Revisi Ide

Thursday, 25-10-2007 | 7:44 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

revisi ide

“Dalam keadaan seperti ini pilihannya hanya dua: mati atau hidup! Nah kalau mau pilih mati, jadilah manusia penikmat. Kalau memilih yang kedua, konsekuensinya adalah pengorbanan”

REKAN saya yang satu ini kini menduduki pos cukup penting di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Beberapa hari lalu saya bertemu dengan dia di sebuah tempat, ngobrol kesana-kemari tentang perkembangan dunia usaha di tanah air.

Kata dia, persaingan antar perusahaan saat ini semakin ketat. “Kalau kita diam, pasti lewat. Mengapa? Orang lain larinya kencang-kencang dengan tenaga power full. Nah, kalau kita diam… kagak mungkin kita bisa mengejar mereka. Ibarat balapan mobil, mungkin kita sudah ketinggalan sekian lap (putaran).”

Saya sempat merinding mendengar pernyataan itu, meski sebenarnya saya juga tahu bahwa persaingan di luar semakin keras. Kali ini saya benar-benar terkesima. Akal sehat saya mulai menggelitik hati kecil saya untuk terus berpikir-dan berpikir.

Mengapa? Tidak hanya sekedar informasi terbaru atau terkini yang saya dapatkan dari dia, tetapi saya menangkap pesan bahwa apa yang disampaikan itu sangat jeru (dalam) –penuh dengan makna dan spirit.

Dalam keadaan seperti ini pilihannya hanya dua: mati atau hidup! Nah kalau mau pilih mati, jadilah manusia penikmat. Nikmati hidup ini senikmat-nikmatnya, lalu tanpa terasa tubuh tergerogoti usia lalu digotong manusia lain menuju ke pintu kubur.

Kalau memilih yang kedua, konsekuensinya adalah pengorbanan. Pengorbanan tidak hanya diasumsikan sebagai kerja keras saja (banting tulang), tetapi lebih dalam lagi dapat diartikan memberikan sesuatu yang terbaik kepada semuanya.

Memberikan yang tebaik (berprestasi untuk meraih titik sasaran yang sudah ditentukan) membutuhkan energi yang luar biasa besarnya. Energi tersedot akibat akal atau pikiran kita aktifkan untuk melahirkan ide-ide brilian (inovasi). Ibarat mesin mobil, akal dipacu semaksimal mungkin.

Manakala akal sudah terkoneksi dengan hati (keyakikan terhadap keberhasilan), maka semuanya akan menjadi kepastian (keberhasilan). Kepastian itulah yang selalu ditunggu-tunggu manusia. Banyak manusia di dunia ini terjebak kepada ketidakpastian atau keraguan-raguan dalam menghadapi hidup. Akibatnya, apa yang ia impikan atau ia cita-citakan tak akan pernah berhasil diraih karena memang dari awal tidak ada spirit positif yang berhasil mereka bangun. Hawanya selalu pesismistis, tak percaya diri dan tidak yakin terhadap apa yang ingin mereka raih. Celakanya lagi, nilai-nilai spirit yang semula ia bangun dengan susah payah untuk mencapai titik keberhasilan, terkacaukan ole ide-ide segar lainnya.

Memang, ide-ide segar tiba-tiba saja datang masuk ke kepala manusia ketika manusia hendak bergerak menuju titik sasaran (mengimplementasikan ide awal yang sudah terencanakan). Biasanya, ide-ide segar yang baru lahir datang sebagai ‘penggoda’. Ia sengaja datang untuk menggoda keyakinan manusia.

Apakah manusia itu ter-influence terhadap ide-ide yang hendak diimplementasikan? Nah ketika daya tarik dari ide baru itu benar-benar kuat, maka keyakinan manusia akan terguncang lalu melahirkan apa yang dinamakan merevisi ide.

Merevisi ide adalah bagian dari kegagalan manusia, karena ia tak akan pernah bisa mengimplementasikan ide-ide awalnya yang sebenarnya kalau diimplementasikan akan membawa manusia pada titik keberhasilan. Diam atau Bangkit……? Terserah kita… (achmad subechi)


Leave a Reply