Valens Doy
Friday, 8-2-2008 | 12:38 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan
Surya, Valens Doy, dan Indonesia Timur
SEBAGAI salah satu di antara beberapa orang yang terlibat dalam proses kelahiran Harian Surya 18 tahun lalu, saya ingin bernostalgia saat awal koran ini diterbitkan. Sudah barang tentu tulisan ini bersifat personal-subjektif.
MERENUNG kembali awal terbit Surya, perjalanan dan eksistensinya hingga saat ini, maka harus mengenang dan menyebut dengan penuh hormat satu nama: Valens Goa Doy (almarhum), sang guru. Pria kelahiran Flores tahun 1945 yang di kalangan rekan-rekan kerja, para anak buah, dan para mantan anak didiknya selalu disapa dengan panggilan akrab Si Oom adalah perintis dan pendiri Surya bersama dengan Herman Darmo dan Max Margono. Ketiganya dapat disebut sebagai the founding fathers dari Surya.
Sebagai bagian dari usaha penerbitan dalam Kelompok Kompas Gramedia yang mulanya bekerja sama dengan Pos Kota Group sejak awal 1989 sejumlah wartawan Kompas dikerahkan. Ada sejumlah wartawan senior Kompas lain yang dilibatkan antara lain H Fahmi Myla, H Yamin Indas, Anwar Hudijono, Trias Kuncahyono (sekarang Wapemred Kompas), Basuki, dan saya bersama Yesayas Octavianus yang mulai bergabung medio 1989. Kemudian disusul Peter Gero. Inilah pasukan ‘Kopassus’ yang diterjunkan mempersiapkan kelahiran Surya.
Tim ‘Kopassus’ ini diperkuat sejumlah nama antara lain Pak Marcel, Uki M Kurdi (sekarang Pemred Tribun Timur, Makassar), wartawan senior Surabaya Mas Hadiaman Santoso, budayawan H Anshari Thayib, pendeta sekaligus seniman (dan karena itu biasa nyeleneh) almarhum Julius Syaranamual, dan Halim Mahfudz atau Gus Iim (sekarang vice president sebuah perusahaan multinasional di Jakarta).
Calon wartawan yang memperkuat redaksi digembleng dengan keras oleh Valens Doy bersama asistennya di bidang pelatihan jurnalistik, Trias Kuncahyono. Maaf jika saya hanya menyebut nama beberapa. Eddy Sutjipto, Siane Indriani (kini keduanya eksekutif pada stasiun TV nasional di Jakarta), Nanik Deyang dan Budi Purnomo (keduanya sekarang bos dari suatu kelompok media di Jakarta), Herryanto Prabowo, Alfred Lande, Asmanu, Mbak Tini, Herman Kiwanuka, Bechi. Selain itu ada Effendi Choirie, sang vokalis dari Senayan (sekarang Ketua Fraksi PKB dan Wakil Ketua Komisi I DPR RI), juga Josef Umarhadi (Frkasi PDI-P dan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI).
TENTU semua punya kenangan dan kesan yang mungkin berbeda. Yang pasti semua mengakui Si Oom sebagai figur sentral dalam seluruh proses. Berkarakter keras dan tegas nyaris tanpa kompromi, seorang pekerja keras bahkan tergolong workaholic tetapi memiliki hati teramat lembut, perasa, dan sangat peduli nasib orang lain. Agar tidak subjektif saya kutip pernyataan orang di luar lingkaran Surya. Radhar Panca Dahana, esais dan budayawan. “Seorang lelaki kecil berbadan keras, berhati keras, berkepala keras, namun berjiwa lemas, Valens Goa.”
Valens jurnalis jempolan. Banyak orang mengenangnya sebagai wartawan olahraga terbaik di Indonesia yang belum tertandingi. Tentang penilaian itu saya tidak ingin berkomentar lagi karena dia telah menjadi legenda. Valens juga piawai dalam analisis bisnis dan ekonomi, bahkan banyak yang tidak tahu, dia juga penyair tahun 1970-an.
