Tuesday, 12-2-2008 | 5:04 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

Ilusi

pulau itu teramat indah
bunga setaman penuh warna-warni
desis ikan-ikan bernyanyi
berhembuslah angin di pantai

kali ini aku merasa lelah
lelah hati, lelah pikiran, lelah jiwa
kapankah kita bisa berlabuh
di pantai yang kita rindukan?

akan kemanakah kita ini
terlempar jauh dan teramat jauh?
sampai dimanakah kita ini
tak tampak lagi kaki langit
lelah dan lelah menanti terlalu lama

bahtera ini memang terlalu kecil
ia gampang terombang-ambing diguncang angin
lalu terlempar jauh dan teramat jauh
aku dan anakku merindukan bahtera itu berlabuh
aku rindu bercengkerama dengan semuanya

sampai kapan? Belum kutemukan jawabannya
ia semakin jauh tak tentu arah
terombang-ambing meninggalkan kaki langit
terombang-ambing menanti asa
tak kunjung tiba…

anakku bertanya?
akan kemanakah kita ini?
benarkah di sana ada pulau nan indah?
kapankah kita akan berlabuh?
kapankah kita akan mendengar
desis ikan-ikan itu bernyanyi?
kapankah kita mendengar
tembang-tembang manis
penentram dan penyejuk jiwa?

sabar dan sabar anakku
kami semua pasti berlabuh…
kita harus taklukan waktu
kita harus taklukan semuanya
dan kita harus berdamai dengan keadaan
bukan kekacauan yang tengah kau rasakan

aku terdiam dan terdiam
badai terus membawaku
ke kaki langit berikutnya
hai… kemanakah engkau membawaku?
badai itu terus saja bergerak sesuka hati
badai itu tak mengenal empati
aku larut di dalamnya bersama penantian
penantian dan kepastian itu tak juga kuraih
benarkah ini hanya ilusi?
Atau inikah yang disebut garis kehidupan?

Kupeluk anakku dengan keyakinan
Kubisikan harapan berkali-kali
kita akan berlabuh, kita akan berlabuh Nak..
merindukan pantai yang kita impikan

Mas Bec.12022008

Leave a Reply