Sarang Tawon

Tuesday, 23-10-2007 | 11:10 WIB | 1 Komentar | Kategori: Gagasan

PEMBUAT SARANG TAWON

PAGI-pagi sekali ketika saya hendak berangkat kerja, di depan rumah terlihat kerumunan orang. Mereka adalah ibu-ibu ibu dan bapak-bapak tetangga saya. Saya kuping pembicaraannya dari balik pintu jendela. Seru dan teramat seru….! “Kan kompor ini pemberian pemerintah. Mestinya semua orang dapat kompor gas dan tabungnya. Kayak di RT sebelah, semua warga disini dapat tanpa membedakan miskin dan kaya,” teriak seorang bapak, menjelaskan kepada ibu-ibu.

“SETUJU Pak…! Toh yang membelikan pemerintah,” sahut seorang wanita menimpali pembicaraan. Seorang wanita berbadan tambun protes keras. “Saya tidak setuju. Kompor gas ini khusus buat orang miskin seperti saya. Masak kemarin saya minta ke Pak RT tidak diberi. Sedangkan orang kaya seperti Bu… (sambil menyebut nama) malah dapat tiga. Anak-anaknya juga dapat? Nggak adil itu namanya Pak.”

Perbedaan pendapat semakin tajam. Dasar orang kampung, kalau bicara tentu tak pakai ukuran. Volumenya keras dan teramat keras, apalagi pakai ngotot-ngototan. Saya lalu keluar rumah sambil mengeluarkan sepeda motor. Saya coba nimbrung sebentar. Mereka semua pada tanya ke saya bagaimana solusinya. Saya katakan, mestinya sebelum kompor gas itu dibagi, Pak RT melakukan survei kecil-kecilan. Setelah itu barulah dibuat woro-woro atau penjelasan tertulisnya. Termasuk criteria siapa saja yang dapat dan ukurannya apa? Bukan sekedar punya kompor gas atau tidak. Sebab, ada juga ibu-ibu yang tidak suka menggunakan kompor gas.

Seorang tetangga depan rumah saya tanya, “Apakah kamu dapat?” “Saya sengaja tidak mau Pak walaupun saya tiak punya kompor gas.” Kenapa? “Masih ada orang lain yang membutuhkannya disbanding keluarga saya.” Elok tenan… tetangga saya ini. Walau tidak mampu, ia masih saja memberikan kesempatan kepada orang lain yang status sosialnya lebih memprihatinkan.

Meski sudah saya jelaskan, namun mereka tetap saja ngotot. Saya sedikit jengkel lalu terpaksa angkat bicara lagi. “Itulah kesewenang-wenangan. Pak RT itu kan penguasa. Bajunya apa? Ya RT. Bayangkan, penguasa di level bawah saja sudah seperti itu. Ketika diberi amanah oleh pemerintah, tidak bisa mempertanggung jawabkannya. Apalagi, pejabat level atas,” kata saya.

Kekuasaan adalah sarang madu. Di situlah manisnya madu bisa dirasakan. Semua orang berebut mencari dan berusaha menikmati madu itu. Sama seperti yang terjadi di Komisi Pemilihan Umum (KPU) saat ini. Ada tujuh kursi yang sudah diperebutkan. Satu diantaranya terpaksa dikosongkan karena sang anggota terbentur dugaan korupsi.

“Presiden menerima 7 nama yang diajukan dan meresmikan enam nama yang diajukan, kecuali dalam hal ini Syamsul Bahri. Syamsul Bahri selanjutnya dipersilakan menyelesaikan masalah-masalah pribadinya,” kata Mendagri Mardiyanto dalam jumpa pers sebelum peresmian anggota KPU di kantor presiden, Jakarta, Selasa (23/10).

Istri-istri para pejabat KPU sejak kemarin sudah menginap di sebuah hotel. Wajahnya sumringah karena sang suami hari ini dilantik secara resmi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Senyum ditebar kesana-kemari, tanda kegirangan. Itu fakta hari ini.

Esok… mungkin saja, senyum itu jadi tangisan manakala sang suami tak mampu mengemban amanat bukan karena tugas yang diembannya cukup berat, melainkan karena kekerdilan jiwa atau moral mereka manakala sang pembuat sarang tawon (calon-calo tender dan pengusaha) sudah berdatangan.

Bisa jadi nasib mereka seperti Mulyana dan anggota KPU lainnya. Kuatkah iman mereka? Saya hanya bisa berharap agar mereka mampu mengendalikan keimanannya, sebelum keimanan itu lari dari tubuhnya akibat silau oleh berpeti-peti fulus yang notabene milik rakyat…. (achmad subechi)

Comments (1)

 

  1. Yudhista says:

    iya pak, sampeyan juga mlih diksi yg tepat ngelukiskan mereka: “tawon”, bukannya “lebah”.

    Lebah siy, banyak madu dan manfaatnya. kalo tawon tuh lebih gede tapi menakutkan dan lebih tidak bermanfaat, hehehe

Leave a Reply