Tuesday, 13-11-2007 | 4:02 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan
sang direktur dan laptop
“JANGAN diutak-atik… nanti bisa meledak.” Mendengar warning itu saya tertawa ngakak. “Bukan begitu bos… caranya itu begini…” kataku sambil mengajari dia memainkan mouse komputer.
LUCU… tapi saya salut dengan semangatnya. Temanku ini seorang direktur di sebuah perusahaan ternama di Jakarta. Semalam aku masuk ke ruangan kerjanya. Ia kelihatan super sibuk, utak-atik laptop yang baru dibelinya. “Wah baru beli nih…” Ia tertawa ngakak.
“Gimana sih caranya membuka internet?” Ketika aku ajari, dia spontan memberi warning “Jangan diutak-atik… nanti bisa meledak.” Mendengar warning itu saya tertawa ngakak. “Bukan begitu bos… caranya itu begini…” kataku sambil mengajari dia memainkan mouse komputer.
Teman saya yang satu ini memang gaptek. Di meja kerjanya dari dulu tersedia komputer. Ssssttt… tapi ya itu, jarang disentuh alias kagak tahu caranya. Nah, kini di era informasi dengan kemajuan tekhnologi yang super cepat, mau tidak mau dia harus belajar. Bagaimana kagak malu kalau rekan-rekan koleganya setiap kali presentasi semua membawa laptop, sementara dia hanya pakai alat yang namanya mulut. Huaha…ha.. ha…
Belakangan, koncoku itu mulau tersadar. Ia tak bisa memakai cara-cara kuno (konvesional) untuk melakukan presentasi. Karena itu, diam-diam dia membeli laptop. Ia utak-atik sendiri. “Gimana nih cara menggunakan power point. Ajarin dong…” pintanya.
Saya semakin terkaget lagi, karena selain membeli laptop, dia juga menggunakan Wireless Fidelity (Wi-Fi). Jaringan lokal nirkabel itu ia beli cukup lumayan. “Gue beli sekitar Rp 2 jutaan,” tuturnya. Gara-gara mulai kenal tekhnologi, semalam ia mencoba chating dengan rekan-rekannya. Dicatatnya satu persatu cara membuka YM, internet explorer dan membuka email.
Setiap kali ia mengutak-atik, aku tertawa ngakak. Setiap kali tawa keluar dari bibir saya, ia spontan marah karena merasa diledekin. “E… bos hati-hati lho kalau ke luar negeri bawa laptop,” candaku. “Kenapa emangnya?” “Itu kan softwarenya kagak asli. Bisa ditangkap lho..” “Ah siapa yang mau tangkap. Saya akan tunjukan bon pembeliannya dong” jawabnya agak serius. “Lho kalau bon pembelian itu kan bon sebagai bukti untuk membeli laptop. Kalau softwarenya mana bonnya?” “Ya kagak… ada….” Pak Direktur kelihatan pucat. Ia kelihatan serius memikirkan ucapan saya. Padahal, saya sekedar bercanda saja.
Fenomena di atas tidak menutup kemungkinan juga terjadi di kalangan para direktur-direktur lainnya di negeri ini. Maklum, usia mereka rata-rata di atas 50 tahun. Meski agak terlambat, namun saya salut dengan semangat belajarnya. Belajar tak mengenal usia. Asal ada kemauan, dijamin pasti bisa. Kapan kita-kita yang muda memiliki spirit seperti itu? Saya masih ragu. Anak-anak muda cenderung terjebak pada wilayah kemapanan dan rutinitas yang tanpa terasa akan membawa ke wilayah nonproduktif karena termakan waktu… (achmad subechi)













