Saya Bertanya….

Monday, 19-5-2008 | 7:27 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan


Jejak Langkah Sophan Sophiaan

Minggu, 18 Mei 2008 | 12:20 WIB

KAMIS 20 Juni 1996. Hari masih pagi. Markas PDIP di Jalan Diponegoro penuh sesak dengan ribuan massa. Engkau berdiri diantara mereka. Mimbar bebas pun digelar. Megawati Soekarno Putri, angkat bicara di podium. Putri Bung Karno itu mewanti-wanti agar massa tidak anarkhis saat melakukan long march menuju Monas. Saat itu aku melihat engkau Bung… (Sophan) berdiri di deretan paling depan bersama tokoh- tokoh PDIP lainnya. Tanpa hitungan, satu… dua… tiga…, ribuan massa bergerak. Sekitar 300 meter, barikade aparat kepolisian menghadang Massa terus merangsek dan aku berjalan di depanmu. Brakk.. brak… brak… Saling pukul antarmassa pendukung Mega dengan aparat terjadi. Engkau berusaha menenangkannya, agar kita semua tidak terjebak aksi anarkhis.

Lalu, kami bergerak menuju Monas. Lagi-lagi barisan barikade aparat menghadang. Kali ini pasukan PHH berpakaian hijau-hijau menghadang, lengkap dengan senjata dan tameng. Waktu itu engkau tenangkan massa Bung… agar simpatisan PDIP tidak terlibat baku pukul. Aku rekam dan aku ikuti perjalananmu bersama tokoh-tokoh PDIP lainnya. Lolos dari barikade kedua, barikade PHH menghadang kembali di Jalan Thamrin. Dan akhirnya, kita semua tiba di depan Stasiun Gambir.

Saat itulah massa mulai kesal. Aksi lempar batu ke arah aparat terjadi. Tokoh PDIP Jacob Nuwawea, maju ke depan berusaha melakukan nego dengan aparat. Dan engkau Bung Sophan, masih saja berdiri di tengah terik matahari bersama para simpatisan PDIP yang ingin melakukan pembaharuan dan perubahan. Negoisasi dengan aparat belum membuahkan hasil, sebongkah batu paving melayang ke udara dan menimpuk aparat. Aparat emosi, semua berlarian. Termasuk Bung, aku, dan rekan-rekan wartawan lainnya yang menginginkan pembaharuan dan perubahan di negeri ini. Kita lalu menyelamatkan diri, di ujung jalan depan Stasiun Gambir. Kendaraan militer meraung- raung, disertai meluncurnya panser ke arah massa. Engkau semakin menepi. Semua massa berhamburan. Di depan kita, seorang wartawan asing dipukul aparat. Engkau teriak, engkau marah dan engkau mengecam tindakan brutal itu. Setelah reda, kita semua balik kandang menuju markas PDIP melalui Jalan Cikini.

***

REFORMASI bergulir. Soeharto lengser, digantikan BJ Habibie. Kekuasaanmu sebagai Ketua FPDIP MPR RI, tak menyilakau hati dan pikiranmu. Engkau tetap komit terhadap bangsa Indonesia, bangsa yang kita cintai walau penuh dengan lubang-lubang mengangga yang bisa menjerumuskan anak bangsa terjebak ke dalam wilayah kemapanan, lalu mematikan akal panjangnya.

Waktu terus berjalan. Ada dinamika di internal PDIP. Sebagai pimpinan partai, engkau mengedepankan kolektivitas, bukan kepemimpinan orang per orang. Wajar… Belakangan, engkau tak puas Bung… Engkau pilih meninggalkan kursi empuk nan prestisius di lembaga legislatif. Lagi-lagi engkau tak silau. Jabatan adalah amanah. “Amanah akan dipertanggung jawabkan di depan Tuhan” Itu katamu suatu hari kepadaku.

Apa sebenarnya yang terjadi Bung? Benarkah jabatan sebagai Ketua FPDIP MPR RI itu hasil rayuan dari Ibu Megawati? Engkau terdiam sejenak. Lalu engkau berkata kepadaku, “Bukan Mbak Mega yang menginginkan agar saya tetap sebagai Ketua Fraksi di MPR. Tapi DPP-lah. Fraksi itu kan hanya alat dari DPP di parlemen. DPP yang minta. Tetapi yang harus Anda ketahui bahwa pengunduran diri saya dari keanggotaan DPR/MPR ini bukan keputusan yang tiba-tiba. Ini keputusan yang saya ambil berdasarkan proses perenungan yang dalam.”

