Sunday, 11-11-2007 | 8:50 WIB | 1 Komentar | Kategori: Gagasan
merintis usaha nasi pecel (3)
Mantap Pak… Bumbunya Pas…
SATU langkah membuat bumbu pecel sudah beres. Kini giliran membikin tahu Bali. Bagi saya, memasak merupakan hobi saya sejak kecil. Karena itu, ibu kandung saya tidak pernah repot-repot menyiapkan makanan buat saya. Yang penting ada berbagai macam bumbu di dapur dan telor atau tahu, semuanya pasti beres saya olah. Apa karena itu, istri saya jarang masak atau meladeni saya? Huaha… ha… ha… ha…..
TAHU Bali sudah selesai kumasak. Kini giliran membuat serundeng. Gimana nih caranya? Lagi-lagi aku tanya ke istri. Kata istriku seumur-umur ia baru sekali membuat serundeng. Itupun membuka buku resep. Wauw… celaka nih. Padahal saya sudah membeli dua buah kelapa yang sudah terparut berikut daging sapi.
Okey… “Kita coba eksperimen Bu (Abu).” Abu hanya senyam-senyum. Daging kupotong kecil-kecil. Bawang merah dan bawang putih aku blender dengan gula merah plus garam. Setelah itu semua bumbu kudidihkan di atas wajan bersama dagingnya. Setelah mendidih kelapa parut saya masukan. Saya aduk-aduk. Sejam kemudian, wow… aroma serundeng menyeruak. Ternyata…. enak juga ya.
Setelah semuanya beres, Abu kusuruh membeli daun pisang ke pasar buat pincuknya. “Wah… enggak usah beli Pak. Almarhum Bapak saya kan punya beberapa tanaman pisang di kebon tepi sungai,” kata Abu. “Okey silakan diambil. Agak banyak ya…” pesanku.
Setelah daun pisang terkumpul dan semua makanan sudah jadi berikut lalapan daun kemangi serta mentimun, Abu tiba-tiba bercerita kalau malam ini enggak bisa jualan. Alamaaakkk… Kenapa? “Anu Pak… di depan pos kebetulan ada warga yang sedang mengadakan acara karena mau berangkat haji.” “Trus….?” “Jadi jualannya besok saja.”
Mendenghar kabar itu saya tidak marah, tapi agak ngempet. “Okey begini saja… Untuk latihannya malam ini juga kamu jualan di depan rumah saya.” Abu setuju, tapi jualan dibuka setelah shalat Maghrib. Anak-anakku aku kerahkan menghubungi rekan-rekannya agar diajak ke rumah, biar kesannya ramai untuk menyedot pengunjung.
Ketika rencana sudah matang, astaga… hujan turun dengan lebatnya. Sementara nasi pecel sudah siap dijual ke publik. Abu terlihat diam duduk di sudut teras sambil membuat pincuk dari daun pisang. Aku juga sudah mulai gelisah. Seorang tetanggaku sebelahku lewat di depan rumah. Ia tanya, ada apa di depan teras kok pakai lesehan segala. “Oh… saya jualan nasi pecel bos.” “Ah… kagak percaya…” “Serius nih….”
Tak lama kemudian, anak tetanggaku datang. Ia membeli sepincuk nasi pecel lengkap dengan dua potong tahu-tempe, serundeng dan kerupuk. Beberapa saat kemudian, tetanggaku yang lain juga datang. Ia juga membeli sepincuk. Usai melahap nasi pecel hasil eksperimen, tetanggaku nyeletuk. “Wah… mantap Pak. Bumbunya pas…” Abu dan saya tertawa cekikikan.
Malam semakin larut. Beberapa tetangga lainnya berdatangan. Mereka bahkan ada yang membawa mangkok hanya untuk membeli tahu balinya saja. Abu kebinggungan. “Dapat berapa potong nih Pak…” “Ya… suka-suka kamu saja…”
Pukul 21.00, arena penjualan pecel dadakan saya tutup. “Abu… besok pagi kamu sudah harus menjual nasi pecel di tempat yang kita rencanakan. Semua makanan yang saya masak tadi berikut alat-alat kamu bawa ke rumahmu. Bicarakan dengan ibumu, suruh beliau membantu…” Disaksikan hujan yang begitu lebat, Abu pulang ke rumahnya.
Minggu tadi pagi, Rizal, anakku saya tanya. “Apa Abu jadi jualan?” “Jadi Pa….” “Jam berapa kamu kesana?” “Jam 05.30. Semua pecelnya habis Pa…” Saya tidak percaya dengan pengakuan Rizal. “Tolong Abu kamu panggil kemari…” Kali ini Abu datang dengan senyuman. “Alhamdulillah Pak laris. Cuma ada yang mengritik. Kok pecel, sayur-mayurnya hanya kacang dan toge…” kata Abu. Mendengar pengakuan Abu, aku hanya tersenyum. “Oke… nanti sore kamu jualan lagi dan besok harus jualan terus. Kagak boleh berhenti….”
Lumayan. Ternyata Tuhan Maha Melihat. Tuhan Maha Segala-galanya. Buktinya, baru sekali buka usaha Abu sudah mampu merauh uang sebesar Rp 80.000. Jika nanti sore ia buka kembali dagangannya dan paling apes dapat Rp 20.000, berarti dalam sehari ia sudah mengantongi uang Rp 100.000. Jika Rp 100 ribu dikalikan 30 hari, perputaran uang yang masuk ke kantongnya Rp 3 juta per bulan. Dengan Rp 3 juta, Abu tidak lagi menjadi bocah yang terlunta-lunta. “Mudah-mudahan nanti saya bisa membeli mobil Pak,” bisik Abu, sesaat sebelum ia kembali pulang ke rumahnya. Dalam hati saya hanya bisa mengatakan, “Amien… amien….”
Saya bercerita kali ini bukan untuk menyombongkan diri atau sekedar pamer. Sama sekali tidak. Tetapi saya hanya ingin memberi gambaran, sebenarnya untuk mengurangi angka pengangguran di negeri ini cukup mudah. Modalnya juga tak begitu besar. Terpenting adalah niat yang tulus dan ikhlas serta ada kemauan untuk merubah nasib orang lain dari satu titik terendah lalu bergerak ke atas menjadi titik yang bisa memberikan harapan buat siapapun juga… Selamat bekerja Abu… Saya doakan semoga Allah akan mengangkat derajatmu dengan membuka pintu rezeki yang ada di langit dan di bumi… Amien…… (achmad subechi)
Comments (1)














selamat…selamat bec, atas keberanian memulai usaha sebagai wiraswastawan mengikuti sunah Rasul. Tidak banyak orang yang mempunyai keberanian untuk memulai usaha, untuk change. Semoga Ilahi Robbi…mengijabahi dan meridhoi. Kalo sukses, boleh bagi-bagi resepnya hehehehe. Salam untuk keluarga