Modal Akhirat Ala Soeharto
Monday, 28-1-2008 | 14:29 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan
SOEHARTO kini telah tiada. Kasus perdatanya masih berjalan. Ada upaya untuk mencari jalan tengah, seperti pernah dilontarkan Jaksa Agung Hendarman Supandji. Akan tetapi, wacana itu menuai pro dan kontra, hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono angkat bicara. Selain itu pihak Kejaksaan Agung juga sudah melemparkan sinyal bahwa kelak anak-anak Soeharto yang akan bertanggung jawab terhadap perkara itu sepeninggal ayahnya. “Ketentuannya begitu. Ada tagihan negara, kalau beliau (Soeharto) tak ada, tagihan berjalan ke ahli warisnya,” jelas Hendarman suatu hari di Istana Negara.
SEPERTI diberitakan, tim pengacara negara dari Kejaksaan Agung menggugat Soeharto Rp 11,5 triliun atas tuduhan telah menyelewengkan dana Yayasan Supersemar. Selain menggugat Soeharto, negara juga menggugat Yayasan Supersemar dalam kasus yang sama. Perkara ini sedang bergulir di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Keluarga Soeharto telah memasrahkan kasus itu ke tangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Kami percaya Presiden akan memberikan keputusan yang arif sesuai jasa yang telah beliau (Soeharto) berikan untuk bangsa ini,” kata Siti Hediyati, putri kedua Soeharto.
Soeharto sendiri semasa hidupnya, juga telah memberikan klarifikasi atas tuduhan tersebut. Yayasan yang pernah dikelola Soeharto diantaranya, Yayasan Dharmais, Yayasan Supersemar, Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila (YAMP), Yayasan Dana Karya Abadi (Dakab), Yayasan Purna Bakti Pertiwi. Sedangkan yayasan yang didirikan Bu Tien adalah Yayasan Harapan Kita, Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK) dan Yayasan Damandiri. Berikut penuturan Soeharto soal sejumlah yayasan yang pernah dikelolanya:
YAYASAN TRIKORA/DWIKORA
Saya bahagia bisa menyantuni sebagai pengganti daripada ayah mereka, mulai saya dari Panglima Kostrad sampai menjadi presiden. Saya akan menyampaikan apa yang saya ketahui kepada Kejaksaan Agung. Apakah itu nanti dikatakan sebagai pembelaan atau tidak, saya hanya mengungkapkan apa yang saya ketahui dan saya lakukan secara obyektif, supaya rakyat mengetahui.
Jadi ini sebenarnya ceritanya panjang.Wong saya ingin mendirikan yayasan itu, tidak pada saat menjadi presiden. Sebelum menjadi presiden saya sudah tertarik untuk membantu mengembangkan lembaga punya kegiatan sosial. (Soeharto mencontohkan: setelah perebutan Irian Barat, ada 121 janda dan 325 anak yang menjadi yatim. Untuk menyantuni dan membiayai pendidikan anak-anak tersebut diperlukan dana).
Untuk itulah pada tahun 1963 saya bentuk Yayasan Trikora. Korban-korban itu, prajurit-prajurit yang gugur, meninggal di medan tugas. Walaupun gugurnya itu dalam tugas, tapi perintahnya dari saya, saya merasa bertanggung jawab. Saya menempatkan diri sebagai pengganti ayah dan anak anak prajurit yang gugur itu.
Saya merasa terpanggil. Sebab siapa yang akan mengurus anak-anaknya itu? Ayahnya sudah gugur, lantas pada waktu itu pensiunnya hanya berapa. Lantas pada waktu itu ada yang masih dalam kandungan. Jadi ditinggal ayahnya itu masih dalam kandungan. Berarti harus mulai dipikirkan dari lahir sampai dewasa. Berarti kira-kira sekolahnya dari mulai taman kanak-kanak, SD, SMP, sampai SMA dan perguruan tinggi. Kalau paling cerdas pendidikannya cepat. Tapi kalau biasa 30 tahun. Jadi 30 tahun baru selesai mengurusi anak-anak yatim piatu itu. (Setelah Trikora, lahir pula Dwikora pada masa konfrontasi dengan Malaysia. Itu pun demikian. Pak Harto tidak duduk sebagai panglima, tapi sebagai wakil).
