Teman Lama

Friday, 8-2-2008 | 8:04 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

Bertemu di Kota Minyak

ALUNAN musik itu terdengar membahana di Tavern Pub, Balikpapan. Malam semakin larut, sementara hinggar-binggar suara musik masih terdengar dengan kerasnya. Beberapa pemain band pria, terlihat berasyik-masyuk memainkan alat musik.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 01.30 dinihari. Saya masih duduk di kursi deretan bagian belakang, sambil menghisap rokok dalam-dalam. Lagu-lagu berirama keras yang menghentak-hentak, membuat tangan saya semakin ‘gatal’ ingin bergabung dengan para pemain band.

Saya lihat di panggung, ada dua konga yang dimainkan seorang pria. Saya amati cara lelaki itu memukulkan telapak tangannya. “Ah… kurang pas,” pikir saya. Saya nekat naik ke atas panggung, mendekati pemain konga. Saya minta izin agar boleh bermain menabuh konga. “Ehm… lagu apaan setelah ini?” tanya saya.

Seorang pemain band menyahut. “Bagaimana kalau rock androll aja?” Okey… Musik pun kembali bergema. Para pengunjung terlihat ada yang naik di atas meja sambil berjingkrak-jingkrak. Usai satu buah lagu, pemain band segera menimpanya dengan lagu-lagu berikutnya berirama cha-cha. Pengunjung pun lalu berdansa ria.

Dinihari itu, ada sekitar empat buah lagu yang saya iringi dengan konga. Setelah itu, saya kembali ke meja. Para pemain pun beritirahat. Saat sedang melamun, mengenang masa lalu , para pemain band tiba-tiba datang ke meja saya untuk berkenalan. “Mas… Kalau melihat pukulan Anda tadi saat memainkan konga, saya teringat teman saya di Surabaya… Pukulannya, hampir sama,” kata pria berambut keriting kepada saya.

“Oh… Anda semua dari Surabaya? Apa nama group bandnya? Trus siapa lelaki yang Anda maksud?” tanya saya. “Namanya Bechi… Saya enggak tahu dia sekarang ada dimana. Dulu kami satu group ketika masih duduk di bangku SMA.” “Bechi rumahnya dimana?” pancing saya. “Rumahnya dekat kampung saya, di Jalan Pacarkembang, Surabaya,” jawab lelaki itu.

Saya lalu balik mengajukan pertanyaan. “Dulu saya juga punya teman di Pacarkembang. Dia pemain musik juga. Namanya Ilham.” “Hah…. Ilham? Ilham itu ya saya. Berarti sampean ini Bechi ya…?” Begitu saya mengangguk, semuanya pada ketawa. “Oh… asu… iki (anjing kamu ini –dialek kasar ala Suroboyoan). Ada apa kamu di Balikpapan?” tanyanya.

Kami semua kemudian berpelukan. Ternyata, sebagian diantara mereka adalah teman satu group ketika saya masih muda. “Kalau yang ngedrum ini, anaknya Mas Jarwo. Dulu ketika kita main band, dia masih kecil,” jelas Ilham. “Ki (bechi) tahu enggak Didik, teman satu group kita? Dia sekarang juga ada di Balikpapan. Besok malam dia main di Hotel Grand Senyiur. Kamu temui saja besok,” ungkap Ilham.

Pertemuan tak diduga itu, benar-benar membuat hati saya gembira. Maklum, sudah lebih dari 17 tahun kami tak pernah bertemu teman-teman lama. Kalau mereka selepas SMA fokus ke musik, saya lari ke dunia jurnalistik. Sejak berpisah dengan mereka, saya benar-benar kehilangan kontak. Mereka sendiri telah melalangbuana ke sejumlah kota besar di Indonesia untuk menghibur para pencari kenikmatan di hiburan malam.

Berapa honor yang mereka terima? Kata Ilham, biasanya group mereka ini dikontrak selama beberapa bulan. Taripnya berkisar antara Rp 35-45 juta per bulan. Uang tersebut kemudian dibagi secara merata. Kalau penyanyinya, biasanya Ilham Cs lebih suka mengambil penyanyi lokal. Honor artis lokal lebih murah dibanding mendatangkan artis dari Surabaya. “Kalau bandnya Didik, lebih mahal Ki (Bechi). Bisa di atas Rp 45 juta sebulan. Kenapa? Karena kualitasnya memang enak,” jelas Ilham.

Esoknya saya sengaja menyempatkan diri datang ke Hotel Grand Senyiur. Di hotel ini ada tempat tongkrongan kelas elit. Namanya, Lamaru Pub. Ketika saya nongkrong di sana, saya amati satu persatu para pemain bandnya. “Mana Didik? Kok enggak ada” kata saya dalam hati. sampai acara bubar, saya masih belum bisa mengidentifikasi teman lama saya.

Saya datangi seorang penyanyinya. “Tolong panggilkan pemain bas. Namanya Didik ya?” Sang penyanyi itu lalu bergerak menemui Didik. Begitu bertemu saya, Didik langsung memeluk saya. Ia tidak menyangka jika pertemanan yang cukup lama itu akhirnya dipertemukan kembali oleh Tuhan di Balikpapan. Terima kasih Tuhan… terima kasih…. Berkat Engkau, tali silahturahmi kami terjalin kembali.

Didik Cs, selama ini mengaku kerap mengisi pub di beberapa kota, mulai dari Bali, Batam, Balikapan, Surabaya dan beberapa kota lainnya. “Kakak saya kapan hari tampil di Taiwan… Saya sih, cari duit di dalam negeri saja,” kata Didik sambil cengegesan… (achmad subechi)

Leave a Reply