Dimanakah Dia

Thursday, 22-5-2008 | 7:59 WIB | 5 Komentar | Kategori: Gagasan

WAJAHNYA masih tetap ayu. Apa resepnya? Wanita itu ketawa ngakak saat ditanya tentang rahasia awet mudanya dan teknik menjaga kecantikan. Itulah sekilas sosok Marissa Haque, mantan anggota DPR RI dari FPDIP yang kini nyeberang ke PPP.

Istri Ikang Fawzi itu Rabu (21/5) malam sengaja datang ke kantor Tribun Kaltim untuk bertemu dengan Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim Achmad Subechi. Padahal, ia habis menempuh perjalanan cukup jauh enam jam dari Bontang. “Saya mau ketemu sahabat saya. Dimanakah dia?” kata Marissa saat naik ke lantai dua ruang redaksi.

Tawa canda spontan meledak, begitu Achmad Subechi menemui Marissa. Mereka kemudian ngobrol bareng dengan awak redaksi Tribun, hingga pukul 01.40 WITA. Apalagi, Marissa dikenal sebagai sosok yang murah senyum, suka bercanda dan kalau bicara terkesan blak-blakan. Berbalut baju muslim berwarna hijau dipadu jilbab warna senada kombinasi merah marun, Icha terlihat anggun. Warna hijau merupakan warna favoritnya.

Kenapa memilih baju warna hijau? “Green means life, Indonesia go green,” katanya. Warna hijau, memiliki nilai filosofis sangat dalam karena mewakili aura kehidupan manusia di dunia. Warna lainnya yang disukainya adalah biru, karena mewakili aura kehidupan langit atau surgawi.

Tak kurang 20 koleksi gaun berwarna hijau sudah ia miliki selama 8 bulan bergabung dengan PPP. Dia bercerita bahwa busana muslimah yang ia pakai sekarang merupakan hadiah dari seorang sepupunya yang tinggal di Bontang. Ia mendapat hadiah itu setelah gaun yang ia gunakan robek di bagian paha usai kampanye di Bontang.

Artis era 80-an itu kemudian diajak ke sebuah toko baju Pocut Dara milik Ny Nadra Laksmarda, pegawai PT Gas Badak. Harga bajunya sebenarnya cukup tinggi Rp 800.000. Namun khusus untuk Marissa, ia diberi gratis karena keluarganya berasal dari Madura, Jawa Timur. Selama ini ia senang menjaga ikatan tali sillaturrahim. Apalagi silaturrahim merupakan pintu pembuka rezeki. “Saya dapat baju hijau ini gratis sebagai hadiah. Dan setelah ini saya persilahkan foto- foto saya untuk digunakan Ny Nadra Laksmarda untuk pembuatan brosur tokonya. Waduh saya happy banget mendapatkan baju sutra hijau ini. Masya Allah bagus sekali kan…” ujarnya.

Balikpapan bagi Icha bukanlah kota asing. Maklum, ia memang lahir di kota minyak. Lahir 15 Oktober 1962. Waktu itu sang ayah ditugaskan kali pertama oleh Shell yang kemudian berubah nama menjadi, BPM, Permina, Pertamin lalu berubah menjadi Pertamina.

Ada kerinduan untuk mengenang masa kecilnya di kota ini. Ia menggambarkan rumah yang pernah ditempatinya terletak di Jalan Irian 21, Klandasan. “Ari-ariku ditanam di halaman depan rumah. Tepatnya di bawah pohon markisa yang pernah ditanam ibuku. Makanya namaku Marissa,” kenang wanita kelahiran Balikpapan 15 Oktober 1962 ini sambil tertawa.
Kamis (22/5) hari ini ia berniat mengajak awak Tribun melakukan napak tilas hanya sekedar untuk melihat bekas tempat tinggalnya. Meski pemiliknya berganti-ganti karena rumah tersebut merupakan rumah dinas, Icha tak pernah sungkan.