Dengan sendirinya saya juga bertanggung jawab. Ternyata setelah dihimpun, ada 56 janda, ditambah 175 yatim piatu. Jumlah seluruhnya Trikora dan Dwikora itu mencapai 500 anak yatim dan 177 janda. Saya sendiri kemudian sebagai ayah dari anak-anak itu. Melalui yayasan, memberikan bantuan beasiswa mulai dari taman kanak-kanak, sampai perguruan tinggi. Mereka itu perlu mengikuti pendidikan dan pelajaran. Jadi saya mengumpulkan dana. Selanjutnya dalam bentuk dana abadi yayasan, bunganya saja yang digunakan untuk membiayai kegiatan yayasan. Karena itu lantas, walaupun pengurusnya tidak saya, yang penting kelangsungannya. Karena bagiannya sedikit, pada waktu itu saya sarankan untuk tiga bulan sekali. Nah tiga bulan itu digunakan sebagai modal untuk usaha. Dan bukan untuk mencari keuntungan.
Semua berusaha untuk dompleng, semuanya usaha rantangan, usaha makanan. Dari usaha catering mereka bisa mendompleng makan. Tiap tiga bulan lantas diberikan lagi. Lantas ditaruh lagi, kemudian setelah tiga bulan diberi lagi. Sehingga modalnya itu terus ada. Sehingga ini berjalan dengan baik. Semua bisa merasakan, sampai kepada 500 orang dari pada yatim piatu tersebut, bisa menyelesaikan studinya sesuai dengan kemampuan, sampai ke perguruan tinggi.
Setelah 30 tahun ternyata banyak dari mereka yang menjadi sarjana, dan juga menjadi perwira karena memang ada yang jadi militer. Setelah kita mengadakan peringatan, tahun 1998, dan dinyatakan ke 500 orang itu sudah menyelesaikan pendidikan dan menjadi orang. Artinya, mereka bisa mempunyai bekal untuk hidup, melanjutkan perjuangan daripada orang tuanya. Saya bergembira, karena tugas itu bisa dikembangkan sendiri. Dan buat saya hanya mengajak kita bersama untuk bekerja bergotong royong menghadapi persoalan.
YAYASAN SEROJA
Tahun 1970-an kita mulai ada korban lagi dengan operasi Seroja di Timor Timur. Di Timor Timur lantas banyak korban prajurit. Walaupun saya sudah tidak bersangkutan langsung sebagai komandan, tetapi sebagai panglima tertinggi saya ikut bertanggung jawab juga. (Yayasan Seroja menyantuni putra-putri atau yatim. Tercatat ada 870 janda dan 2682 yatim piatu). Sampai sekarang masih berjalan. Sekarang kita catat dari 2682 itu masih 1478 yang masih perlu disantuni, dan ini saya perkirakan setelah tahun 2005 akan selesai. Karena dimulai tahun 1976.
Inilah pengalaman pertama mendirikan yayasan tadi. Jadi saya terpanggil menyantuni, mengentaskan yatim piatu. Dan ini merupakan kebanggaan tersendiri. Artinya, anak-anak yang tadinya tidak punya ayah, saya bisa membantu menyantuni. Saya sebagai pengganti dari pada ayah kalian. Dan mereka terasa bangga. Mempunyai ayah angkat, mulai saya dari Panglima Kostrad sampai menjadi Presiden. Dengan sendirinya kalau mereka mengambil santunan itu, mereka mengambil bantuan dari ayah mereka, dari Pak Harto. Di samping ada uang, mungkin merasakan pemberian daripada ayah mereka. Saya merasa puas. Membantu mereka mengangkat kehidupan. Padahal orang tuanya berjasa besar kepada negara.
