Legowo dan Rendah Hati
Sunday, 13-4-2008 | 11:18 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan
13 APRIL 2008, menjadi hari bersejarah buat warga Jawa Barat. Pesta demokrasi –Pilkada Jabar– digelar secara serentak di sejumlah kota. Kalau kita tarik ke belakang, sejak dari era Yunani hingga saat ini demokrasi terus menjadi bahan diskusi. Apalagi, bagi rakyat Indonesia yang tengah mencoba mengembangkan sistem demokrasi, sebagai jawaban atas konlik sosial, krisis ekonomi dan politik.
Ironisnya ketika kran demokratisasi dibuka, bukan kesejahteraan yang didapatkan. Perang antar pendukung dan amuk masa –konteks Pilkada– terjadi disana-sini akibat ketidakpuasan pemilih.
Padahal, salah satu eseni demokrasi adalah kebebasan dalam bersuara dan memilih. Dalam konteks Pilkada, pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Namanya saja bertarung, berlaga, berhadap-hadapan, bersiasat untuk mempengaruhi konstituen. Dan mereka yang kalah diminta legowo serta menerima apa adanya seperti yang terjadi dalam Pilkada di DKI Jaya. Sementara bagi mereka yang menang diharapkan tidak tinggi hati (rendah hati), menyombongkan diri, lupa dengan konstituennya dan ingkar janji.
Mencermati perkembangan dari detik ke detik, dari menit ke menit mengenai hasil penghitungan suara di Jawa barat, cukup menarik. Hingga sore kemarin, pasangan Achmad Heryawan-Dede Yusuf (Hade), berdasarkan hasil quick count sementara yang diakukan –Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), Litbang Kompas dan Lingkar Survei Indonesia– unggul memenangkan Pilkada.
Andaikan hasil quick count itu tetap tak bergeser hingga akhir jadwal penghitungan perolehan suara, maka kemenangan Hade akan menjadi sesuatu yang sangat-sangat fenomenal, menyusul terpilihnya Rano Karno sebagai Wakil Bupati Tangerang untuk periode 2008-2013.
Masuknya aktor film ke dalam dunia politik dan menang dalam Pilkada walaupun hanya di kursi nomor dua (wakil), akan menjadi trend ke depan. Bahkan, bisa jadi dalam Pilpres 2009 mendatang, para aktor film (pekerja seni) akan menjadi rebutan untuk ditempatkan di posisi wapres.
Mengapa konstituen lebih suka memilih aktor untuk menjadi pemimpin mereka? Bisa jadi, hal ini terkait dengan citra diri. Citra diri manusia dibangun bukan oleh orang lain, tetapi oleh dirinya sendiri. Begitu juga sebaliknya, citra diri seseorang rusak akibat ulah atau perilakunya sendiri.
Sebagian besar, mereka yang terlibat dalam kasus korupsi adalah para pelayan rakyat yang notabene adalah pejabat negara yang telah mendapatkan gaji dan fasilitas dari rakyat. Kepercayaan yang telah diberikan rakyat atas nama negara, telah mereka rusak sendiri dengan berbagai macam bentuk.
Ketika krisis kepercayaan terhadap pejabat negara sudah tidak ada lagi, bahkan jatuh pada titik nadir, maka rakyat mau tidak mau akan mencari tokoh alternatif sebagai calon pemimpin yang bisa dipercaya baik lesan maupun hatinya.
Biasanya pemimpin yang berjalan dengan hati dan bukan akal –akal cenderung memprovokasi hati untuk melakukan perbuatan buruk– lebih elegan, tidak otoriter, humanis dan bisa ngemong rakyatnya. Sementara rakyat yang di bawah, tuntutannya tidak pernah neko-neko. Mereka hanya berharap, para pemimpinnya memiliki integritas, dapat dipercaya, adil dan peduli kepada mereka.
Kedepan, siapapun yang terpilih sebagai Gubernur Jawa Barat, harus benar-benar peduli dan mau mendengarkan suara hati rakyat, kegelisahan rakyat, kepentingan rakyat serta tidak asal gusur seperti yang sudah-sudah.
Pemimpin memang harus tegas dan diharapkan mampu menyelesaikan berbagai macam persoalan yang terjadi di wilayahnya dengan cermat, sistematis, terkonsep dan terukur. Tetapi, dari segudang harapan itu, rakyat membutuhkan pemimpin yang bisa ngemong, memiliki empati dan bisa memegang amanah. Sebab, kinerja para pemimpin akan diukur dengan seberapa besar tingkat kepeduliannya terhadap masalah-masalah yang menyangkut kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. Bisakah? (achmad subechi)













