wapres juga manusia
Monday, 19-5-2008 | 7:37 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan
JAM 04.00 WIB anak saya Rizal sudah bangun. Ia lalu mandi, shalat, sarapan dan cabut dari rumah menuju sekolahnya. Istriku, ikut terbangun. Khawatir kelaparan, Rizal dibekali makanan ringan. Sesampainya di SMPN 161 Jakarta, ia bergabung dengan teman-temannya berangkat ke Monas, mengisi acara 100 Tahun Kebangkitan Nasional.
Kebetulan, group band-nya terpilih mengisi acara yang dihadiri para pejabat tinggi negara. Ada beberapa lagu yang mereka siapkan. Siang hari ia telepon saya. Katanya, “Pa… Rizal sudah di rumah dan acaranya berjalan dengan sukses. Teman-teman mainnya juga bagus dan tidak ada yang keseleo.”
Siapa saja yang datang Nak? “Ada Wapres Jusuf Kalla, menteri-menteri dan Gubernur DKI Fauzi Bowo.” Apa kamu tidak gemetar atau takut saat tampil di depan mereka? “Apa yang harus Izal takuti Pa? Kan Jusuf Kalla dan menteri-menteri sama-sama manusia. Dia juga makan nasi dan Izal juga makan nasi,” tuturnya sambil cengegesan melalui telepon.
Ehmmm… jawaban rasional, menggelitik dan sungguh-sungguh dalam. Cuman, kata Rizal, repot juga kalau mau ngisi acara yang dihadiri para pejabat tinggi negara. Pertama, datang harus tepat waktu karena ada petugas protokoler –Paspampres–yang mengaturnya. Kedua, performance tetap harus dijaga dan ketiga harus tahan kantuk… huaha… ha… ha….
Kenapa harus tahan kantuk? Beberapa bulan lalu ketika Kompas mengadakan acara pertemuan 100 CEO di sebuah hotel, saya diminta hadir. Khawatir terlambat, saya bersama Edi Taslim –Wakil GM Kompas.com– dan Murfi (manager IT Kompas.com) terpaksa nginap di Hotel Sahid.
Acaranya digelar jam 08.30 WIB. Saya, ET dan Murfi sudah harus bangun jam 04.00 pagi. Padahal, karena ngobrol terus di kamar hotel, kami baru tidur pukul 03.00. So… tanpa sarapan lagi kami sudah harus tiba di lokasi acara sebelum Wapres Jusuf Kalla datang. Ribet…. Tapi, itulah realitasnya bahwa hidup di negeri ini harus mau diatur-atur dan tidak bisa seenak udelnya… he.. he… he…. Akibatnya, sepanjang acara, mata kami sudah tak bisa diajak kompromi. Duduk di kursi, lalu terpejam sebentar, bangun lagi, nyemak pembicaraan, merem lagi dan seterusnya…. (achmad subechi)














