Pengakuan Hadi A Wayarabi Al Hadar (3)

Thursday, 31-1-2008 | 14:50 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

Keluarga Saya Panik

BUAH korupsi telah melahirkan ketidaktenangan buat para pelakunya. Di usia senjanya, mereka harus ‘menikmati’ betapa pedihnya tinggal di balik terali besi. Ada beberapa tokoh atau publik figur di negeri ini yang hidup dalam ketidaknyamanan. Hubungan tali silaturahmi dengan keluarga, sanak keluarganya dan cucu-cucunya tercerabut begitu saja, akibat perilaku mereka di masa lalu. Adalah Drs Hadi A Wayarabi Al Hadar. Sejak tahun 1968, ia sudah bekerja di Departemen Luar Negeri (Deplu) pada Direktorat Organisasi-Organisasi Internasional (Dit OI). Tahun 1979-1984 ia dipercaya menjadi utusan tetap RI untuk PBB di New York. Berikut penuturannya:

SAYA akan terus menyuarakan kebenaran walaupun pahit akhirnya. saya berkeyakinan dan terus memohon kepada Allah Swt agar saya diberi kesehatan, kekuatan, perlindungan dan hidayah serta ikhlas berserah diri terhadap kehendak-NYA.

Tanggal 9 Mei 2007, surat panggilan datang. Saya dijadikan tersangka oleh KPK. Tidak hanya sebatas tersangka, tetapi saya juga ditahan. Semula hanya dua puluh hari, kemudian diperpanjang lagi hingga berbulan-bulan. Saya, keluarga saya panik dan kecewa luar biasa.

Istri dan anak-anak saya hanya bisa tawakal kepada Allah Swt. Saya selalu berdoa semoga musibah ini diangkat Allah dan tidak menjadi beban yang terasa berat kepada kami. Kami juga yakin bahwa dibalik musibah ini, ada hikmahnya.

Setelah mendengar dan melihat serta membaca pemberitaan media atas status saya, bukan hanya keluarga dekat saya yang merasa kecewa, kesal dan menyesalkan kejadian yang menimpa saya. Mereka tidak mampu berbuat apa-apa. Simpati datang dari sanak famili dan teman-teman dari dalam dan luar negeri dengan pertanyaan yang bertubi-tubi karena mereka ingin tahu duduk masalahnya. Mereka hanya mampu menenangkan dan menganjurkan agar saya bersabar dan bersabar, karena musibah ini sepertinya tidak terelakan. (achmad subechi)

Leave a Reply