Tuesday, 13-11-2007 | 2:48 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

sang penjual jamu

USIANYA sudah 65 tahun. Kalau berjalan, lelaki itu kelihatan sedikit membungkuk. Dua hari lalu saya mendapati dia masuk ke sebuah gedung perkantoran sambil menenteng dua buah tas plastik sedikit kumal.

HARI ini dia kepergok saya di gedung lainnya. Saya agak penasaran dengan kakek-kakek tua itu. Oh… ternyata dia penjual jamu kencur dan kunyit, asli buatan sendiri. “Ibunya anak-anak yang bikin,” katanya. Sedangkan dia bertugas memasarkan produk home industri yang sudah digelutinya bertahun-tahun.

Sebelumnya, lelaki itu mengaku bekerja di sebuah perusahaan swasta cukup terkenal di Jakarta. Sejak pensiun, ia mulai merintis usahanya. Satu botol kecil jamu ia jual dengan harga Rp 3000. Sehari ya setidaknya ada 30-40 botol laku terjual. Apalagi dia sudah memiliki langganan tetap yaitu para karyawan yang ingin badannya ingin tetap segar bugar.

Dari obrolan dengan lelaki itu saya menangkap kesan bahwa hidup tidak boleh diam. Kalau mau dapat rezeki ya harus bergerak (berusaha). Tidak boleh berpangku tangan, apalagi kipas-kipas menikmati uang pesangon. Saya yakin, rezeki tidak akan datang kalau kita tidak melakukan silaturrahim (menebar jaring atau memiliki koneksi).

Saya juga yakin, rezeki tidak akan datang kalau kita tidak mau bergerak dari kursi. Itu artinya harus ada mobilitas. Saya juga yakin, rezeki tidak akan datang kalau mulut kita tidak bisa berbicara. Saya juga yakin, rezeki tak akan datang kalau mata dan pikiran kita tidak terangsang oleh keinginan.

Karena itu, gunakan semua kekuatan tubuh (kaki, tangan, mata, hidung, pendengaran, mulut dan semuanya) untuk mencari rezeki. Bagaimana seseorang tahu tingkat kesulitan hidup yang sedang kita alami, kalau kita malas berbicara (buka mulut). Bagaimana orang lain mau melakukan kerja sama, kalau kita malas melangkahkan kaki, malas berpikir mencari ide-ide baru, malas menggunakan tangan, malas memprovokasi nafsu dan lain-lain…

Kenapa Pak Tua seperti sang penjual jamu masih mau bekerja dan mencari uang? Saya yakin, bukan kekayaan semata yang ingin ia raih. Tetapi, ia ingin menempatkan hidup ini agar lebih bermakna buat orang lain. Apa yang telah ia lakukan, sebenarnya melahirkan cahaya-cahaya baru buat anak-anak muda untuk tidak berdiam diri.

“Tapi, anak saya justru lebih memilih bekerja di sebuah perusahaan swasta dengan gaji Rp 1 juta sebulan. Padahal, kalau dia mau membantu usaha yang saya geluti… mungkin anak-anak saya sudah kaya. Saya sehari menghabiskan sekitar 400 botol,” katanya.

Anak muda cenderung mencari status. Anak muda cenderung mengedepankan gengsinya. Anak muda cenderung menjaga harkat dan martabatnya. Anak muda cenderung berpikir cekak. Nalarnya kadang mereka tempatkan di belakang punggung. Kepalanya (pikirannya) baru akan pecah ketika mereka menghadapi tingkat kesulitan hidup pada titik nadir. Kenapa harus menunggu kesengsaraan itu tiba? (achmad subechi)

Leave a Reply