Ibu Menteri
Wednesday, 21-11-2007 | 9:13 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan
| SOROT | |
IBU MENTERI |
|
|
JUMAT (16/11) siang saya kedatangan tamu ibu-ibu. Seorang diantaranya adalah Ny Laily M Nuh. Dia istri dari Menteri Komunikasi dan Informasi (Kominfo) M Nuh. Gaya bicaranya medhok ala Suroboyoan. Maklum, dia memang selama ini tinggal di Kota Buaya.
KEDATANGAN Bu Menteri kali ini cukup menggelitik hati saya. Apalagi, isu yang ia bawa terkait dengan minimnya oksigen di muka bumi akibat pemanasan global. Sudah dapat dibayangkan, jika oksigen di muka bumi ini berkurang, maka manusia akan menggelepar-ngelepar menuju titik kematian seperti ikan yang kehabisan air. Nah, sebelum oksigen itu habis dan manusia akan lenyap dari muka bumi, maka Bu Menteri sengaja datang ke kantor saya untuk melakukan kampanye, terkait dengan rencana PBB yang akan menggelar Konferensi PBB tentang Pemanasan Global dan Pemanasan Iklim (Global Warming and Climate Change) awal Desember nanti di Bali. “Apa yang saya lakukan ini demi merah putih (bendera),” kata Bu Menteri. Mereka semua terdiam, binggung menjelaskan apa maknanya. “Ya ini kan langkah awal kami melakukan gerakan. Setelah itu kami akan bergerak ke masalah pornografi yang menjadi fenomena di layar kaca,” sahut Bu Menteri. “Kalau kalian tahu maknanya, mungkin kalian akan semakin serius melakukan gerakan kampanye ini. Kenapa? Saya tidak bisa membayangkan kalau 10 juta pohon yang ditanam nanti, dan dalam waktu 10 tahun manfaatnya akan dirasakan oleh manusia lain. Artinya, ketika kita semua sudah di alam kubur, Gusti Allah masih mencatat amal perbaikan yang telah Ibu-ibu lakukan,” ungkap saya. Mendengar penjelasan itu, mata Bu Menteri menatap tajam. Beberapa wanita lainnya saling melirik, tanda mulai merenung. Sebelum pertemuan berakhir, saya kembali mengajukan pertanyaan. “Sebaliknya, perbuatan mulia yang Ibu-ibu lakukan ini tidak ada maknanya kalau pembalakan liar terus terjadi di republik ini. Berani enggak Ibu-ibu mendatangi kantor Kejaksaan Agung, Mabes Polri, Departemen Kehutanan untuk meminta kepada pejabat terkait agar serius menangani kasus illegal logging? Kalau tidak berani ya percuma,” tutur saya. Lagi-lagi Bu Menteri semakin berpikir. Keningnya mulai mengerut tanda bahwa ia sedang berpikir. ‘Tolong sampaikan kepada Bu Ani SBY, harus berani melakukan langkah cerdas seperti yang saya ajarkan.’ Bu Menteri terlihat mantuk-mantuk. ‘Tapi ya gimana….?” tuturnya kalem. “Kalau enggak berani ya sudah. Tapi kalau mau jadi penguasa untuk periode lima tahun mendatang, Bu SBY harus berani dong datang ke instansi terkait meminta agar pembalakan liar direm.” Bu Menteri senyam-senyum. Ia hanya menjawab, “Good idea…. good idea….” (naskah ini dimuat Harian Tribun Jabar, 21 November 2007) |
|