YAYASAN SUPERSEMAR
Yayasan ini memberikan beasiswa kepada anak-anak yang pandai, tetapi orangtuanya tidak mampu. Rektor yang memilih penerima beasiswa itu, bukan Yayasan Supersemar. Di antaranya ada anak pensiunan, anak pegawai negeri, bahkan anak petani, pengusaha kecil dan sebagainya.
Alasan pendiriannya, bagaimanapun, masyarakat itu harus diikutsertakan dalam membangun bangsa. Kita harus mencari jalan untuk membiayai kader-kader bangsa yang berbakat, namun orang tuanya tidak mampu. Untuk itu kita bekerja sama dengan perguruan tinggi. Pihak perguruan tinggi mencari mahasiswa berprestasi, namun orangtuanya tidak mampu, kita berikan beasiswa.
Anak-anak yang sekolah kejuruan, ketika lulus SMP menjadi siswa teladan tapi tidak bisa melanjutkan pendidikannya, mereka juga kita berikan beasiswa dari Supersemar, asalkan melanjutkannya ke sekolah kejuruan. Ini untuk mempersiapkan tenaga-tenaga menengah. Jadi yang kita berikan adalah untuk mahasiswa yang pandai namun tidak mampu, juga untuk anak-anak tamatan SMP yang teladan, yang orangtuanya tidak mampu tapi mau masuk kejuruan.
Di samping itu, juga dikaitkan dengan program KB. Keluarga Berencana itu tidak hanya berorientasi dua anak, tapi dua anak yang sejahtera. Karena itu, anak peserta KB Lestari yang sudah 10 tahun dan 15 tahun kita berikan beasiswa. Yang menyukseskan KB, kita berikan beasiswa. Tapi untuk siswa yang di sekolah kejuruan saja. Dengan sendirinya, juga ikut menyukseskan keluarga berencana.
Untuk itu, saya mencoba mengambil pengalaman dari Trikora tadi. Dana abadi, diambil bunganya dijadikan santunan, kemudian kelebihan bunga itu dimasukkan lagi ke tabungan. Jadi menurut catatan, kalau saya tidak salah hitung, mulai tahun 1975 sampai tahun 1997, telah diberikan beasiswa kepada 233.463 mahasiswa. Yang telah lulus 54.253 sarjana. Jadi Supersemar ini telah mencetak sarjana sebanyak 54.000 lebih. Beasiswa sekolah menengah kejuruan untuk 536.670 siswa. Yang telah lulus diantaranya 154.750 siswa.
Beasiswa juga diberikan dalam rangka membangun mutu prestasi olahragawan dalam pertandingan atau perlombaan nasional, Asean, Asia dan dunia. Juga untuk mendorong olahragawan mempertahankan prestasinya yang mempunyai medali emas. Dengan demikian, baik pelatih maupun olahragawan yang terus mempertahankan prestasi tersebut, kita berikan beasiswa. Sudah ada 8.609 pelatih dan atlit yang mendapat beasiswa. Di samping itu, juga ada program S-2 sebanyak 4.364 dan program S-3 sebanyak 737 serta bantuan untuk meningkatkan para dosen.
Anak asuh yang berkaitan dengan program KB ada 843.000, dihitung sampai tahun 1997. Kita berikan pula bantuan kepada semua perguruan tinggi untuk biaya administrasi mengurusi penerima beasiswa Supersemar tersebut. Untuk peningkatan kualitas perguruan tinggi, kita membantu pengadaan laboratorium. Juga untuk pengadaan unit komputer. Sebanyak 27 perguruan tinggi telah mendapatkan bantuan unit-unit komputer.
Para penerima beasiswa dan alumninya juga membentuk organisasi. Namanya Keluarga Mahasiswa dan Alumni Penerima Beasiswa Supersemar, KMA-PBS. Sampai tahun 1994 telah tercatat anggotanya kurang lebih 796.489 mahasiswa dan alumni. Jadi merupakan suatu kekuatan sendiri.
