Sunday, 17-2-2008 | 14:58 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

HERAN…..

Perahu itu tak juga berlabuh
Kami semua gelisah,
Kami semua resah,
Kami semua cemas…
Perahu kami terlalu jauh dan jauh
Tingalkan kaki langit tak bertepi

Kemanakah kami engkau bawa?
Kemanakah perahu ini merapat?
Kemanakah juru mudi itu?
Kenapa engkau tak mampu menaklukan ombak?
Lalu mana… Mana… dan mana…..
pulau indah nan engkau janjikan?
Kapankah kami akan berlabuh?

Aku heran… Aku heran….
Semuanya terdiam dan membisu
ketika di perahu itu ada sang perusak
Aku sudah berteriak…. tangkap dia
tangkap dia… adili dia….

Sang juri mudi terdiam dan terdiam
Perahu itu lalu bocor terendam air
Kami panik… panik dan berteriak
Tolong… tolong…. tolong….

Terlambat…. dan terlambat
Kami semua mati terbenam di dasar laut
Kami semua mati tak bisa bernafas
Dosa apakah aku?
Kenapa sang pembocor perahu
mati bersamaku…

Aku jijik melihat perilakunya
Aku muak dengan sikapnya
Aku mual dengan jiwanya nan tolol
Kini ia terbaring lemah
Tuhan tak memberinya cahaya

Aku heran… aku heran….
Kenapa aku mati bersama mereka
sang koruptor penghisap uang rakyat…
Kenapa ia ada di dekatku?
Kenapa ia tidak mati bersama sang
’penjinak’ keadilan?

Aku heran.. sekaligus geli
Geli… karena rakyatku dikadali
Geli karena rakyatku engkau tipu
Dan geli karena ternyata kalian pendusta…

Sumidjan
(Peraih Penghargaan Tiga Pilar award 2007)

Leave a Reply