“Tiap tahun bila sedang mendapatkan tugas DPR, saya selalu menyempatkan diri berkunjung ke rumah itu. Meski tak mau masuk hanya kepingin berkunjung, tetapi pemilik rumah selalu mempersilakan saya untuk masuk dan menyediakan teh atau kue-kue. Tentu tak lupa foto-foto,” tuturnya. (lia)


Comments (5)

 

  1. Anonymous says:

    Ka-Ji Semoga ‘Makin Manteb’

    Sepulang dari Umroh sejak tiga hari yang lalu membuat hati dan diri ini yang masih didominasi ‘selimuti alam pikir’ gelombang alpha menjadi semakin sering bersenandung “Ya nabi salam ‘alaika” serta berbagai dzikir muhasabah. Juga entah kenapa tiba-tiba pikiran ini jadi melayang memikirkan bagaimana perkembangan salah seorang perempuan Indonesia yang saya kagumi – Khofifah Indar Parawansa – yang sekarang ini sedang menjadi salah satu kandidat Gubernur Jatim

    Saya mengenal sosok Khofifah disaat menjadi salah seorang menteri pada Kabinet Presiden Gus Dur. Ia memegang amanah sebagi Mentri Negara Urusan Pemberdayaan Perempuan (Meneg PP). Memang sebagai salah satu menteri diwilayah tersebut yang pernah menjabat, Khofifah bukan yang paling tinggi pendidikannya. Ada nama lain yang sekarang ini sedang menjabat, ia adalah Prof. Dr. Meutia Hatta. Namun jurju saja dari hati sanubari yang terdalam justru Khofifah adalah yang paling vokal, serta paling menonjol kekaryaan / ‘sepak terjangnya.’

    Mengenal Khofifah lebih dalam setelah menyaksikan pendampingan serta dorongan yang luar biasa yang diberikan kepada sang suami tercintanya disaat-saat genting pencapaian gelar tertinggi akademik dari PSL-IPB (Pusat Studi Lingkungan Hidup – Institut Pertanian Bogor). Ya, Pak Indar Parawansa adalah kakak kelasku di IPB, Bogor. Perkawanan dilanjutkan menjadi lebih dekat disaat bersama-sama Neno Warisman selama tiga bulan menjadi juri Pildacil di LaTV beberapa bulan yang lalu. Bersama Khofifah, kami berdua seringkali menyelipkan bebrbagai pesan lingkungan hidup berbasis argumen ilmu Al Quran. Para semi-finalis yang lalu menjadi finalis, kami coba masukkan pemahaman terhadap ilmu sistem lingkungan hidup yang holistic serta integrated dengan bahasa sederhana yang mudah dimengerti orang awam.

    Kurang lebih tiga bulan yang lalu disaat pencanangan pertama Khofifah dan pasangannya bertempat disalah satu stadion besar di Surabaya, saya, mbak Emilia Contessa, Neno Warisman, beberapa artis lokal Jawa Timur, serta sebagian keluarga besar PPP dan warga Nahdiyin Jawa Timur (NU) berbaur dengan seluruh pendukung dari unsur partai pendukung lain pencalonan pasangan Ka-Ji tersebut. Kami semua partai pendukung beserta dengan ketua partai masing-masing hadir disana dan menyatakan dukungan resmi. Dan hari ini, tanggal 23 Juli 2008, akan menjadi salah satu hari yang paling bersejarah dalam kehidupan Bunda Khofifah (panggilan sayang seluruh kru, juri dan peserta acara Pildacil). Saat yang dinanti selam tiga bulan yang melelahkan datanglah jua, saat pencoblosan tiba! Saya mendoakan semoga semuanya berjalan lancar adanya tanpa kendala dzolim yang tidak diperlukan seperti yang telah nyata terjadi di Sulawesi Selatan dan Maluku Utara termasuk Pilkada Banten 2006 yang lalu diantaranya.

    Namun, sayapun menyiapkan hipotesa, bahwa kemungkinan besar Pilkada Jatim 2008 ini – diluar menang atau tidak menang Khofifah dan pasangannya nanti — kelihatannya tetap akan menyisa hari dengan setumpuk permasalahan kegelisahan hukum yang berkepanjangan. Sebagai warga negara, sebenarnya sudah sejak kurang lebih dua tahun lalu saya mersakan kegelisahan yang tidak penting ini. Tidak penting!, karena saya maupun warga negara Indonesia lain yang melek hukum masih ingin meyakinkan diri bahwa negeri ini sebenar-benarnya adalah sebuah negara hukum seperti yang telah dijamin oleh UUD 45 pada pasal 1 ayat 3. Namun dengan puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan kejadian bertubi-tubi sejak 42 tahun yang lalu, membuat kita semua harus tetap memasang kewaspadaan dan membobot kembali keabsahan jaminan hukum dari sebuah rezim pemerintahan disebuah negeri yang bernama Indonesia tercinta ini.