Memang terus terang , kepada mereka tidak ada saya tekankan apa-apa. Kecuali, supaya mereka menjadi kader Pancasila yang andal. Tidak ada syarat, mereka harus membayar kembali, tidak ada. Ternyata, wawasannya dalam rangka program IDT. Untuk memerangi kemiskinan, karena masih ada sepertiga desa tertinggal. Bisa kita turunkan dari 60 persen menjadi 30 persen. Sekarang sudah naik lagi jadi 40 persen.
Dari 60.000 desa masih ada 22.000 desa tertinggal. Desa desa tertinggal itu diberikan dana revolving Rp 20 juta untuk masing-masing desa. Nah, untuk ini perlu pendamping. Sebanyak 1.000 sarjana alumni penerima beasiswa Supersemar dilatih, dan mereka tinggal di desa tertinggal selama 3 tahun. Semua prestasi mereka luar biasa. Dedikasinya baik, karena mereka merasa sudah menikmati bantuan. Karena dia diharapkan menjadi kader Pancasila sehingga lantas ingin berbakti kepada orang lain. Sebagai rasa syukur mereka dan tidak terpakasa.
Mengenai soal dana Supersemar, saya bisa jelaskan. Yang Rp 338 milyar itu, kalau bunganya 20 persen saja per tahun, kan mencapai Rp 60 milyar. Jumlah itu masih mampu untuk dilanjutkan bagi pemberian bantuan. Untuk tahun ajaran 1998/1999, telah diputuskan, akan diberikan bantuan beasiswa untuk 21.963 mahasiswa. Besar beasiswanya pun dinaikkan sesuai dengan keadaan. Kalau dulu hanya Rp 45.000 untuk rayon A dan Rp 45.000.untuk Rayon B, kita naikkan menjadi Rp 60.000 tiap bulan untuk seluruh rayon. Satu tahun, jumlahnya menjadi Rp. 720.000. Sama dengan subsidi yang diberikan pemerintah, Rp 700.000 untuk masing masing mahasiswa.
Untuk tahun yarg sama, jumlah anak asuh dan siswa kejuruan, 34.740 orang. Bantuan yang tadinya Rp 15.000 dinaikkan menjadi Rp 25.000, sesuai dengan situasi dan kondisi sekarang. Sehingga tiap-tiap anak setiap tahun menerima Rp 300.000. Untuk seluruh kepentingan itu, Supersemar pada tahun 1998/1999 perlu menyediakan Rp. 30.453.000.000.
Saya hanya mengajak beberapa orang untuk ikut duduk mengurus itu. Jadi yayasan itu merupakan badan hukum, tidak milik seseorang. Bukan milik keluarga, bukan pula milik pengurus. Tidak. Jadi, semua yayasan itu, berikut dana yang miliaran itu bukan milik saya, tetapi milik yayasan, untuk mendukung semua program yayasan.
YAYASAN DHARMAIS
Negara mana pun mem-butuhkan pengusaha-pengusaha besar, termasuk yang disebut konglomerat itu. Tapi diisukan seolah-olah pemerintah itu yang membesarkan konglomerat. Sebetulnya konglomerat lahir karena pemerintah menggugahnya. Produk yang dihasilkan perusahaan itu untuk rakyat. Sekarang, kepemilikannya diperluas dengan menjual sahamnya di bursa. Dengan demikian, tidak ada lagi monopoli kepemilikan saham konglomerasi itu.
Tapi orang menilai seolah-olah saya itu keliru. Padahal itu merupakan proses. Buktinya, konglomerat di sana habis, produksi tidak jalan. Kebutuhan rakyat pun jadi tidak dapat dipenuhi. Ini suatu bukti, bahwa saya yang disalahkan itu tidak seluruhnya salah. Karena proses, lalu disalahkan seolah tidak ada keadilan. Keadilan itu nantinya adalah dengan menjual saham di bursa itu. Dengan sendirinya orang banyak yang memiliki.
