Pengakuan Hadi A Wayarabi Al Hadar (2)

Sunday, 20-1-2008 | 8:32 WIB | 2 Komentar | Kategori: Gagasan


Haruskah Saya Berbohong

BUAH korupsi telah melahirkan ketidaktenangan buat para pelakunya. Di usia senjanya, mereka harus ‘menikmati’ betapa pedihnya tinggal di balik terali besi. Ada beberapa tokoh atau publik figur di negeri ini yang hidup dalam ketidaknyamanan. Hubungan tali silaturahmi dengan keluarga, sanak keluarganya dan cucu-cucunya tercerabut begitu saja, akibat perilaku mereka di masa lalu. Adalah Drs Hadi A Wayarabi Al Hadar. Sejak tahun 1968, ia sudah bekerja di Departemen Luar Negeri (Deplu) pada Direktorat Organisasi-Organisasi Internasional (Dit OI). Tahun 1979-1984 ia dipercaya menjadi utusan tetap RI untuk PBB di New York. Berikut penuturannya:

KAMIS 12 Januari 2006. Sehari setelah Lebaran Idul Adha, KPK memanggil saya kali pertama sebagai saksi. Padahal, ketika itu saya sudah membeli tiket pesawat menuju Ternate Halmahera. Halmahera merupakan kampung halaman saya.

Ketika diperiksa di KPK, saya menjawab semua pertanyaan penyidik secara spontan berdasarkan fakta sebenarnya. Termasuk ketika ditanya apakah saya pernah diberi uang oleh Kepala Bidang Imigrasi. “Saya jawab pernah! Jumlahnya saya ingat antara 15.000-20.000 RM.”

Apakah pernah mengeluarkan SK mengenai keimigrasian, atau pernah melihat, membaca atau mengetahui SK Dubes RI No 021/SK.DB/0799 tanggal 20 Juli 1999 (SK Ganda)? “Saya jawab tidak pernah! Selanjutnya saya ditanya beberapa pertanyaan lain berkisar mengenai SK ganda tersebut. Saya jawab seperti yang tertuang dalam BAP ketika saya disidik dan diperiksa sebagai tersangka.”

Tanggal 23 Januari 2007, saya dimintai kesediaan untuk menitipkan uang yang pernah saya terima dari Kepala Bidang Imigrasi, Suparba W Amiarsa dan Arikhen Tarigan kepada KPK. “Sudah saya jelaskan sebelumnya bahwa uang tersebut terpakai untuk lobi atau menjamu tamu, membantu mahasiswa dan pelajar, membantu warga negara RI yang ditampung di KBRI untuk makan, beli obat, jajan dan lain-lain. Namun menyidik kembali menyampaikan, bersediakah bapak untuk menitipkan uang tersebut kepada KPK?”

Saya pikir, barangkali harus demikian. Akhirnya saya mengiyakan dengan pertimbangan bahwa yang minta adalah KPK dan hanya ‘menitipkan’ –saya artikan akan dikembalikan. Mungkin saya pantas ditertawakan karena kenaifan saya. Tapi begitulah kejadiannya.

Apalagi saya tidak mempunyai latar belakang pendidikan hukum. Akibatnya, pengetahuan saya tentang masalah hukum sangat dangkal. “Semua pertanyaan yang diajukan penyidik kepada saya mengenai musibah ini, saya jawab sejujurnya sesuai apa adanya. Saya yakin dengan memberikan jawaban yang benar, saya tidak diapa-apakan.”

Setelah dimintai keterangan kali kedua sebagai saksi, saya dianjurkan keluarga untuk bertanya kepada orang yang mengerti hukum. Saya lalu bertanya kesana-kemari kepada teman-teman yang saya anggap mengerti hukum, termasuk kepada dosen yang juga seorang pengacara.

“Mereka umumnya menyesali, kenapa baru sekarang saya bertanya kepada mereka. Kenapa tidak sebelum dimintai keterangan? Kenapa memberi pengakuan bahwa saya pernah menerima uang dari Kabid Imigrasi? Kenapa saya bersedia menyerahkan uang yang saya terima tersebut kepada KPK? Justru dengan begitu, akan menjadi ‘alat bukti’ sehingga saya dijadikan tersangka.”

Saya semakin tidak mengerti, mengapa kejujuran justru dipandang hal yang membahayakan. benarkah dengan kejujuran dan keluguaan saya, akan menjadikan saya sebagai tersangka? “Dalam hati saya timbul juga rasa gusar dan ada keraguaan dalam menghadapi proses hukum selanjutnya. Haruskah saya berbohong untuk hal-hal yang akan mengusik ketenangan di hari tua saya dalam usia lanjut seperti ini?”

Sementara berbohong adalah sifat buruk yang selalu saya hindari karena dibenci Allah SWT. Akhirnya saya teguh dalam berprinsip bahwa apapun yang terjadi, saya akan terus memegang teguh kejujuran. Saya akan terus menyuarakan kebenaran walaupun pahit pada akhirnya. Saya berkeyakinan dan terus memohon kepada Allah SWT, agar saya selalu diberi kesehatan, kekuatan, perlindungan dan hidayah serta ikhlas berserah diri terhadap kehendak-NYA. (achmad subechi/BERSAMBUNG)

Comments (2)

 

  1. Kristina Dians says:

    Wah, saya jadi gak sabar menunggu cerita lanjutanya.

  2. BECHI says:

    Sabarrrrr dong… he..he..he… Lagi sibuk meliput Soeharto.

    Mas Bechi

Leave a Reply