    Kemarin sore dalam kepulangan dari Balikpapan menuju Jakarta, saya berpapasan dengan Cawagub Kaltim pasangan AFI (Awang Farouk – Farid Wajdi) yang salah satunya diusung oleh PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Diruang Executive Lounge Garuda Indonesia, saya menjalin sebuah diskusi cerdas hangat bersama Pak Farid. Beliau dengan latar belakang seorang Ustad dan pernah menjadi PNS Depag Kaltim sangat menyayangkan beberapa komentar yang keluar sebagai sebuah ungkapan arogan berbau sangat provokatif. Semisal, KPUD Kaltim tidak ada urusannya dengan MA (Mahkamah Agung). KPUD dapat menolak fatwa MA, dan lain sebagainya. Apabila benar hal-hal yang telah diucapkan tersebut terjadi, alangkah sangat disayangkannya. Mengingat kalimat janggal berbau emosi tersebut keluar dari mulut seorang yang terhormat dengan latar belakang perjalanan karir serta politik panjang di Indonesia yang sekaligus sebagai sebuah parameter masih terjadinya ’budaya’ premanisme politik-hukum yang dimasa lalu selama 32 tahun mendominasi negeri kita.

    Sayapun kini termenung mengevaluasi konteks kejadian demi kejadian serba ribut dan gontok-gontokan pasca pelangsungan Pilkada hampir diseluruh Indonesia. Teringat akan salah satu sub-bab pada buku berjudul ”Il Principe” karya Nicolo Machiavelli. Dalam bukui yang aslinya ditulis dalam bahasa Italia tersebut digambarkan serta dijelaskan bahwa hukum ’tak tertulis’ didunia ini adalah bahwa pada 10 tahun masa pasca sekompok proletar berhasil menang atas kaum borjuis dan merebut kursi posisi penguasaan kepemerintahan, maka para kaum borjuis yang selama masa tersebut berpura-pura mereformasi diri demi bertahan terhadap gelombang perubahan sosial-politik, maka dengan kekuatan besar lama ia akan datang kembali dengan ’wajah serta baju baru.’ Kelompok reformis asal proletar tidak akan merasakan ancaman laten tersebut.

    Hari ini bila kita mengacu kepada seluruh kekacauan yang terjadi sebenarnya, adalah indikator atau parameter akan masa dimana para ’monster politik’ masa lalu sudah ada didepan kita dengan kekuatan lebih prima, amunisi lebih mumpuni, sumberdaya manusia lebih siap bersaing, serta network strategy tak tertandingi yang hanya dapat dikalahkan apabila ada intervensi ’tangan’ Allah semata. Lihatlah kasus Lapindo yang tak kunjung selesai, yang akan menjadi pekerjaan rumah Khofifah bila ia menang nanti. Dengarkan jerit-tangis sebagian besar keluarga besar Jawa Timurann kita semua di Porong, Sidoarjo yang kehilangan segalanya serta terserabut dari akar budayanya. Doa panjangku untuk Bunda Khofifah dan pasangannya dalam Ka-Ji (www.kaji-manteb.com), semoga semakin mantab didalam berjihad dijalan-Nya. Dan ’manteb’ pula nantinya didalam mewakilkan jerit-derita wong Porong, Sidoarjo disaat nanti bernegosiasi dengan Presiden terpilih dan Mendagri yang akan datang 2009, jika insya allah menang nanti.

    Namun, bila nanti kalah karena faktor kedzoliman dari aspek keadilan yang tidak jujur. Maka jalanlah sedih dan berkecil hati. ”La tahzan,” saranku sebagai kawan baikmu Ya Bunda Khofifah Kekasih Allah, teruslah berjuang jangan pernah mengatakan mengalah pada kebathilan seperti perjuanganku sampai dengan hari untuk ranah Propinsi Banten melalui berbagai peradilan / meja hijau hukum Indonesia. Doa ikhlasku untukmu sobat! All the best semua hanya karena Allah… hanya karena Allah… hanya karena Allah…

    Oleh:
    Hj. Marissa Haque Fawzi, SH, MHum, Kandidat Doktor.

  2. Sabtu, 30 Agustus 2008 10:14

    KOMENTAR FANS MARISSA HAQUE Kapanlagi.com – Artis papan atas Marissa Haque mengatakan bahwa dirinya gelisah dunia entertainment yang selalu menyorot artis dari sisi popularitas saja. Sudah saatnya artis yang memang berlatar akademis tidak hanya disorot keartisannya. Marissa menunjuk Baim, mantan vokalis Ada Band dan Artika Sari Devi yang yang keduanya lulusan sarjana S-2 hukum.

