Soeharto Pernah Jadi Pedagang Burung Parkit

Monday, 28-1-2008 | 14:23 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

SOEHARTO kini telah tiada. Ucapan dan tindak-tanduknya akan menjadi catatan sejarah. Dibalik penampilannya yang kharismatik dan berwibawa saat berkuasa, Soeharto ternyata memiliki pegangan hidup. Ada nilai-nilai yang ia percayai ketika harus menolong manusia lain. “Begini, ya… kalau menolong orang supaya dituliskan di atas pasir, sehingga cepat hilang. Tapi kalau ditolong orang, tulislah di batu supaya jangan hilang. Jadi tulis di batu supaya merasakan telah ditolong dan akan mendorong diri sendiri ingin membantu orang lain. Itu falsafahnya,” ujarnya suatu hari.

Ketika menjadi prajurit, Soeharto tak segan-segan mencari uang tambahan agar dapurnya tetap mengepul. Nah, orang yang ia percaya untuk mengendalikan keuangan keluarganya adalah Ibu Tien Soeharto, sang istri tercintanya. “Ibu almarhumah (Ibu Tien) malah sempat ngempit batik,” kenangnya suatu hari setelah ia lengser dari kursi kekuasaannya.

Salah satu usaha yang pernah ia lakukan adalah berternak burung parkit. Waktu itu Soeharto masih tinggal di Solo dan menjadi seorang komandan. Binatang hasil ternakannya, lalu ia jual. Agar usahanya berhasil, lelaki itu tak segan-segan melakukan inovasi. Misalnya, soal pakan ternak ia memberikan alternatif lain, ngirit biaya pengeluaran.

“Karena jawawut mahal, makannya saya ganti beras merah. Hasilnya cukup bagus,” ungkapnya sambil tersenyum, mengenang masa lalu.Nah berapa keuntungannya? Untuk soal itu, Soeharto tidak ikut campur. Masalah itu ditangani sang istri. (Achmad Subechi/berbagai sumber)

Leave a Reply