Kami dan seluruh wartawan generasi pertama Surya terbiasa bekerja tanpa batas waktu. Bermarkas di Jl Basuki Rahmat, Surabaya, rata-rata pekerjaan redaksional dimulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 02.00 dini hari berikutnya. Tak jarang baru tidur sebentar kami dibangunkan Si Oom pukul 05.00 WIB untuk rapat.
Para pedagang makanan di Embong Blimbing yang menjual pecel, rawon, pecel lele, soto kikil, soto Madura, nasi goreng Lamongan, tahu petis, dan rujak cingur pasti hafal dengan kelakuan wartawan Surya yang nongkrong di sana setelah pukul 02.00 WIB. Jika ada tambahan rezeki sedikit, Mas Basuki dan Bechi biasa menambah porsi jamuan lewat tengah malam itu dengan beberapa botol bir bintang atau bir hitam.
Penerbitan sebuah media pers tidak lepas dari visi, misi, dan tujuan pendirinya. Pers Indonesia awalnya alat perjuangan penuh idealisme. Seiring waktu, media pers juga menjadi institusi bisnis. Maka ada juga kepentingan profit secara ekonomi. Ini wajar di era globalisasi yang mengutamakan mekanisme pasar bebas.
Penerbitan Surya pada 1989 juga harus dipahami dalam perspektif ini. Ketika menerima tanggung jawab menjalankan misi penerbitan pers daerah termasuk Surya, Valens sangat sadar ada dua sisi berbeda dari satu mata uang dalam media pers. Pasti ada tolak-tarik kepentingan yang sering menyerap habis energi dan pikiran, bahkan menekan batin.
Meminjam ungkapan Bung Hatta, Valens harus mampu ‘mendayung di antara dua karang’. Di bawah kepemimpinan Valens dan Herman Darmo, kami menyadari tekanan masalah ini. Namun Si Oom selalu menegaskan, “Teruslah bekerja secara profesional dan mengikuti idealisme kalian. Masalah bisnis urusan saya dan Herman”.
Sebagai putra Flores dan berdasarkan pengalaman sebagai Redaktur Daerah Kompas, Valens sangat menyadari wilayah Indonesia yang sangat luas tak bisa seluruhnya diurus Jakarta. Harus ada pendelegasian wewenang. Sejak awal 1980-an dia sudah terobsesi memajukan kawasan Indonesia Timur (Intim). Tak hanya lewat tulisan Kompas, dia juga melakukan lobby dan pendekatan pribadi ke sejumlah tokoh Intim di antaranya A Baramuli, Frans Seda, HM Aksa, Jusuf Kalla yang bisa disapanya dengan Daeng Ucu, dan sejumlah tokoh Intim. Mungkin itu adalah embrio otonomi daerah.
Dalam konteks itu bisa dipahami, mengapa saat pertama terbit, Surya menyandang amanah: Suara Jawa Timur, Suara Indonesia Timur. Tentu, dengan berjalannya waktu, Surya perlu melakukan penyesuaian. Dan obsesi Si Oom tentang Intim tampak makin pudar.
September 2000 saya diminta Presiden KH Abdurrahman Wahid memimpin Kementerian Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia (PPKTI), Si Oom menelepon saya dari Denpasar, Bali. Saya tersadar, obsesi Si Oom belum sirna. Ketika saya kembali dipercaya menjadi Menteri PPKTI di bawah Presiden Megawati Sukarnoputri (2001-2004), Si Oom bersama Nanik Deyang dan Budi Purnomo mengunjungi saya di kantor sambil membawa setumpuk fotokopi bahan-bahan tentang Indonesia Timur. Sama semakin sadar obsesi Si Oom tidak sirna. Sebaliknya semakin terwujud.
Si Oom telah berpulang ke pangkuan Tuhan, 3 Mei 2005 di Denpasar, Bali. Tetapi roh dan spiritnya akan tetap hidup di hati para wartawan Surya saat ini. Suatu generasi baru wartawan yang lebih profesional dan pasti memiliki idealisme. Selamat ulang tahun Harian Surya! (10 November 2007/Manuel Kaisiepo)













