Tragedi Kelaparan

Sunday, 2-3-2008 | 10:04 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

NAMANYA Ny Basse. Usianya masih muda, sekitar 27 tahun. Di dalam perutnya ada janin berusia tujuh bulan. Wanita itu ditemukan tewas mengenaskan, Jumat (29/2) di rumah panggung kerabatnya, Jalan Daeng Tata I Blok 5, Kelurahan Karang Tambun, Tamalate, Makassar.

Beberapa menit setelah itu, Bahir, sang anak yang masih berusia lima tahun, ikut menyusul sang ibu. Bocah itu juga tewas mengenaskan karena perutnya hanya berisi angin, lantaran tak ada makanan yang bisa dilahapnya. Sedangkan beberapa anggota keluarga lainnya, Salma (9), Baha (7), dan Aco (4), kini masih dalam pengawasan pihak rumah sakit. Mereka dikhawatirkan menderita penyakit busung lapar.

Misteri kematian ibu dan anak itu menyeruak dan menghebohkan Makassar. Mereka mati karena perutnya tak terisi nasi alias kelaparan dalam beberapa hari terakhir. Sang suami yang bekerja sebagai tukang becak, mengaku tak bisa mencukupi kebutuhan hidup anggota keluarganya, akibat kesulitan ekonomi. Lelaki itu depresi. Untung saja tidak sampai menjadi wong edan. Mabuk, menjadi alat atau cara bagi Bahri, untuk menghilangkan keruwetan hidupnya.

“Saya sering memperhatikan Basse beli beras satu liter untuk tiga hari. Kalau pagi masak bubur, siang nggak makan. Kalau malam, kadang makan kadang nggak. Yang dimakan bubur terus supaya hemat,” ujar Lina, sahabat almarhum.

Dari cerita duka itu saya teringat masa kecil saya. Kami sekeluarga hidup pas-pasan. Ayah hanyalah seorang pensiunan militer. Tapi Ibu tak patah semangat. Ia gunakan akalnya.
Supaya bisa berhemat, hampir setiap hari Ibu membeli singkong buat anak-anaknya. Singkong-singkong itulah yang mengisi perut-perut kami setiap hendak berangkat ke sekolah. Usai makan singkong, Ibu memberikan segelas air putih agar singkong-singkong itu mekar lalu perut kami menjadi kenyang.

Peristiwa Makassar membuat hati kami pedih. Ini sebuah kejadian yang sangat kontradiktif dengan keadaan terkini. Lihat saja mall-mall yang setiap hari penuh dengan lautan manusia. Para pengunjung seolah-olah berlomba-lomba memborong berbagai macam jenis makanan. Sementara di sisi lain, ada nyawa-nyawa tak berduit yang mengharapkan butiran nasi dan belas kasihan dari orang lain.

Memang, kita kadang terlalu sombong, angkuh, pongah dan cenderung tak mau berempati kepada orang lain. Kenapa nilai-nilai empati itu lahir hanya sesaat, manakala bumi Indonesia diguncang bencana? Kenapa nilai-nilai itu menjauh pada diri kita? Kita memang hampir tak pernah memikirkan bagaimana tingkat kesulitan kaum papa yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kita memang sengaja menjauh dari mereka, karena kita sendiri tak mau terusik oleh penderitaan.

Kita kadang terlalu asyik dengan ego kita sendiri, tanpa mau menenggok ke bawah untuk menarik hikmah. Padahal apa yang terjadi di Makassar adalah bagian dari ayat Tuhan yang sengaja ditunjukkan kepada manusia, agar mereeka mau berpikr dan memetik hikmahnya.

Buat almarhum Ny Basse dan Bahir, kami ikut merasakan bagaimana rasanya ketika perut kalian tak terisi nasi selama beberapa hari. kami juga ikut merasakan bagaimana perasaan kalian, manakala anak-anakmu berteriak menahan lapar. Kami juga ikut merasakan, gejolak jiwamu manakala sang suami tak mampu memberikan nafkah berupa materi kepadamu. Semoga Tuhan, memberikan tempat terlayak untukmu dan anak-anakmu. Semoga, Tuhan memberikan rezeki yang selama ini masih tersimpan di surga untuk kalian bertiga.

Kepada saudara-saudaraku yang masih menderita, janganlah diam atau berpasrah diri. Gunakan akalmu untuk mendapatkan rezeki. Apalagi, hidup tak boleh menerima atau nrimo begitu saja. Kita tak boleh berdamai dengan keadaan. Keadaan harus kita ciptakan dengan kekuatan akal dan pikiran. Tangan dan kaki tak boleh diam. Rajinlah-rajinlah melakukan silahturahmi (membuka jaringan) dengan siapa saja. Sesungguhnya silahtrurahmi adalah kunci pembuka rezeki untuk memperpanjang usia manusia. Selamat jalan Ny Basse… (achmad subechi)

Leave a Reply