkulit kuning, smart dan ehmmm… mana tahan… (achmad subechi)













