Idealisme dan Bisnis
Friday, 23-11-2007 | 13:22 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan
Jakarta – Media massa dewasa ini berkembang sedemikian rupa, dari jurnalisme perjuangan ke arah industri media. Kendati demikian, media harus tetap profesional dan tetap memiliki idealisme, meski pada akhirnya media juga tidak bisa lepas dari urusan bisnis –liputan pesanan iklan dan advertorial.
Demikian terungkap dalam diskusi Strategig Media How to Detect Your Business Enemy from Media Reporting di Hotel Sahid,
Industrialisasi, menimbulkan dua sisi berbeda dalam dinamisasi pers masa kini. Satu sisi pers tetap mempertahankan idealismenya namun di sisi lain lebih mendahulukan bisnis supaya tetap survive di tengah pertarungan antar media. Perusahaan media kini memasuki tahap disoriented, mempertahankan profesionalisme dan idealisme atau menuruti keinginan pasar. Situasi dan kondisi itulah yang menjadi tantangan terbesar bagi media saat ini.
Media mengejar aspek ekonomis (berbisnis) namun juga harus bisa menjaga untuk tidak bias dan tetap fokus pada peran dan fungsi kontrol sosialnya. “Jangan sampai idealisme dan profesionalisme tertutup oleh bisnis semata. Karena itu idealisme dan kepentingan bisnis harus berjalan selaras,” kata Trias Kuncahyono, Wakil Pemimpin Redaksi Kompas.
Bias-bias jelas sangat mungkin terjadi ketika media hanya megejar bisnis semata, mengejar tiras, serta hanya mendekat pada kekuatan politik dan pemerintah yang berkuasa. Dalam pandangan Trias, media dan bisnis (aspek ekonomis) bisa berjalan dengan seiring, tanpa harus menjual idealisme itu sendiri.
Sebaliknya, media yang tidak menampilkan idealisme dan profesionalisme justru akan gagal dalam mengembangkan bisnis. Apalagi jika media yang didirikannya memiliki kepentingan sempit atau sesaat untuk Pilkada, misalnya.
Media-media yang tidak mengindahkan aspek idealisme dan profesionalisme akan ditinggalkan oleh pembaca, dan tidak akan mempunyai kekuatan merubah atau mempengaruhi publik. Mereka akan mati dengan sendirinya karena tidak dilandasi semangat profesionalisme. “Media tanpa profesionalisme dan tidak memiliki kredibilitas justru menjadi media yang mati, dan tidak akan bertahan lama,” ucapnya.
Acara yang dimoderatori oleh Kepala Biro Redaksi Persda Achmad Subechi, menghadirkan pembicara di antaranya, AM Putut Prabantoro, Managing Partner Veloxxe, Y Widodo (Media Indonesia), Pasaoran Simanjuntak (Trans 7), Kristanto (Sinar Harapan) dan Sigit Setiono (Warta Kota).
Pimpinan Veloxxe, Putut Prabantoro dalam kesempatan itu memberikan sejumlah trik atau jurus buat para PR, terutama bagaimana caranya bisa mengandeng media secara elegan. ”Perusahaan PR harus memiliki jaringan atau network dengan wartawan. Selain itu para PR juga harus mampu menutup mulut. Bukan sebaliknya, membuka mulut ketika harus menyuarakan kliennya,” ungkapnya. (persda network/why)