Matamu menatapku dengan tajam. Lalu Bung jelaskan… kegelisahanmu terhadap nasib bangsa ini. “Sejak Orde Baru, saya bertanya-tanya. Apa sih yang terjadi sebenarnya? Tetapi kemudian saya bisa mengerti… Oh… ternyata pemerintahan Orde Baru terlalu berkuasa. Ada diktator terselubung. Partai-partai terkooptasi dan seterusnya…. Ketika memasuki era reformasi, kita harapkan semuanya berubah, tidak ada lagi hal-hal seperti pada masa pemerintahan Orde Baru. Kita harapkan semuanya berjalan sesuai dengan norma yang sebenarnya. Tetapi kenyataannya ternyata tidak. Keadaannya tetap sama saja seperti pada masa pemerintahan Orde Baru. Tidak ada perubahan. Saya lalu coba merenungi. Selama dua setengah tahun saya di DPR/MPR, dari aktif sampai sekarang, ternyata tidak ada gunanya. Saya berpikir, mengapa saya harus tetap bertahan di sana (DPR/MPR), kalau keadaannya tak ubahnya dengan masa pemerintah Orde Baru.”

Kondisi itulah yang membuatmu cemas… Engkau kerap melakukan kontemplasi. Butuh waktu dua hingga tiga bulan sebelum engkau mengambil keputusan. Ternyata… cukup sulit menghadapi pertentangan bathin. Lalu engkau memilih mundur dari kursi DPR. “Dulu saya pernah mundur sebagai ketua fraksi. Mengapa? Saya nggak mau menjadi ketua fraksi karena saya enggak mampu melihat manuver-manuver politik di parlemen. Tapi saya dibujuk, dipaksa agar mau. Padahal, banyak yang mau jadi ketua fraksi ketika itu.”

Senin (4/2) 2002 engkau datang ke rumah Megawati di Jalan Teuku Umar. Di ruang tengah, engkau bertemu empat mata dengan sang Ketua Umum DPP PDIP. “Saya ingin bertemu empat mata dengan Sophan.” Begitu janji Megawati ketika itu. Sayang, ketika pertemuan baru dimulai, datanglah mantan Menkeu yang juga penasehat ekonomi Megawati, Frans Seda. Akhirnya pertemuan itu berlangsung bertiga, selama satu jam. Materinya, membahas soal pengunduran dirimu. Ketika itu engkau bilang kepadaku, “Maaf, tidak etis saya ungkapkan keluar. Ini masalah internal partai. Ini hanya pembicaraan antara saya dengan Ibu.”

***

KONSISTEN. Itulah sikap yang tak pernah hilang dari benak rekan-rekanmu. Engkau bukan tipe tokoh pragmatis, oportunis dan mementingkan diri sendiri. Engkau juga tahu diri, akan kemampuanmu. Buktinya, ketika engkau ditawari untuk menduduki jabatan duta besar –seperti ayahmu yang dulu pernah dipercaya negara menjadi dubes– engkau tak bergeming. Padahal itu usulan dari partaimu.

Alasanmu ketika itu, “Saya tidak mampu mengemban tugas tersebut. Seorang duta besar adalah juru bicara negara dan bangsa. Bagaimana saya bisa menjadi juru bicara bangsa dan negara, kalau saya sendiri tidak pas dengan situasi dan kondisi politik di dalam negeri. Kader partai harus bisa interospeksi. Kalau enggak mampu, ya harus berani mengakui tidak mampu. Sebab, kalau orang tidak mampu, lalu memaksa… Inilah yang terjadi sekarang. Konstalasi politik ini akibat dari tidak mampunya orang-orang, tapi mereka memaksakan diri untuk menduduki suatu jabatan.” Kini engkau telah pergi meningalkan kami. Ke depan, semoga anak-anak bangsa bisa mengambil spirit yang telah Bung tanamkan. Selamat jalan Bung dan kami selalu merindukan pemimpin seperti engkau, jujur, berwibawa, dapat dipercaya, tulus dan ikhlas dalam memanage negeri ini… (tribun kaltim/achmad subechi/naskah ini sudah dimuat di www.kompas.com)

Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network
Ada 12 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

moses @ Minggu, 18 Mei 2008 | 14:15 WIB
Orang benar selalu jadi salah di bangsa ini. Sementara orang Jahat bisa tetap jaya. Percuma pemimpin benar kalo pengikutnya jahat2. Capek deh

Tito Saswin @ Minggu, 18 Mei 2008 | 13:58 WIB
Bung, sudah pergi meninggalkan kami ! Semoga apa yang bung tinggalkan dan sisakan didalam kehidupan, akan bermanfaat untuk anak bangsa ini. Dari yang tua bangka (yg tidak mau sadar, juga yang tidak mau mengakui kesalahan!) sampai generasi muda akan mengikuti langkahnya bung! Orde berganti orde, refomasi berganti reformasi manusianya tidak berubah bung, hanya bung dan segelintir teman dan rekan yg konsekwen dengan pergantian. Dimataku, diri bung orang besar yang dilahirkan di bumi Indonesia!

satyagraha @ Minggu, 18 Mei 2008 | 19:14 WIB
itulah sosok sophan sophian,seorang nasionalis tulen, berjiwa kebangsaan, konsisten dg prinsip,jujur. sementara orang-orang pada rebutan kekuasaan dia tinggalkan jabatan terhormat yg sudah dipegangnya. selamat jalan bung…

Deni Satria Budi @ Minggu, 18 Mei 2008 | 18:39 WIB
Jalan yg kau pilih adalah Konsisten mu pada sebuah kejujuran…dan, itu merupakan pelajaran berharga yg kau tiggalkan..slamat jalan Bung..Smoga para pemimpin belajar dari jalan mu Bung…

junaedi @ Minggu, 18 Mei 2008 | 17:53 WIB
Semoga beliau di terima disisi allah swt, dan selamat jalan sang Hero……..semoga jejakmu di tiru oleh penerus bangsa ini

rodzi @ Minggu, 18 Mei 2008 | 17:43 WIB
Begitulah bila anak Adam dipanggil-Nya, tidak ada satupun jua yang mampu menghalangi, apalagi menghambatnya. Harimau mati meninggalkan belang, Gajah mati meninggalkan gading, sedangkan manusia wafat, budi pekerti serta karyanya terukir abadi.

Mengapa @ Minggu, 18 Mei 2008 | 17:36 WIB
Tuhan,mengapa Engkau panggil orang yang Kau cintai kala kami masih memerlukannya dan mengapa Engkau tetap biarkan hidup koruptor-koruptor perusak bangsa ini? Selamat jalan Bung
Sophan……..

Sama @ Minggu, 18 Mei 2008 | 17:07 WIB
memang tidak mudah menemukan orang seperti beliau… seandainya ada 10% saja dari para pemimpin kita yang mau berjuang untuk kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi ataupun golongan pasti negara kita tercinta tidak akan mengalami nasib seperti sekarang ini…. Selamat jalan Bung Sophan Sophiaan…..

himawan @ Minggu, 18 Mei 2008 | 16:13 WIB
Slamat jalan bung semoga Allah memberikan tempat yanglayak disisiNYa, kami selaku generasi muda bangsa Indonesia dapat mengambil hikmah

Iwan Kurniawan @ Minggu, 18 Mei 2008 | 15:13 WIB
Gugur bunga ku taman bhakti di Paribaan Pertiwi Harum semerbak memancarkan sari Tanah Air Jaya Pasti Gugur satu, Tumbuh Seribu…
.
Yuni Wahyu @ Minggu, 18 Mei 2008 | 14:56 WIB
Sungguh nasionalis jiwa seorang shopan shophiaan. Aya ingin lebih tahu mengenai beliau. Saya memang kurang tertarik artis yang masuk politik. Terima kasih. Semoga amal ibadah beliau diterima disisiNya. Amin

tiged @ Minggu, 18 Mei 2008 | 14:29 WIB
Renungan buat artis yang mau jadi cgub, walikota dll artis seperti SS itu udah lama dulu terjun dipartai dan menjadi politisi praktis bukan karena artis. kalau yang mau jadi pemimpin karena artis??pikir seratus kali dulu lah, bangsa ini butuh pemimpin yang mau mimpin bukan yang mau manfaatkan situasi. selamat jalan…

Leave a Reply