Untuk mengatasi ekonomi dan memerangi kemiskinan, terutama anak yatim piatu, berdasarkan pengalaman tadi, saya ajak yang sukses itu. Mereka yang sukses itu jangan hanya menikmati kesenangan hidup di dunia saja, tapi coba memikirkan yang akhirat. Karena itu mereka saya ajak. Sebagian dari penghasilan mereka disumbangkan kepada orang-orang miskin. Dalam rangka PMA, bukan penanaman modal asing, tapi penanaman modal akhirat.
Untuk itu saya minta membantu dengan sebagian dari labanya. Dua persen dari laba Rp 100 juta rupiah ke atas supaya disumbangkan. Jumlahnya tidak sedikit mereka dengan sukarela menyumbang.
Ada juga sumber lain, misalnya bank. Di anggaran dasar masing-masing bank BUMN disebutkan, dalam keuntungan ada 5 persen dana sosial. Karena mereka tidak mampu menyalurkannya, Menteri Keuangan menetapkan untuk disalurkan lewat Dharmais. Dengan demikian sumber dana Dharmais yang 5 persen dari keuntungan bank BUMN itu —yang memang untuk sosial — bukan dengan memaksakan uang bank, tapi memang karena sudah dicadangkan untuk sosial.
Sampai sekarang, dengan cara-cara yang demikian kita telah membantu 1.168 panti sosial di seluruh Indonesia dengan 51.433 penghuni. Karena kita berprinsip tidak memonopoli pemberian bantuan, yakni hanya oleh Dharmais yang membantu, maka tidak seluruh penghuni panti dibantu, hanya 75 persen. Tetapi terus-menerus, walaupun jumlahnya tidak banyak.
Bantuan itu dimulai dengan beberapa ribu rupiah. Terakhir jadi Rp 30.000. Dan kini kita genapi lagi menjadi Rp 45.000/bulan. Selain itu, juga sudah ditingkatkan kesejahteraan penderita katarak. Tidak hanya biaya operasi kataraknya, juga penginapan dan transport para dokter. Untuk itu kita kerja sama dengan Perdami (Persatuan Dokter Spesialis Mata). Tentunya dokter-dokter ini adalah anggota-anggota yang sukarela, yang penuh pengorbanan.
Juga dibuatkan 5 unit mobil kesehatan yang dilengkapi dengan peralatan, agar pasien di situ tidak kerepotan jauh-jauh ke rumah sakit. Hingga tahun 1998 sudah dibantu 63.361 orang yang buta katarak menjadi melek kembali.
Di samping itu, mulai tahun 1997-1998 dimulai pula operasi bibir sumbing, karena bibir sumbing banyak yang menimbulkan masalah yang kompleks. Tahun 1997-1998, programnya di Jabotabek dulu, bersama NTB dan NTT. Ini sudah membantu 530 orang melalui operasi. Ada yang dioperasi total, ada yang lokal. Umumnya, 75 persen dioperasi total, jadi biayanya lebih tinggi daripada lokal. Untuk tahun berikutnya akan kita tingkatkan pelayanan terhadap 1.000 pasien. Kerja sama kita dengan Perhimpunan Dokter Ahli Bedah Plastik Indonesia (Perapi).
Yayasan Dharmais juga membantu orang cacat tubuh. Yakni lebih kurang 7.449 orang. termasuk tunanetra 3.365 orang dan juga cacat veteran. Sebagian yang cacat veteran itu sudah punya rumah. Seluruh rumah yang diminta 4.000 unit, tapi yang telah kita selesaikan 2.810 unit ruman sederhana. Pemda menyediakan tanahnya, Yayasan Dharmais menyiapkan bangunannya. Kemudian diserahkan ke mereka ini.
Dharmais juga melatih transmigrasi yang hingga sekarang ada 24.092 KK, jumlah jiwanya 86.110. Mereka yang mau transmigrasi kita latih di Bogor. Magetan, Wates. Dilatih bersama anaknya dan keluarga selama tiga bulan. Setelah dilatih lalu ditransmigrasikan dan umumnya mereka menjadi teladan.
