Sumidjan… (1)
Thursday, 31-1-2008 | 15:34 WIB |
TULISAN ‘Tiga Pilar Award 2007 Penghargaan Bagi Penggiat Anti Korupsi’ terpampang di kaki trophy yang terbuat dari kaca.Trophy itu diletakkan di atas meja kerja saya. Saya sempat memandangi trophy itu sejenak. Lalu saya tersenyum dan tersenyum….
“BOLEHLAH… sebuah perjuangan yang tak sia-sia. Tapi, konsekuensinya dalam lho. Anda tidak bisa seenak udelnya setelah menerima trophy ini. Sikap dan segala tindak tandukmu tolong dijaga. Jangan sampai inkonsisten. Paling tidak ketika pulang ke Bontang, sampean harus memberi contoh kepada masyarakat lainnya. Jadikan, Bontang sebagai proyek percontohan yang masyarakatnya peduli pada gerakan anti korupsi,” pesan saya kepada Sumidjan, satu dari tujuh orang anak bangsa yang Rabu (31/1) kemarin mendapatkan penghargaan dari Menag PAN Taufik Effendi, sebagai manusia penggiat anti korupsi.
H Hamzah MD –mantan anggota DPRD Bontang– yang dikenal sebagai koruptor insyaf dan kebetulan duduk bersebelahan dengan Sumidjan, hanya mengangguk-anggukan kepala. Sumidjan sendiri cenderung terdiam. Ia tidak menyangka kalau bakal mendapat penghargaan seperti ini. Siapa Sumidjan? Dia adalah teman lama saya ketika saya bertugas di Kalimantan Timur –Tribun Kaltim. Ia dan saya sangat peduli dan amat peduli dengan gerakan anti korupsi.
Bangsa ini tidak akan menjadi bangsa yang cerdas kalau di dalamnya masih bercokol para koruptor. Koruptorlah biang segala bencana yang mengakibatkan negeri ini kaya akan pembangunan infrastruktur, akan tetapi sesungguhnya jiwa bangsanya kosong karena dihadapkan kepada tuntutan hidup yang hanya mengandalkan kekuatan otok, bukan akal.
Beberapa hari lalu Sumidjan menghubungi saya via telepon. Ia mengabarkan akan mendapatkan award dari negara. Lagi-lagi saya hanya tersenyum. Mengapa? Esensinya, bukan terletak pada award atau penghargaan semata. Itu terlalu kecil… Sumidjan… Lebih penting adalah, negara melalui Tiga Pilar, tela memberikan legitimasi bahwa anak-anak di negeri ini harus ikut berjuang dan berjuang melawan para koruptor dengan pikiran yang cerdas dan bukan kekerasan.
Para koruptor bukan manusia bodoh. Untuk itu mereka harus dilawan dengan kecerdasan dan bukan dengan kebodohan. Manusia Indonesia harus bersiasat, demi kebaikan bersama. Membiarkan koruptor mengerogoti negeri ini, sama dengan membiarkan negara ini runtuh dan tinggal namanya –pada satu titik tertentu. Untuk mengenal Sumidjan lebih jauh, saya akan turunkan beberapa tulisan di blog ini.
***
NAMANYA Sumidjan. Sehari-hari ia bekerja sebagai penjual es campur di Bontang, Kalimantan Timur. Pendidikannya hanya SLTP. Walau pendidikannya terbilang rendah, namun lelaki itu tergolong manusia cerdas. Kadar intelektualnya tak boleh disepelekan.
Ia cepat memahami berbagai macam persoalan (kasus korupsi) yang terjadi di kotanya.
Kalau dilihat tampangnya (maaf), Sumidjan bukan tipe pria metropolis. Penampilannya biasa-biasa saja, mirip wong ndeso. Rabu (31/1) hari ini Sumidjan mendapatkan Tiga Pilar Award 2007 dari Meneg PAN Taufik Effendi. Berikut sosok Sumidjan.
Meski sebagai penjual es campur, Sumidjan memiliki jabatan yang lumayan disegani yaitu sebagai Koordinator Bontang Watch dan Walikota LIRA (Lumbung Informasi Rakyat). Lembaga nonprofit itu selama ini cukup ditakuti para pejabat karena terlalu keras dalam mengontrol para koruptor.
Sumidjan bukanlah tokoh LSM yang ecek-ecek alias mudah dibeli dengan uang. Ia benar-benar pribadi yang memiliki idealisme. Integritasnya sudah teruji. Ia menolak menjual data menyangkut KKN di Bontang.
“Kebenaran tak bisa dikendalikan dengan uang Sam,” katanya. Setiap kali datang ke Jakarta, Sumidjan selalu membawa beberapa gebok data-data. Isinya berbagai macam kasus korupsi hasil investigasi yang telah dilakukannya bersama masyarakat Bontang. “Saya jengkel.Sudah berapa banyak instansi pemerintah yang saya datangi. Tapi mereka tidak respek dan peduli pada hasil investigasi yang kami lakukan. Lalu kami mau mengadu ke mana lagi?” tutur Sumidjan, mengeluh.
Hampir semua data yang ia bawa dari Bontang, sudah pernah diberikan ke Istana Presiden, Kejaksaan Agung, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), DPR, Indonesia Corruption Watch (ICW) dan semua lembaga yang dianggap bisa menindak para pelaku korupsi.
Suatu hari, ketika melakukan aksi demo bersama beberapa gelintir rakyat Bontang di KPK, terlihat Sumidjan mengadukan nasibnya kepada sebatang pohon. Ia kesal, karena KPK tak lagi punya taring, alias tebang pilih dalam memberantas korupsi. Disaksikan puluhan wartawan, Sumidjan mengadu kepada pohon. Cara paling unik itu ia lakukan, karena para penegak hukum di negeri ini tak merespon sama sekali.
“Saya tidak takut mati Sam. Negeri ini harus diselamatkan. Cuma mengapa ya… KPK kok mandul? Lalu saya harus mengadu ke mana lagi?” keluhnya. Kalau dihitung, mungkin lebih dari empat kali Sumidjan mendatangi Istana Kepresidenan hanya memberikan berkas-berkas KKN yang melibatkan sejumlah pejabat di Bontang. Belum lagi ke gedung KPK, Kejaksaan Agung, serta Mabes Polri. (Achmad Subechi)