Sumidjan (2-habis)

Thursday, 31-1-2008 | 16:14 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan


PERNAH suatu hari, Sumidjan mengeluh. Semua instansi yang ia datangi tak ngefek dengan laporan yang telah ia berikan. Satu-satunya jalan, ia ingin menemui wakil rakyat, anggota DPR. Seorang anggota DPR ada yang bersedia menerima Sumidjan. Tak pelak ia merasa senang dan bangga karena sang anggota DPR itu mau menerimanya dengan tangan terbuka dan siap mengusut setiap kasus KKN di Bontang, Kalimantan Timur.

SEMINGGU kemudian, Sumidjan merasa ada kejanggalan. “Ini kok rada aneh. Ada seorang wanita yang datang ke kantor saya dan meminta berkas KKN lagi. Katanya suruhan anggota DPR yang sedang melakukan investigasi. Apa wanita itu perlu saya beri data lagi ya,” tanya Sumidjan.

Ketika dikonfirmasi, dari balik gagang telepon, lelaki itu membenarkan. Tunggu punya tunggu, ternyata power anggota DPR itu lagi-lagi tak ngefek (berdampak). Data-data yang sudah diberikan sekan-akan tak bisa berbicara, entah apa sebabnya.

“Kapan kasus KKN di Bontang ditindaklanjuti? Kok diam saja,” tanya Tribun kepada sang wakil rakyat. “Iya ini sedang berjalan. Saya justru nunggu perintah dari Anda,” katanya. Lho Apa maksudnya? “Iya terserahm Anda. Kalau mau diteruskan ya diteruskan, kalau mau dimainkan ya dimainkan…” jelasnya enteng.

Jawaban itu tentu mengejutkan. Mengapa? Andai saja ada 100 orang wakil rakyat yang bermental seperti itu, negeri ini pasti bangkrut alias amburadul. Entah ada hubungannya atau tidak, yang jelas beberapa bulan kemudian anggota DPR tersebut sudah tak lagi duduk manis di kursinya. Ia terpental dari Senayan.

Sumidjan bahkan pernah mengirim SMS kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ny Ani Yudhoyono, Hendarman Supandji (Jaksa Agung) dan sejumlah pejabat KPK. Lelaki itu memang kesal dan amat kesal. KPK yang katanya sebagai lembaga pemberantas korupsi di negeri ini, dinilainya mandul.

Selain penjual es, Sumidjan termasuk paling getol demo. Kalau didaftarkan di Museum Record Indonesia (MUR)I, aksi demo yang dilakukannya bisa tercatat sebagai demo paling abadi di Kota Bontang. Hampir setiap hari Sumidjan membawa teman-temannya demo ke jalan-jalan, menggalang gerakan antikorupsi.

Terakhir, ia memberikan ‘kuliah umum’ kepada masyarakat setempat. Ada dialog setiap kali ia menyuarakan aspirasinya di depan kantor instansi yang membidangi masalah hukum. Baginya, gara-gara para koruptor yang tak bermoral, negeri ini menjadi terpuruk dan rakyat kecil terlunta-lunta. “Saya berjuang atas nama Allah….. Kami tidak mempunyai motivasi apa-apa, kecuali hanya menegakkan kebenaran. Saya ingin menjadikan Bontang sebagai kota yang bersih dari korupsi,” tutur Sumidjan.

Nama Sumidjan cukup tenar di Kota Bontang. Ia berkali-kali diperiksa polisi gara-gara melakukan demo dan mengkritik penguasa di kota itu. Sekali tempo, Sumidjan babak belur dihajar preman saat melakukan demo. Wajahnya babak belur.

Selang beberapa hari kemudian Sumidjan dilaporkan ke polisi. Ia divonis tiga bulan penjara. Sumidjan kini masih mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA). Ia butuh bantuan pengacara, namun tak seorangpun mau membantu.

Pernah suatu hari rumahnya nyaris dibakar. “Saya tak lagi bisa hidup di Bontang. Dalam beberapa hari ini saya sedang mencari tempat untuk dagangan. Ada beberapa tempat yang sudah saya pilih untuk berjualan es campur. Setelah tempat itu saya perbaiki, tiba-tiba sang pemilik rumah membatalkan perjanjian kontrak.Saya pusing, mengapa hidup saya seperti ini,” keluh Sumidjan. (achmad subechi/naskah ini sudah dimuat di www.kompas.com)

Leave a Reply