ayat-ayat cinta dan kabel gitar

Sunday, 16-3-2008 | 11:59 WIB | 1 Komentar | Kategori: Gagasan

SEMALAM anak saya yang nomer dua, ngomel-ngomel sendirian di kamar tidurnya. Lamat-lamat saya mendengar keluh kesahnya. Kali ini ia benar-benar marah besar. Saya masuk ke dalam kamarnya. Sambil merapikan beberapa kabel gitar listrik, Rizal masih saja ngomel. Saya amati dan saya dengarkan keluh-kesahnya.

“Gile… Masak… kabel gitar aja dikorup… Coba lihat Pa… masak kabel yang tadinya enam meter, kok jadi satu meter setengah…Izal kapok deh betulin kabel gitar ke orang itu. Lebih baik ke tempat servis lainnya di Jl Panjang. Anaknya masih muda-muda tapi jujur dan dapat dipercaya,” katanya sambil memasukan beberapa kabel ke dalam tasnya.

Rizal wajar menggerutu. Hari ini (Minggu) ia harus tampil mengikuti festival band tingkat SMP se Jakarta. Untuk itu, ia harus menyiapkan gitar, berikut berbagai pernak-pernik lainnya.

Saya memahami keluhan yang disampaikannya. Mengapa? Beberapa pekan lalu, ia saya ajak ke Plasa Senayan untuk membeli kabel gitar. Ia tahu persis ketika itu kami membeli dua kabel berikut jack-nya, masing-masing berukuran enam meter.

Namun, baru beberapa hari dipakai, salah satu jack-nya patah. Rizal saya minta membetulkannya ke tukang servis. Sore harinya, kabel itu selesai diperbaiki. Nah, ketika kabel itu hendak dipakai untuk latihan, Rizal mendadak bengong. Mengapa? Panjang kabelnya ternyata ‘menyusut’ beberapa meter. Saya hanya ketawa saja mendapat penjelasan dari Rizal. “Hus.. enggak boleh menuduh. Ikhlaskan saja,” kata saya.

Tapi dasar anak-anak, walaupun sudah diberitahu, ia tetap saja ngomel karena harta bendanya berkurang. Selain itu, Rizal menilai, ‘menyusut’nya kabel, jelas-jelas terjadi akibat ketidakjujuran –integritas.

Sama halnya dengan film Ayat-ayat Cinta (AAC). Film itu benar-benar laris manis saat diputar di gedung bioskop, sejak 21 Februari 2008. Memasuki minggu keempat pemutarannya, AAC telah meraup lebih dari dua juta penonton. Luar biasa! Ini sebuah fenomena, betapa masyarakat Indonesia membutuhkan film-film berkualitas, apalagi di dalamnya sarat dengan pencerahan jiwa.

Lagi-lagi saya terkejut. Kemarin pagi ketika jalan-jalan ke pasar tradisional, ibu-ibu berebutan membeli VCD bajakan ACC. Harganya Rp 10 ribu. Istri saya, awalnya tertarik untuk membeli. Tapi, niat itu diurungkan. Mengapa? “Tidak halal…” bisiknya. Usut punya usut, ternyata ada nilai-nilai ketidakjujuran dibalik beredarnya VCD bajakan itu. Kata istri saya, sebelum film itu diputar di gedung bioskop, ternyata VCD bajakannya sudah bocor.

Kejujuran, seakan menjadi barang langka di negeri ini. Kita semua, sudah terbiasa terjebak di arena ketidakjujuran. Ketidakjujuran, tak mengenal strata atau kelas. Siapapun, mudah terkena penyakit hati yang satu ini. Padahal, kejujuran –integritas– terkait erat dengan jati diri manusia.

Manusia sebagai makhluk paling sempurna dan memiliki martaat yang begitu tinggi, tercoreng begitu saja oleh ketidakjujuran. Padahal, ketika ketidakjujuran telah melanda bahkan mengakar di dalam qolbu kita, maka jangan harapkan ada kesuksesan dalam meraih derajat. Logikanya, bagaimana derajat seseorang akan terkatrol atau terangkat, sementara kunci kesuksesan yang dinamakan trust telah ia robek dan ia kotori sendiri dengan ketidakjujuran. Ketika citra diri telah ternodai, mana mungkin ada manusia lain yang percaya dengan diri kita?

Karena itu, selama manusia berkutat di wilayah ketidakjujuran, maka selama itupula jangan harapkan kedamaian, ketenangan dan kebahagian merasuk ke dalam jiwa kita. Apalagi, kebenaran –kejujuran– posisinya selalu terpendam di dasar jiwa.

Jiwa manusia tidak akan bercahaya, manakala sang pemilik hati sengaja mengotori jiwanya dengan berbagai macam penyakit hati. Jiwa yang suci adalah jiwa yang tunduk pada ketentuan Tuhannya dan tak akan terprovokasi oleh rayuan-rayuan bersifat duniawi dan hanya sesaat.

Sedangkan jiwa yang tenang adalah jiwa yang di dalamnya ada nilai-nilai ketertundukan dan ketakwaan kepada Sang Khalik. Akankah kita membiarkan jiwa-jiwa yang ada di dalam raga ini menjadi tergoncang oleh penyhakit hati? Akankah kita terlena dan terlena oleh bisikan penyakit hati? Jawabnya ada di hati dan akal kita kita masing-masing…. (achmad subechi/naskah ini dimuat di rubrik Sorot Tribun Jabar)

Comments (1)

 

  1. aroengbinang says:

    setiap orang sesungguhnya memiliki nilai2 kejujuran, hanya titik berat kejujurannya saja yang berbeda2; ada yg jujur terhadap uang, tetapi tidak dalam hal perempuan; jujur dalam perkawinan, tetapi tidak pada harta negara.
    tidak ada yang sempurna, karenanya sepertinya beruntunglah mereka yg tidak banyak terpapar dengan godaan2 duniawi, namun benar kah?

Leave a Reply