Dua Skenario Kastari
Thursday, 28-2-2008 | 12:39 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan
JAKARTA, KAMIS–PRIA yang disebut-sebut sebagai teroris kelas wahid di Singapura, kini menjadi buruan aparat keamanan. Kaburnya Mas Selamat Kastari, membuat pusing Mendagri Wong Kan Seng. Warga negara Singapura itu sebelumnya pernah ditangkap di Indonesia. Ia berhasil melarikan diri dari Rutan Whitley, Singapura. Benarkah Kastari lolos begitu saja, atau ada skenario lain yang dibuat aparat keamanan Singapura? Berikut wawancara Kompas.com dengan pengamat intelijen Dynno Chressbon.
Seberapa bahayakah pria yang bernama Mas Selamat Kastari?
Menurut saya, Kastari tidak memiliki kemampuan teror dan sabotase dibandingkan dengan aktivis Jamaah Islamiyah (JI) lainnya yang pernah ditangkap di luar negeri seperti Fachturahman Al Qozi. Bahwa seluruh aktivis JI sudah terlatih untuk meloloskan diri dari kejaran intelijen kepolisian dan militer, memang benar. Kejadian ini persis seperti yang pernah dilakukan almarhum Fachturahman Al Qozi saat meloloskan diri dari penjara Manila.
Benarkah Kastari terlibat dalam dunia terorisme?
Keterlibatannya kalau menurut saya, pertama kali ia disebut oleh badan intelijen CIA yang menyebarluaskan dokumen dengan sandi Jibril pada tahun 2002. Dokumen itu berisikan informasi soal dugaan bahwa Kastari akan melakukan serangan terhadap fasilitas diplomatik Amerika dan sekutunya di Singapura. Dalam persidangan Kastari yang digelar di Singapura, dokumen Jibril yang ditemukan di Bagram, Afghanistan itu tidak pernah berhasil membuktikan adanya keterkaitan Kastari dengan dokumen yang disebut oleh badan intelijen CIA. Satu-satunya fakta hukum yang dikaitkan dengan Kastari adalah pengakuannya bahwa ia pemimpin JI di Singapura. Sedangkan tudingan yang lain, sampai saat ini tidak pernah bisa dibuktikan.
Benarkah Kastari memiliki jaringan dengan teroris di Indonesia?
Kastari ditangkap oleh aparat kepolisian Indonesia pada bulan Februari 2003 dan dideportasi ke Malaysia, Februari 2006 hanya dengan tuduhan melakukan pemalsuan dokumen keimigrasiaan. Kastari hanya hadir dalam persidangan Abu Bakar Ba’asyir secara teleconferens dari penjara Singapura dan Kastari membantah bahwa Abu Bakar Ba’asyir adalah pemimpin JI.
Penjara di Singapura sangat ketat. Kenapa kali ini kebobolan?
Penjara di Singapura lebih lemah pengawasannya dibandingkan dengan penjara di Manila. Salah satu contohnya, ketika Facturahman Al Qozi berhasil melarikan diri dua kali dari penjara tersebut. Peristiwa ini polanya sama dengan kaburnya pemimpin Al Qaeda untuk Asia, Umar Al Faruk dari penjara Bagram, Afghanistan. Kisah pelarian Fachturahman dan Umar Al Faruk dari penjara militer Filipina dan AS membuktikan bahwa aktivis JI memiliki kemampuan untuk meloloskan diri dari penjara di Singapura, Filipina dan Afghanistan.
Jangan-jangan ini adalah trik dari aparat sendiri yang ujung-ujung Kastari akan bernasib sama dengan Fachturahman Al Qozi. Komentar Anda?
Pemerintah AS memiliki perjanjian kerja sama dengan otoritas intelijen di seluruh dunia untuk meminjam tersangka teroris yang pernah memiliki agenda untuk menyerang kepentingan AS di seluruh dunia. Tidak tertutup kemungkinan, peristiwa pelarian Kastari adalah hasil kerja sama otoritas intelijen Singapura (SIS) dan Amerika (CIA).
Kalau prediksi itu benar, apa targetnya?
Hanya ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, Kastari akan diterbangkan langsung ke Amerika Serikat seperti yang dialami Hambali –pria yang ditangkap di Thailand. Dan kemungkinan kedua, Kastari nanti akan ditemukan tewas dalam aksi perlawanan bersenjata dengan aparat keamanan Singapura seperti dialami Fachturahman Al Qozi di Filipina dan Umar Al Faruk di Irak.
Menurut Anda, seberapa besar kemungkinan Kastari melarikan diri masuk ke wilayah Indonesia melalui Kepulauan Riau?
Kemungkinan itu terbuka lebar, karena kemampuan Kastari dalam melakukan aksi pemalsuan dokumen keimigrasian seperti yang pernah dilakukannya ketika berada di Indonesia sangat lihai.
Jika asumsi Anda benar, akankah aparat keamanan Singapura ikut melakukan pencahrian ke wilayah Indonesia?
Selama ini aparat keamanan di Asia Tenggara, termasuk Singapura telah memiliki perjanjian kerja sama untuk mengekstradisi anggota kelompok jaringan teroris yang bersembunyi di seluruh negara Asean. Tapi, hal ini bisa tertutup kemungkinan apabila otoritas intelijen Singapura telah berkoordinasi dengan otoritas intelijen AS untuk langsung menangkap Kastari dan diterbangkan ke Guantanamo seperti dialami pemimpin JI lainnya, Hambali dan pemimpin Al Qaeda Umar Al Faruk. Amerika Serikat sendiri dalam persiapan untuk mengadili pemimpin Al Qaeda dan jaringan JI yang akan dilaksanakan pada bulan Juni di pengadilan militer Amerika, memungkinkan AS sangat berkeinginan untuk menangkap Kastari yang dikaitkan dengan adanya pengakuan Hambali dan Abu Zubair. Keduanya mengaku telah mempercayakan Kastari untuk mempersiapkan serangan teroris di Singapura.
Benarkah jaringan teroris di Indonesia akan membantu Kastari jika lelaki itu benar-benar melarikan diri ke wilayah Indonesia?
seratus persen jaringan aktivis JI –NII dan Darul Islam– di Indonesia akan men-support dan melindungi Kastari di Indonesia seperti dukungan yang selama ini diberikan kepada pemimpin JI Noordin M Top. (ACHMAD SUBECHI/www.kompas.com)













