Misteri Kematian
Sunday, 27-1-2008 | 11:36 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan
KETIKA saya masih remaja, Ibu saya selalu mengingatkan bahwa kematian akan selalu datang dan akan datang pada saatnya. Karena itu, persiapkan kematian sedini mungkin. Tanpa bermaksud menakut-nakuti, Ibu selalu menceritakan bagaimana proses kematian terjadi atau ketika menimpa seseorang.
Kata dia, tatkala ruh manusia mulai ditarik dari tubuhnya, “Seketika itu juga jemari kaki akan mengalami kematian pertama kali. Baru kemudian bergerak ke telapak kaki, tungkai. Selanjutnya, ke betis, paha dan seterusnya. Pada saat ruh itu ditarik, maka ujung-ujung kaki akan mengejang, kaku.Rasanya memang amat menyakitkan. Kemudian terjadilah apa yang dinamakan mati rasa Nak… Untuk itu perbanyaklah amal ibadah Nak… supaya kamu selalu disayangi dan dikasihi Gusti Allah,” kata Ibu kepada saya.
Dari cerita itu, saya teringat proses kematian yang terjadi pada ayah saya. Waktu itu, ayah terlihat tertidur pulas. Nafasnya masih ada, tapi ia tak juga bangun dari tidur. Semua keluarga menungguinya, sampai ajalnya. Terakhir kali, saya masih sempat melihat ayah membuka mata beberapa detik, kemudian ruhnya lewat dan tak kembali lagi.
Semua sanak keluarga saya menangis, meratapi kepergian sang ayah. Ada kesedihan dan kedukaan yang teramat mendalam. Suasana duka itu, kini sedang dirasakan keluarga Soeharto. Mungkin, esok hal yang sama juga akan dirasakan, manusia-manusia lainnya. Kita sebagai manusia, sudah sewajarnya menundukkan kepala barang sejenak, lalu berdoa manakala kita mendengar atau melihat ada seseorang manusia meninggal dunia.
Minggu (27/1) pukul 13.10 WIB kemarin, bangsa Indonesia mengucapkan innalilahi wa inna ilaihi raji’un atas wafatnya Soeharto. Mantan Presiden RI yang pernah berkuasa selama 32 tahun itu, telah pergi meninggalkan kita semua. Soeharto adalah manusia biasa. Kalau dulu, Soeharto mampu membuat berbagai macam skenario politik untuk melanggengkan kekuasaan, tapi kali ini fakta empiris membuktikan bahwa Soeharto bukanlah manusia super yang bisa menentukan umur dan kesehatannya.
Jangankan manusia, bumi yang begitu luasnya dan menyimpan harta kekayaan berlimpah, pada satu titik tertentu akan hancur lebur, lalu berterbangan seperti kapas. Semuanya tidak ada yang abadi. Kalau boleh diibaratkan, bumi nan elok dan cantik ini mirip buah melon, menebarkan wewangian dan membuat manusia tertarik untuk menikmatinya.
Ketika buah melon itu kita biarkan berhari-hari, maka kulitnya akan mengeriput. Setelah itu ia akan layu dan mulai membusuk. Selanjutnya, datanglah binatang kecil-kecil yang kemudian berubah menjadi blatung (ulat). Itulah nasib dunia ke depan, sama seperti nasib buah melon, jeruk, markisa, anggur dan lain-lainnya. Mereka akan musnah, seperti makhluk hidup lainnya.
Kini Soeharto hanya menyisakan nama di muka bumi.
Semua sepak terjangnya –kelebihan dan kelemahannya– hanya terpatri dalam sejarah. Kita, sebagai anak bangsa ada baiknya membuka pintu maaf kepada Soeharto, karena kita sama-sama memiliki jiwa. Ketika jiwa sudah berbicara, maka semua kepentingan atau penyakit hati akan tertepiskan…. Selamat jalan Pak Harto. (achmad subechi)













