Ada Apa Soeharto Dengan Bulan Januari?

Monday, 28-1-2008 | 16:36 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

BULAN Januari merupakan bulan bersejarah buat Soeharto. Ada banyak moment penting yang pernah menghentakan jiwa dan pikirannya. Yang paling bersejarah tentulah peristiwa 15 Januar1 (Malari) 1974. Terakhir, di bulan Januari pula Soeharto berpulang ke pangkuan Sang Khalik, tepatnya hari Minggu 27 Januari 2008.

Almarhum telah meninggalkan segudang catatan yang bisa menjadi bahan kotemplasi buat rakyat di negeri ini, terutama mengenai esensi atau hakikat dari kursi kekuasaan yang terlalu lama berada digenggamannya.

Tak banyak yang tahu apa saja langkah-langkah Soeharto, ketika Indonesia dilanda peristiwa 15 Januari 1974 (Malari). Ketika itu sejumlah mahasiswa melancarkan gerakan anti-Jepang di sekitar pelabuhan udara Halim Perdanakusuma, ketika PM Kakuci Tanaka tiba untuk memulai kunjungan resmi selama empat hari di Indonesia.

Ketika Presiden Soeharto akan menjemput tamunya yang mendarat pukul 19.45 WIB, sejumlah poster anti-Jepang dimunculkan para mahasiswa di ujung timur lapangan udara. Di luar kompleks, para demonstran lainnya mencoba memblokir jalan-jalan keluar pelabuhan udara. Sehari setelah itu, Soeharto menerima PM Tanaka di Istana Merdeka. Dalam kesempatan itu Soeharto menyampaikan kepada tamunya mengenai perasaan anti-Jepang yang dimiliki rakyat Indonesia.

Efek dari gejolak anti-Jepang menimbulkan aksi-aksi kekerasan terhadap modal Jepang. Dalam pertemuan itu Soeharto mengajukan dua masalah penting kepada PM Jepang. Pertama, pelimpahan skills kepada bangsa Indonesia dan kedua partisipasi modal bangsa Indonesia dalam investasi Jepang di negeri ini.

PM Tanaka sendiri mengatakan, Jepang tidak mempunyai maksud untuk mendominasi negara lain. Untuk itu Jepang akan membentuk suatu badan yang akan memberikan bimbingan terhadap pengusaha-pengusaha Jepang yang akan menanamkan modalnya di Indonesia.

Mengatasi gejolak di dalam negeri, Kamis (17 Januari 1974), seusai mengantar tamunya di Halim Perdanakusuma, Soeharto segera melakukan sidang kabinet terbatas dengan menteri- menterinya.

Di antaranya, Amir Machmud, Adam Malik, Widjojo Nitisastro, Emil Salim, Mashuri, Sudharmono, M usuf, Radius Prawiro, Sunawar Sukawati, M Sadli dan Jenderal Panggabean. Hadir juga Panglima Kopkamtib Jenderal Sumitro, Wakil Panglima Kopkamtib Laksamana Sudomo, KSAD, KSAL, KSAU dan Deputi Kapolri. Dalam kesempatan itu Soeharto mengambil enam langkah:

1. Menertibkan pelaksanaan hak-hak demokrasi
2. Mencegah timbulnya tindakan-tindakan yang menjurus serta membuka peluang ke arah makar
3. Mengembangkan serta memantapkan saling pengertian antara pemerintah dan DPR serta antara pemerintah
dengahn kekuatan-kekuatan politik yang bermanfaat bagi pelaksanaan demokrasi Pancasila
4. Melakukan tindakan pengusutan terhadap mereka yang bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa Malari

5. Menindak tegas siapapun yang melakukan tindakan-tindakan kekerasan melawan hukum
6. Segera mengusahakan pulihnya kehidupan di DKI Jaya, khususnya kehidupan ekonomi

(Achmad Subechi/berbagai sumber/naskah ini sudah dimuat di www.kompas.com)

Leave a Reply