CEMBURU…

Saturday, 17-5-2008 | 3:56 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan


KECEMBURUAN…. Cemburu identik dengan cemberut. Orang yang dilanda kecemburuan dapat dipastikan susah tersenyum. Auranya terkesan angker dan orang lain takut mendekat. Cemburu adalah penyakit hati dan biang matinya akal. Ketika akal manusia termatikan, maka ia tak lagi bisa berpikir secara normal. Jika itu yang terjadi, kecerdasan manusia akan lumpuh karena terdistorsi kegelisahan, kecemasan, ketakutan –bayang-bayang kegagalan, tidak percaya diri, takut kehilangan dan lain sebagainya.

Anak saya kemarin bertanya. “Kenapa Rizal berhasil, sedangkan saya tidak? Padahal saya kan lebih hebat dalam bermain musik. Apa penyebabnya Pa…?” Pertanyaan itu kerap kali ia lontarkan, menjelang ia hendak naik ke ranjangnya. Sekilas saya menangkap kesan, Buyung kurang percaya diri dengan kemampuannya. Kedua, ia mulai terkena penyakit hati yang dinamakan cemburu, iri dan dengki. Indikator itu dalam beberapa bulan terakhir semakin terlihat. Lebih-lebih setelah adiknya acap kali pentas di beberapa tempat bersama group bandnya dari SMPN 161 Jakarta Selatan.

Bahkan, Sabtu (17/5) siang hari ini Rizal memberitahukan ke saya bahwa ia akan ke Monas bersama group bandnya untuk melakukan cek sound. “Besok Izal tampil Pa… di Monas bersama teman-teman untuk mengisi acara 100 tahun hari Kebangkitan Nasional,” katanya tadi pagi.

“Zal… kagak boleh marah lho kalau honornya cuman Rp 25.000 kayak yang sudah-sudah. Dinikmati saja ya… dan jangan protes melulu. Huaha… ha… ha…” pesanku. Dulu, ia pernah ngomel-ngomel setelah pentas karena honor yang diterimanya tak sebanding dengan energi dan waktu yang ia keluarkan saat tampil dalam festival band tingkat SLTP di Jakarta dan groupnya keluar sebagai pemenangnya.

Berkali-kali pula saya katakan kepada Buyung, agar ia belajar sabar. Sabar menunggu kematangan, sabar menahan emosi, sabar dalam belajar, sabar dalam menghadapi persaingan dan berbagai macam bentuk kesabaran lainnya. “Kurang sabar gimana Pa? Kenapa sih Buyung kok enggak segera cepat besar, sehingga bisa tampil di televisi main musik? Wah Buyung jadi enggak sabar nih..”

Buyung, saat ini masih duduk di kelas tiga SMPN 161 Jakarta. Ia satu sekolahan dengan adiknya. Hobinya bermain musik baru ketahuan sekitar setahun lalu. Dulu, Rizal maupun Buyung tidak begitu tertarik degan musik. Padahal, ketika mereka masih kecil, saya sengaja membeli berbagai macam peralatan musik untuk mereka agar wataknya terbentuk. Saya percaya, dengan bermain musik watak manusia bisa terbentuk.

Apalagi, kedua anak saya ini sangat temperamen. Nah, ketika semua alat sudah tersedia, kemauan untuk menyentuh peralatan musik saja tidak ada. Saat saya memainkan biola, organ, gitar dan lain-lainnya, keduanya tidak tertarik alias cuek bebek. Saya kesal dan kesal. Kuatu kekesalan saya memuncak. Suatu hari, Buyung dan Rizal saya panggil. “Kamu tahu kenapa Papa membeli berbagai macam alat musik? Papa berharap kamu bisa memainkannya. Tahu enggak, Papa dulu bisa kuliah berkat bermain gitar… Nah, kalau kamu pandai, maka duit dan duit akan datang dengan sendirinya dan kamu akan bisa sekolah kemanapun yang kalian suka.”

“Oh… jadi bisa dapat duit ya. Wah mulai besok Buyung akan belajar…” Dasar anak-anak, baru tiga kali berlatih, tangan mereka sudah terlihat trampil. Bahkan, Rizal dan Buyung, tak segan- segan membeli buku-buku tentang gitar. Ia coba sendiri lalu mempraktekannya di depan saya. Potensi ada, tapi ia harus dibekali ilmu. Keduanya saya masukan ke sekolah musik. Rizal hanya bertahan tiga bulan. Ia ogah berlatih lagi.

Katanya, “Saya mau otodidak saja, toh pelajaran dasarnya sudah saya pegang.” Sang gurunya protes bahkan mengirim surat segala. Katanya, talenta Rizal luar biasa kalau ia mau meneruskan sekolahnya. Buyung? Dia bertahan sampai saat ini. Kadang saya ketawa geli kalau ia mempraktekan melodi di depan saya. Kecepatan jari jemarinya dan kepiawaiannya dalam berimprovisasi boleh juga. “Ini proses Yung. Untuk menjadi orang hebat, butuh waktu dan jam terbang. Sabar ya Nak..” kataku.

“Berarti Rizal sudah punya jam terbang dong? Lalu Buyung kapan?” “Nanti, kalau kamu sudah masuk di bangku SMA. Kan tinggal beberapa bulan lagi. Cari teman yang selevel dan bikin group.” Buyung ketawa ngakak… Ia akhirnya mampu menepis penyakit hati yang dinamakan kecemburuan, iri, dengki dan lain sebagianya….. (achmad subechi)

Leave a Reply