kenangan bersama bang ali…

Wednesday, 21-5-2008 | 13:18 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan


Rabu, 21 Mei 2008 | 17:22 WIB

JAKARTA meneteskan air mata. Seorang tokoh yang konsisten terhadap perjuangan bangsanya telah pergi. Selamat jalan Bang Ali Sadikin. Semoga Tuhan mencatat semua amal baikmu dan menempatkanmu di sisi-NYA.

Bang… sekitar tahun 1997, saya teringat bagaimana engkau memperlakukanku saat bertandang ke rumahmu di Jalan Borobudur No 2 Menteng, Jakarta Pusat.

Ketika itu gerakan reformasi sedang hangat-hangatnya didengungkan. Dan engkau bersama anggota Petisi 50, selalu merapatkan barisan memberikan kritik kepada negara dengan tujuan yang mulia, meluruskan sesuatu yang bengkok saat negeri ini masih dipimpin Soeharto.

Suatu hari, saya mendapat kabar akan ada jumpa pers di kediamanmu. Meluncurlah saya kesana. Petugas satpam menghentikan langkahku.. “Ada apa?” “Mau bertemu Bang Ali. Katanya ada jumpa pers” Seorang penjaga rumahmu balik bertanya, “Seingat saya tidak ada. Dan Bang Ali hari ini sedang rapat”

“Justru saya kesini ini atas perintah Bang Ali. Kalau enggak percaya cek saja.” Begitulah caraku –sedikit menipu satpam– Bang, agar saya bisa melakukan wawancara dengan engkau. Saya lalu diizinkan masuk ke rumahmu. Di ruang depan, aku lihat Abang sedang serius memimpin rapat bersama anggota Petisi 50. Saya nyelonong, lalu duduk di kursi barisan depan. Engkau terkaget-kaget melihat kehadiranku. Saat itu juga, engkau berdiri dari kursi. “Anda siapa? Dan ada apa?” tanyamu dengan nada suara cukup tinggi. “Saya wartawan… Katanya Abang mau mengadakan jumpa pers?” “Siapa yang bilang?” “Saya dapat kabar begitu Bang…”

Mendengar penjelasan itu, semua anggota Petisi 50 ikut benggong. Bang Ali lalu merangkulku. Ia mengajak masuk ke dalam ruangan di bagian tengah yang cukup luas. Ketika itu hatiku dag dig dug… Bang, sedikit ketakutan… “Kamu duduk di sini… Kamu nikmati semua makanan yang ada di sini dan tunggu saya sampai selesai rapat.”

Ruangan itu cukup luas. Saya duduk di meja makan dan engkau pergi meninggalkan saya. Sejam kemudian, engkau datang. “Kenapa enggak kamu makan?” Saya terdiam, agak kikuk. Lalu engkau memaksaku makan nasi rawon, lengkap dengan sambalnya. Sambil mengunyah nasi, engkau tiba-tiba ‘mengintrograsiku’. “Apa yang kamu ketahui tentang politik? Kamu dulu sekolah dimana?” Setelah saya jelaskan, Bang Ali ketawa ngakak. “Mana tahu, jurusan komunikasi kok… sekarang menulis berita politik.”

Saat itu wajahku menjadi merah padam Bang. Apalagi engkau kalau berbicara sangat keras sekali, membuat lawan bicaramu menjadi ketakutan. Tapi, itulah gayamu Bang, walau keras, ternyata engkau memiliki kelembutan hati dan empati yang tidak semua orang mengetahuinya “Supaya Abang yakin, apa boleh saya jelaskan konstalasi politik nasional saat ini menjelang Pemilu?”

Lagi-lagi engkau tertawa. Saya tambah kikuk. Setelah itu, engkau mempersilahkan aku menjelaskan konstalasi politik nasional. Waktu itu Bang, aku membedahnya satu persatu kekuatan masing-masing fraksi di MPR RI, terkait dengan pemilihan presiden. Dan engkau, terlihat serius melihat gayaku ketika menerangkan peta kekuatan politik nasional. “Jadi tidak menutup kemungkinan akan ada pendadakan sikap dari FPDIP Bang.. Nah, kalau terjadi pendadakan sikap, maka peta politik akan berubah,” kataku.

Engkau terkejut. “Anda kok tahu begitu dalam? Jangan-jangan kamu intelijen? Saya minta jangan kamu tulis soal skenario itu. Kalau kamu tulis, nanti mereka-mereka itu akan mengubah strateginya,” pintamu ketika itu.

Lumayan lama gobrol denganmu Bang… sekilas aku menangkap kesan, engkau orang baik… Engkau peduli terhadap nasib bangsamu. Belakangan, ketika reformasi bergulir, engkau kecewa dengan hasilnya. Apalagi, masyarakat Indonesia dengan mudah dan gampang melupakan masa lalu dan memaafkan semua peristiwa yang terjadi –politik, budaya dan lain sebagainya. Padahal, engkau paham dan mengetahui bagaimana perilaku elit di era Orde Baru.

Meskipun engkau kesal, tetapi engkau tetap memberikan spirit buat anak-anak bangsa di negeri ini. Engkau katakan, “Kewajiban kita adalah bangkit untuk melaksanakannya…” Dan kini Bang, semua bangsa Indonesia diminta bangkit dan bisa melakukan sesuatu, sehingga kita semua tidak tertidur lagi.

Saya juga masih teringat Bang akan keinginanmu dan teman-teman di Petisi 50 dalam memperbaiki bangsa ini supaya lebih sempurna dan bermartabat. Engkau saat itu menghimbau agar masyarakat dan pemerintah mau melaksanakan agenda reformasi, satu diantaranya penegakkan supremasi hukum mengadili Soeharto sebagai prioritas utama. Akan tetapi, keinginanmu itu tidak kesampaian Bang, hingga Soeharto menghembuskan nafas terakhirnya.

Kedua, engkau juga meminta agar ada gerakan nasional yang bisa mengakhiri budaya politik destruktif yang menjadikan kekuasaan, jabatan dan uang sebagai tujuan hidup dan menggantinya dengan budaya politik yang bermoral dan beretika. Sungguh mulia dan elok visi yang engkau canangkan Bang.

Sayangnya ketika kesadaran itu sedang ditumbuhkan dan semuanya hendak melakukan perubahan dengan ditandainya peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional, engkau keburu pergi untuk selamanya. Perayalah Bang, anak-anak bangsa di negeri ini tidak akan melupakan jasa-jasamu, kejujuranmu dan kepemimpinanmu yang akhirnya membuat Jakarta bisa berkembang menjadi kota metropolitan seperti sekarang ini. Selamat jalan Abang…. (Tribun Kaltim/Achmad Subechi/naskah ini sudah dimuat di www.kompas.com)

Leave a Reply