Segera Bersujud…

Wednesday, 2-1-2008 | 11:40 WIB | 4 Komentar | Kategori: Gagasan

SEORANG rekan saya bertanya. “Kenapa bencana tidak mau berhenti dari negeri ini? Apa ada yang salah?” tanyanya. Pertanyaan itu saya jawab dengan setengah bergurau. “Mungkin anda termasuk satu diantara rakyat di negeri ini yang ikut andil.” “Ah… perilaku saya baik-baik saja kok. Saya bekerja dengan tulus dan ikhlas. Kedua, saya tidak pernah ngutil uang rakyat,” balasnya.

TEMAN saya yang satu ini sejak dulu memiliki integritas yang cukup tinggi. Kendati ia menjabat sebagai deputi di salah satu kantor kementerian, namun gaya hidupnya tetap sederhana. Saya mengenalnya cukup lama ketika ia masih berpangkat mayor.

“Lalu siapa yang salah?” tanya dia terus mengejar. “Ya yang salah kita-kita dong. Termasuk, para pemimpinnya,” jawab saya. “Kok bisa?” “Sudahlah… kalau mau negeri ini selamat dari malapetaka, satu-satunya jalan terbaik adalah tobat. Saya yakin, semua manusia di negeri ini punya kesalahan. Kita kan enggak tahu bagaimana perilaku masing-masing manusia,” tutur saya.

Perilaku yang kotor –jahat, culas, pendengki, sombong, tamak dan lain-lain– akan melahirkan energi negatif di dalam tubuh manusia. Ketika energi negatif semakin menumpuk, maka kulit bumi yang dipijak, juga merasakan getaran.

“Akibatnya, bumi merasa ogah lalu menggeliat… Kalau sudah begitu, rumah-rumah dan bangunan rontok dalam sekejab,” kata saya. “Ah… kamu bisa-bisa saja. Tapi, saya kok yakin akan terjadi peristiwa lagi di negeri ini,” katanya.

Lagi-lagi saya tegaskan, selama perilaku buruk manusia tidak berubah, maka yang akan terjadi adalah malapetaka. Contoh konkrit sudah ada dan pernah menimpa beberapa kaum di era dulu. Mereka terkena azab dari Tuhan, akibat perilakunya yang tidak berubah meski pun para nabi telah menginggatkan kaumnya.

Bentuk azabnya macam-macam. Mulai dari angin –badai– wabah penyakit, air bah, gunung meletus (tertimpuk batu) dan lain-lain. “Apakah energi petir juga akan melumatkan manusia?” tanyanya lagi.

“Bisa jadi…. Dan ketika alam mulai murka, maka peristiwa itu ditujukan untuk semua manusia, bukan hanya mereka yang perilakunya buruk saja yang terkena azab. Mereka yang memiliki perilaku baik, juga terkena imbasnya. Nah lho… kalau sudah begitu, apa yang bisa kita perbuat?”

Teman saya geleng-geleng kepala. Mungkin ia membayangkan apa yang akan terjadi kalau air laut dari Pantai Selatan tiba-tiba nyelonong nyeberang di atas Pulau Jawa menuju ke Pantai Utara. Sebuah duka yang amat mengerikan.

Kata penyanyi Ebiet G Ade, “Mumpung masih ada kesempatan buat kita… mengumpulkan bekal perjalanan abadi… Yang terbaik hanyalah, segera bersujud… mumpung kita masih iberi waktu.(achmad subechi/naskah ini dimuat di rubrik SOROT harian Tribun Jabar)

Comments (4)

 

  1. diknico says:

    eh mas pakabar, enak mana bkn blog apa pecel lele? hehe…
    tak doain tambah sugih biar cpt naik haji, blognya cukup keren mas, good luck!!!

  2. BECHI says:

    amin… amin… kabarnya baik-baik bos

  3. amethys says:

    mas..mas, beberapa tulisan mas ini saya baca di harian kompas…jadi anda wartawan yah?

    thx untuk tulisan2 nya yah…saya sangat manikmati

  4. BECHI says:

    Buat Mbakku yang ada nun jauh disana… Aku memang wartawan Mbak. Ehmm di Persda –kelompok koran daerah Kompas-Gramedia. Wah, aku tadi intip blog sampean. Isinya mantap, terutama laporan perjalanan. Apik tenan…..

Leave a Reply