Ada juga kerjasama dengan Majielis Ulama Indonesia (MUI) untuk melatih 3.000 da’i dan 1.000 imam untuk daerah transmigrasi. Mereka di sana diperlakukan sebagai transmigran. Tapi sebelum dia berhasil di sana, karena menjadi da’i dan mengajar, diberikan dulu honor dengan kontrak tiga tahun Rp100 ribu tiap bulan. Kita berikan juga satu sepeda untuk bekal. Di samping sebagai alat transportasi dalam memberikan dakwahnya. Seluruh bantuan Dharmais itu tiap tahun berjumlah kurang lebih 29.5 miliar rupiah.
Dharmais juga membangun Rumah Sakit Kanker Dharmais. Tanahnya milik yayasan. Kemudian Dharmais mendirikan bangunannya berikut alat-alatnya. Setelah selesai, diserahkan kepada Departemen Kesehatan. Jadi RS itu bukan milik yayasan lagi.
Rumah sakit sendiri belum mampu melakukan seluruh kegiatan operasional dengan biaya sendiri, bahkan harus dibantu dengan biaya tambahan. Untuk itu, dibentuklah Dewan Penyantun, yang memberi bantuan agar RS bisa berjalan. Nanti. kalau Departemen Kesehatan sudah mampu, ya silahkan baik mengenai pemilikannya maupun pengelolaannya. Silahkan.
Yayasan Dharmais itu menyatukan depositonya, surat-surat berharga dan saham menjadi dana abadi. Semua diaudit, diperiksa dan diteliti oleh Kejaksaan Agung. Kalau yang deposito itu jelas, bunga deposito sudah tahu. Dengan bunga deposito, program-program tahunan bisa dilaksanakan.
YAYASAN DAKAB
Mengenai Yayasan Dakab (Dana Karya Abadi), yang semula didirikan untuk mendukung Keluarga Besar Golkar – bukan Golkar saja – dalam usaha mempertahankan Pancasila dan UUD 1945, mengawal, melengkapi dan membentengi diri dan perjuangan-perjuangan lainnya seperti Pemilihan Umum dan sebagainya.
Yayasan Dakab itu sendiri bukan milik Golkar. Golkar hanya menerima dana saja, menerima apa yang dibutuhkan. Dana paling besar diberikan Dakab kepada Keluarga Besar Golkar. Tapi, tidak hanya kepada Golkar, melainkan juga kepada yang lain. Walaupun sebagian besar bantuan itu diberikan kepada Golkar dalam rangka mempertahankan Pancasila dan UUD 1945 tadi.
Jadi, ini bukan bantuan Dewan Pembina atau DPP Golkar, atau pertanggungjawaban (Dakab) ke DPP Golkar, tidak! Ini merupakan bantuan dari pendiri untuk membantu Keluarga Besar Golkar dan sebagainya. Rupanya, ada orang-orang dari Golkar yang menuntut, mana uangnya ini? Disangkanya ini milik Golkar. Sampai rekening depositonya segala ditanya berapa banyak.
Saya jelaskan, Dakab mempunyai deposito dan surat-surat berharga, mempunyai usaha, tidak mendirikan usaha sendiri. Seperti juga Dharmais dan sebagainya. Jadi Dakab untuk pembangunan pengamalan Pancasila. Kemudian Yayasan Dakab yang semula didirikan untuk membantu keluarga besar Golkar, semenjak tahun 1998, diubah tujuannya untuk membantu mengentaskan kemiskinan di beberapa propinsi yang dianggap rawan, misalnya Jawa Timur, Jawa Tengah, NTT, dan sebagainya.
Melalui penempatan modal pada Bank Pembangunan Daerah (BPD) Yayasan ini membantu kelompok keluarga miskin dengan modal usaha dengan bunga rendah, sehingga keluarga miskin itu dapat makin mandiri dan akhirnya bisa menyekolahkan anak-anaknya serta membantu membentuk sumber daya manusia yang tangguh. (Achmad Subechi/berbagai sumber/naskah ini pernah dimuat di www.kompas.com)













