sang guru

Friday, 23-11-2007 | 14:18 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

MEMBICARAKAN guru jurnalitisk yang satu ini memang tidak pernah ada habis-habisnya. Ia benar-benar memiliki akar dan meninggalkan segudang ilmu kepada murid-muridnya. Namanya Valens Doy. Ia kini telah tiada. Namanya, seharum ilmu yang pernah ia berikan kepada saya.

SUARANYA keras. Kalau sudah berteriak, semua orang terdiam. Bukan karena takut, tapi sebagian besar muridnya merasa bersalah karena belum juga profesional walau sudah bertahan-tahun berguru kepadanya. Kerasnya suara almarhum, tak sama dengan kelembutan hatinya. Ia amat humanis dan mudah berempati.

Bagi wartawan Kompas, nama Valens Doy, cukup dikenal. Ia telah melahirkan puluhan wartawan dan kini sudah memiliki nama. Di antaranya, Siane Indriani (Pemred Global TV), Manuel Kasiepo (mantan Menteri Percepatan Pembangunan Indonesia Timur), Halim Mahfud (Vice President Corporate Affair PT Direct Vision ASTRO), Uki M Kurdi (Pemred Tribun Kaltim), Herman Darmo (Dirkel Persda), Febby Mahendra (Pemred Tribun Batam/Direktur Tribun Pekanbaru), Dahlan (Wakil Pemred Tribun Timur), Nani Deyang, Budi Purnomo (Pimpinan Majalah Prospektif), Effendy Choirie (Ketua FPKB DPR RI), Makroen Sanjaya (Wapemred Metro TV), Yusran Pare (Pemred Tribun Jabar) dan segudang tokoh pers lainnya.

Kini ditengah kesibukan saya dalam menyelesaikan tugas di kantor, tiba-tiba saya teringat beliau. Apalagi setelah Dion (Pemred Harian Pos Kupang) kemarin sore meminta saya agar membukukan pengalaman teman-teman ketika masih kerja bareng bersama almarhum.
“Kenapa Mas Bechi tidak memotorinya?” Tak lama kemudian, Dion mengirimkan sebuah tulisan tentang beliau. Saya merenung sejenak. “Boleh juga ide itu? Kenapa tidak kami lakukan? Bukankah selama ini kami telah diberi ilmu oleh almarhum? Lalu apa bukti pengabdian kami kepada almarhum?”

Murid adalah murid. Guru adalah guru. Murid harus taat dan patuh terhadap sang guru. Guru yang baik adalah guru yang tak pernah meminta balasan apalagi upah kepada muridnya. Om Valens merupakan satu diantara guru-guru jurnalistik saya yang tak pernah menuntut apa-apa dari muridnya, kecuali profesionalisme. Om Valens juga tak pernah menganggu sang murid walau di penghujung akhirnya almarhum dalam keadaan ‘terjatuh’ setelah sekian lama bergelimang di dunia jurnalistik.

Guru yang pernah menanamkan nilai-nilai idealisme itu, benar-benar jadi panutan muridnya. Tak ada kesombongan, apalagi kecongkakan selama kami bergaul. Tak ada keluhan, tak ada permintaan neko-neko dari almarhum. Yang ia minta, kami bekerja keras, profesional, jujur, rendah hati dan tahu diri serta tak boleh mengeluh walau hidup penuh dengan penderitaan.

Kepada rekan-rekanku, mari kita berkumpul kembali menuangkan pengalaman-pengalaman menarik selama bekerja dengan beliau. Kapan? Aku tunggu kesediaan kalian. (achmad subechi)

Leave a Reply