Sunday, 11-11-2007 | 14:58 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan
merintis usaha nasi pecel (4-Habis)
Rezeki itu Masih Tersimpan di Langit
JARUM jam menunjukkan pukul 21.30 Wib. Saya teringat dengan Abu, anak yatim yang saat ini sedang saya bina menjadi wirausahawan kecil-kecilan. Wajah anak itu amat lugu dan teramat lugu. Maklum, usianya masih belasan tahun. Saya sama sekali tidak kenal siapa nama ibu kandungnya, begitu juga sanak familinya. Tapi saya optimistis Abu mampu bangkit dari keterpurukan. Status sosialnya kagak boleh terus di bawah. Ia harus sukses dan sukses serta semangatnya seperti nyala api tungku yang terus membara.
KUTELEPON Rizal. Dia adalah anakku yang cukup peduli. Saat ini Rizal masih duduk di bangku SMPN 161 Jakarta Selatan. Meski masih SMP, jari-jemari tangannya cukup piawai dalam memainkan gitar. Ia berbakat dan talentanya sudah kelihatan.
Kemarin pagi ia ikut berjualan dengan Abu. “Untung ada Rizal. Tadi pagi tempat jualan pecelnya banyak lalatnya. Maklum, ada sisa-sisa sampah yang belum terbuang. Rizal lalu pulang ke rumah mengambil kreolin. Selain itu, tadinya agak sepi Pak… Rizal saya suruh pura-pura membeli. E.. setelah itu banyak orang yang membeli. Alhamdulillah Pak dagangannya habis. Saya hanya masak dua liter beras,” kenang Abu.
Semalam saya agak gelisah. Apakah pecel yang dijual Abu laku atau tidak. “Zal… Apakah tadi sore Abu jadi jualan lagi?” “Enggak Pa…” “Kenapa?” “Kan hujan sejak dari sore…” Okey enggak apa-apa. Kalau sore hari ini ia tak jualan, saya yakin Tuhan akan menyimpan rezekinya dan esok rezeki itu akan diberikan ke Abu.
Saya juga yakin, setiap tetes keringat yang Abu keluarkan, akan dicatat oleh Allah lalu dirubah menjadi rezeki yang berlimpah apalagi apa yang dilakukan Abu adalah bagian dari ketulusan ingin membantu atau meringankan beban orang tuanya. Semoga… hasil keringat Abu bisa bermanfaat untuk adiknya yang saat ini masih duduk di bangku SMA kelas 1. “Sabar saja… Dan percayalah Allah akan memberikan semua yang terbaik kepada kamu Bu…” Selamat berjualan dan jangan mudah putus asa… (achmad subechi)













