sang raja…
Thursday, 8-5-2008 | 17:49 WIB | 2 Komentar | Kategori: Gagasan

sebatang rokok itu dari tadi ia permainkan dengan jari jemarinya. sesekali tangan kanannya mencubit-cubit ujung rokok. kuambilkan asbak, lalu kuletakkan di depanya. raja jawa itu tersenyum sembari mengucapkan rasa terima kasih.
kuamati sekali lagi. jari jemarinya masih saja mempermainkan rokok. mengapa tidak ia sulut? lalu apa maksudnya rokok itu ia biarkan… aku semakin penasaran. ternyata rokoknya bukan rokok sembarangan. kotak rokoknya kuamati. oiiii ternyata berlambang keraton Yogjakarta. gimana ya rasanya? entahlah. aku tak berani meminta kepada sang raja.
lelaki berbadan besar itu bukan raja dalam cerita di pewayangan. ia adalah raja sebenarnya. namanya Sri Sultan Hamengkubuwono X. banyak ilmu yang aku dapatkan dari dia. ia bercerita panjang lebar mengenai arti atau makna pusaka yang sesungguhnya. termasuk soal kekuasaan, demokratisasi, peradaban dan lain sebagainya.
ia juga bercerita banyak tentang kepemimpinan. ia mencoba memberi teladan buat saya. ketika aku tanya kenapa ia peduli dengan sopir atau pegemudi mobil yang ikut menghadiri acara pernikahan putrinya yang digelar Jumat (9/5) hari ini? “sopir adalah manusia. ia harus kita hormati dan kita jaga harkat dan matabatnya. biasaya kalau menghadiri acara seperti itu, sang majikan kerap lupa dengan perut sopirnya. untuk itu dalam undangan pernikahan anak saya, saya sengaja memasukan potongan kupon khusus buat para sopir yang menanti majikannya”
kepedulian, amatlah langka di negeri ini. manusia gampang lalai, alias tak eling ketika sedang berbahagia atau bergembira. cara atau sikap sang raja patut kita contoh dan kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. semoga dan semoga, tanah indonesia dihuni oleh manusia-manusia yang memiliki empati dan kepedulian terhadap sesamanya.
rokok itu belum juga disulut. jemari Sultan aku tatap dengan cermat. kali ini batu cincin bewarna merah, terlihat terang dan terang. ia seakan memberi tanda kepadaku bahwa dialah satrio piningit. wow…! aku belum juga percaya. lalu kutanyakan kepada dia mengenai konsepsi-konsepsi satrio piningit. benarkah ia? “satrio piningit adalah diri kita sendiri. satrio piningit merupakan cerminan dari ketauladanan dan perilaku manusia. jadi enggak ada satrio piningit itu” kata sang raja kepadaku. benarkah?
achmad subechi
comfort hotel balikpapan. 03.00/09052008
Comments (2)














haloo bos
aku baru memenukan blognya ini hari. nikmat sekali membaca “sang raja”. dulu jaman masih kuliah di yogya, aku pernah nyoba cerutu itu. tapi yg murahan saja, sekitar 16 rebu sekotak, isi 10 kalo gak salah. belinya di dekat pasar demangan. loh kok malah ngelantur? hehe, kelupaan, namaku endi, satu dari 22 calon wartawan tribun pontianak. terima kasih, salam tribun…
haloo bos
wah mantap, nikmat sekali membaca “sang raja”. dulu saat masih kuliah di yogya, aku juga pernah nyoba cerutu, lupa apa mereknya. harganya yg murahan aja, 16 rebu sekotak. tapi rasanya kurang nikmat.tentu levelnya beda dengan cerutu pak sultan. loh, kok malah ngelantur? hehe, aku satu dari peserta training utk tribun pontianak. thanks, salam tribum. severianus endi, http://pujangga78.blogspot.com