Bumi Bergoyang

Wednesday, 21-11-2007 | 9:21 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

SOROT

Achmad Subechi
MOBIL yang kami tumpangi melaju ke arah Jalan Palmerah Selatan, Jakarta. Arus lalu-lintas sudah mulai terlihat sepi. Di dalam mobil, seorang sahabat saya memutar beberapa buah lagu yang diambil dari album The Best Sholawat Campursari. Salah satu lagu yang sempat terekam di kepala saya judulnya Zaman Akhir. Lagu itu lamat-lamat terdengar dan syairnya benar-benar mengena serta merasuk ke dalam jiwa saya.

SAYA tidak tahu persis siapa nama penyanyinya. Kira-kira syair dalam berbahasa Jawa itu berbunyi begini, ‘Zaman wis akhir. zaman wis akhir. bumine goyang. (zaman telah berakhir, buminya bergoyang).’ Maaf, syair selanjutnya saya tidak hafal.

Lagu serupa pernah saya dengar ketika saya menumpang angkutan umum saat jalan-jalan di Kota ‘Lumpur Panas’, Sidoarjo, Jawa Timur. Waktu itu ada seorang penumpang berusia setengah baya dan duduk tepat di depan saya, tiba-tiba menyanyikan lagu itu, setelah ia bercerita panjang mengenai penderitaanya akibat mengamuknya lumpur panas Lapindo.

Kata dia, bumi yang kita injak ini usianya sudah tua. Karena itu manusia diminta segera eling kepada yang membuat urip (kehidupan). “Itu pesan kyai saya. Zaman wis akhir. zaman wis akhir. bumine goyang. Dan kenyataannya sekarang kan bumine memang bergoyang. Terus terang saya wedi (takut). tinggal di Sidoarjo,” tambah wanita itu sambil melantunkan lagu yang membuat bulu kuduk saya berdiri.

Saya masih terdiam menikmati syair-syair lagu yang keluar dari dalam tape mobil. Seorang rekan saya terlihat mengangguk-anggukan kepala mengikuti iringan musik, sambil jari-jemarinya diketuk-ketukan ke stir mobil. Saya merenung sejenak, teringat masa kecil. Dulu, ketika masih bocah, setiap kali menjelang Maghrib, biasanya kami bergegas ke masjid. Sambil menunggu adzan Maghrib, beberapa jamaah melantunkan puji-pujian.

Salah satu puji-pujian itu syairnya sama dengan yang saya dengar saat ini. Saya enggak tahu persis siapa yang membuat syair-syair atau puji-pujian itu. Tapi, sahabat saya yang jebolan Pondok Pesantren Gontor menjelaskan bahwa ada beberapa puji-pujian yang dari dulu sudah diciptakan Wali Songo. “Seperti lagu Ilir-ilir yang sekarang kita dengar ini, itu syairnya asli dari para Wali Songo,” tuturnya.

Kini bumi yang kita tempati, benar-benar bergoyang. Sejumlah gunung yang notabene sebagai paku bumi (tiang penyeimbang bumi), kini mulai bergejolak. Gunung Kelud, Gunung Semeru, Gunung Rakata (anak Krakatau) dan beberapa gunung lainnya mulai batuk-batuk.

Mereka seakan-akan memberikan peringatan kepada manusia bahwa kehidupan ini sangat kecil dan terlalu kecil untuk didambakan, apalagi kalau isinya sudah dikuras semaksimal mungkin hanya untuk menumpuk kekayaan. Ironisnya lagi, ketika mulut gunung sudah terbuka dan bara api di dalam perut semakin membara, tak ada satu pun manusia di dunia ini yang mampu menyumbat mulut mereka.

Mobil terus bergerak menuju. Di lampu merah dekat pos polisi DPR, mobil kami berhenti. Seorang bocah kira-kira berusia tiga tahun, terlihat duduk di tepi trotoar tepatnya di bawah lampu merah. Saya amati dia. Masya Allah. kepalanya sesekali terantuk-antuk. Matanya terpejam, tangannya tetap menengadah meminta belas kasih dari pengendara. Tak seorang pun yang menghiraukan mereka walau bumi sudah mulai bergoyang. Entah sampai kapan. (naskah ini dimuat di Harian Tribun Jabar di rubrik Sorot)

Leave a Reply