UMUR IBU TAK LAMA LAGI
Thursday, 25-10-2007 | 8:42 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan
UMUR IBU TAK LAMA LAGI
KETIKA Lebaran kemarin, saya sempat mendatangi makam ayah saya di TMP Mayjen Soengkono, Surabaya. Ibu kandung saya yang sudah tua renta saya ajak. Raut wajahnya terlihat ceria. Maklum, sudah hampir 13 tahun ibu saya menjanda. Itu artinya ia hidup sendiri.
SELAMA dalam perjalanan, ibu tidak bercerita banyak baik mengenai masa lalunya dengan almarhum maupun pengalaman hidupnya setelah ditinggal pergi suaminya untuk selamanya. Saya hanya mengangguk-angguk ketika ibu memberi nasihat kepada saya supaya hidup berhemat.
“Jangan boros… Masak setiap kali gajian uang ditebar kesana-kemari dibagi-bagikan kepada siapa saja…. Seandainya tidak begitu, mungkin kamu sudah kaya.. Berhematlah… Hidup tambah susah Nak..”
Ditengah obrolan itu, hati saya tiba-tiba mak deg… Ibu sedikit berpesan, “Umur Ibu sudah tidak lama lagi… Tinggal menunggu waktu…” Saya terdiam seribu basah. Sejenak kemudian, saya tersenyum. Tersenyum tahu diri bahwa kehidupan manusia itu ada batasnya. Tidak mungkin orang akan hidup selamanya. Pesta (kehidupan) pasti akan berakhir. Siapapun dia, baik jenderal, presiden, gubernur, gelandangan, tukang copet dan lain-lainnya.
Mereka akan ditelan masa dan akan berteman dengan tanah. Kecuali, bagi orang-orang yang mau berpikir dan telah menemukan hakekat dari kehidupan ini. Ia tidak akan masuk ke dalam katagori manusia-manusia yang merugi. Akibat ketumpulan atau pendeknya akal manusia, mereka cenderung mengambil jalan pintas.
Masih di TMP Mayjen Soengkono. Ibu berjalan tertatih-tatih. Ia lalu duduk di pusara ayah. Mulutnya komat-kamit bersama anak-anakku. Selanjutnya ibu menebar bunga sebagai tanda rasa cintanya kepada ayah. Ia kemudian menyuruhku duduk di pusara dan bergantian memanjatkan doa.
Di depan pusara ayah, saya merenung sejenak. Menginggat masa lalu nan penuh dengan perjuangan, bagaimana sulitnya menghadapi hidup ketika itu. Meski ayah seorang tentara, tapi ia bukanlah tentara yang korup. Sebaliknya, di mata kami, ayah adalah tipe tentara pejuang yang selalu berempati kepada rakyat kecil.
Sepanjang berpuluh-uluh tahun hidup bersama ayah, kami tak pernah diajarkan menjadi manusia yang serakah, gila harta, jahat kepada orang lain serta penipu. Ayah lebih mengajakan kepada kami agar anak-anaknya selalu dan selalu setia kepada Tuhannya. Percikan air sumur dari ayah yang setiap hari jatuh di muka saya sebagai tanda saya harus segera bangun menjalankan shalat Subuh, menjadi kenangan tak terlupakan. Terima kasih ayah…
Kini aku panjatkan doa yang biasa dibawakan Imam Ali Husein –cucu Baginda Rasulullah—yang tertuang dalam buku Syahifah as-Sajjadiyah. Doanya kira-kira begini:
Ya Allah….
Rendahkanlah suaraku bagi mereka (ayahku)
Perindahlah ucapanku di depan mereka
Lunakkanlah watakku terhadap mereka dan
Lembutkanlah hatiku untuk mereka
Ya Allah…
Berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya
Atas didikan mereka padaku dan pahala yang besar
Atas kesayangan yang mereka limpahkan padaku
Peliharalah mereka… sebagaimana mereka memeliharaku
Ya Allah….
Apa saja gangguan yang telah mereka rasakan
atau kesusahan yang mereka derita karena aku
atau hilangnya sesuatu hak mereka karena perbuatanku
jadikanlah itu semua penyebab rontoknya dosa-dosa mereka
Meningginya kedudukan mereka dan bertambahnya pahala
kebaikan mereka dengan perkenan-Mu
Ya Allah…
Hanya Engkaulah yang berhak membalas kejahatan
dengan kebaikan berlipat ganda. Bila magfirah-Mu telah
mencapai mereka sebelumku
Izinkanlah mereka memberi syafa’at untukku
Tetapi jika magfirah-Mu lebih dahulu mencapai diriku
Maka izinkahlah aku memberi syafa’at untuk mereka
Sehingga kami semua berkumpul bersama dengan santunan-Mu
di tempat kediaman yang dinaungi kemulian-Mu, ampunan-Mu serta
rahmat-Mu
Sesungguhnya Engkaulah yang memiliki Karunia Maha Agung
serta anugerah yang tak berakhir dan Engkaulah
yang Maha Pengasih diantara semua pengasih…
Jakarta 25.10.2007
Achmad Subechi














