Met Ulang Tahun Nak…

Wednesday, 12-12-2007 | 5:53 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

“PA… Tolong telepon Rizal. Hari ini dia berulang tahun. Beri sedikit perhatian…!” Warning ataukah perintah atau sekedar mengingatkan? Ehmm… saya sejenak terdiam. SMS yang tak begitu panjang itu memang terasa menyentil hati kecil saya. “Apakah saya masih pantas dianggap sebagai seorang ayah? Atau jangan-jangan saya sengaja melupakan mereka karena terlena dengan nikmatnya pekerjaan?”

SENIN (3/12) kemarin saya meninggalkan mereka untuk menghadiri acara Rapim di Ciater, Jawa Barat, selama lima hari. Tiba di Jakarta Minggu dinihari. Esoknya, saya sempatkan ngobrol sama mereka. Aina –putri bungsuku berumur 5 tahun– yang selama ini tidak begitu dekat dengan saya, seharian penuh ngajak bercanda.

Sedangkan kakak-kakaknya –Rizal dan Buyung– enjoy sendiri-sendiri dengan habit mereka –bermain musik bersama teman-temannya. Menjelang malam, musik dihentikan. Istri saya mulai angkat bicara. “Ayo sekarang belajar dan belajar.” Si Rizal, anak nomor dua segera angkat buku. Ia terlihat serius membaca-baca buku, walau di teras rumah masih ada lima teman sekolahnya yang menunggu.

Bagaimana dengan Buyung? Anakku yang satu ini badannya tinggi besar. Ia masih duduk di bangku SMPN 161 Jakarta Selatan kelas tiga. Sejak SD semangat belajarnya lumayan tinggi. Alhasil, setiap kenaikan kelas ia selalu masuk tiga besar (rangking). Sebenarnya, sama dengan Rizal. Cuma, belakangan sejak Buyung mengenal musik, ia jarang sekali memegang bukunya. Kalau diingatkan, cenderung meremehkan.

Meski begitu, saya tetap yakin bahwa Buyung masih ada minat untuk belajar. Tetapi, semangatnya untuk meraih kesuksesan sudah tak terbendung lagi. Kadang saya tertawa ketika melihat tangannya piawai memainkan melodi gitar. “Wah kok anak sekarang lebih hebat daripada saya ya…”

Sekali tempo ia bertanya kepada saya. “Kenapa sih kok umur Buyung tidak cepet-cepet naik Pak. Buyung kagak sabar dah… nunggu dewasa,” tanyanya. “Emang kenapa Nak?” “Buyung nih ingin cepat besar lalu tampil di televisi main musik…” katanya. Saya hanya tertawa ngakak.

Kembali ke soal ulang tahun Rizal. Ia genap berusia 13 tahun. Rizal, agak pendiam. Ia juga lumayan bagus dalam memetik gitar. Awalnya, ia saya arahkan memegang bass. Tapi, rupanya Rizal tidak suka, walaupun ia sudah menguasainya. Kemarin malam, telepon saya berdering. “Pa… apa kabar?” “Aduh… Nak, selamat ulang tahun ya… Semoga tambah pinter. Ehmm… hadiahnya menyusul ya.” Rizal hanya tertawa ngakak.

Pukul 02.00 dinihari, saya baru pulang dari kantor. Kulihat ia tertidur pulas. Kuciumi pipi kiri kanannya. Wajah keluguan dan kepolosannya terpancar. Saya hanya bisa berdoa, semoga kelak ia menjadi anak yang berguna buat bangsanya dan selalu mengedepankan kejujuran serta kebenaran. Dua hal itulah merupakan kunci kesuksesan dunia dan akhirat…. (achmad subechi)

Leave a Reply