    “Selalu saja kami disorot dari sisi artis. Saya jarang dimintai pendapat tentang hal lain di luar keartisan. Bagi publik, hal itu juga membuat image artis tidak cerdas. Saya ingin jadi akademisi negarawati sejati,” kata Marissa Haque, saat berbincang dengan KapanLagi.com di Hotel Grand Mercure Yogyakarta, Jumat (29/8).

    Wanita kelahiran Balikpapan 15 Oktober 1962 ini mengatakan bahwa dirinya 2-3 pekan lagi lulus sarjana S3 dari IPB jurusan Pengelolaan Sumber Daya Alam. Selain itu, Marissa juga sedang kuliah magister S2 di MM UGM jurusan Human Resources and Organization. Selain di UGM, Marissa juga mengambil jurusan S2 Magister Humaniora di Unika Atmajaya Jakarta dengan spesialisasi pengajaran untuk anak tuna rungu.

    Pada kesempatan di Yogyakarta ini Marissa terpilih sebagai Duta batik Adiningrat dan batik Ningrat. Batik Adiningrat beralamat di Malioboro 73, dan batik Ningrat di Jalan Maliboro 23 ini merupakan gerai bisnis retail batik Pertiwi Group. Penandantanganan Marissa dipilih sebagai Duta batik Adiningrat dan Batik Ningrat MOU Marissa sebagai duta batik tersebut dimulai sejak 1 Agustus kemarin, dengan kurun waktu 1 tahun lamanya.

    “Saya sangat bersyukur bisa menjadi duta batik, karena saya mencintai karya Indonesia. Apalagi melihat perkembangan batik yang berjalan begitu pesat. Rancangan dari batik pun beraneka ragam dan pakaiannya sudah menjadi suatu rancangan yang modern,” ujar Marissa yang juga Ketua bidang Lembaga Keuangan Mikro Syariah Partai PPP ini.

    Saat di Hotel Grand Mercure Yogyakarta kemarin, Marissa juga panjang lebar bertutur tentang batik, lingkungan, hukum, dan persoalan politik.

    Hilman Hakim, Manager Operasional Pertiwi Grup mengatakan, setahun penuh Pertiwi Grup akan memakai jasa Marissa sebagai media promosi produk batiknya. Marissa adalah publik figur cerdas. Ia juga tak terimbas isu dari perkawinannya dengan Ikang Fawzi. (kpl/tia)

    Lihat Foto Marissa Haque di Yogyakarta

  3. Sabtu, 30 Agustus 2008 10:14

    KOMENTAR FANS MARISSA HAQUE Kapanlagi.com – Artis papan atas Marissa Haque mengatakan bahwa dirinya gelisah dunia entertainment yang selalu menyorot artis dari sisi popularitas saja. Sudah saatnya artis yang memang berlatar akademis tidak hanya disorot keartisannya. Marissa menunjuk Baim, mantan vokalis Ada Band dan Artika Sari Devi yang yang keduanya lulusan sarjana S-2 hukum.

    “Selalu saja kami disorot dari sisi artis. Saya jarang dimintai pendapat tentang hal lain di luar keartisan. Bagi publik, hal itu juga membuat image artis tidak cerdas. Saya ingin jadi akademisi negarawati sejati,” kata Marissa Haque, saat berbincang dengan KapanLagi.com di Hotel Grand Mercure Yogyakarta, Jumat (29/8).

    Wanita kelahiran Balikpapan 15 Oktober 1962 ini mengatakan bahwa dirinya 2-3 pekan lagi lulus sarjana S3 dari IPB jurusan Pengelolaan Sumber Daya Alam. Selain itu, Marissa juga sedang kuliah magister S2 di MM UGM jurusan Human Resources and Organization. Selain di UGM, Marissa juga mengambil jurusan S2 Magister Humaniora di Unika Atmajaya Jakarta dengan spesialisasi pengajaran untuk anak tuna rungu.

    Pada kesempatan di Yogyakarta ini Marissa terpilih sebagai Duta batik Adiningrat dan batik Ningrat. Batik Adiningrat beralamat di Malioboro 73, dan batik Ningrat di Jalan Maliboro 23 ini merupakan gerai bisnis retail batik Pertiwi Group. Penandantanganan Marissa dipilih sebagai Duta batik Adiningrat dan Batik Ningrat MOU Marissa sebagai duta batik tersebut dimulai sejak 1 Agustus kemarin, dengan kurun waktu 1 tahun lamanya.

    “Saya sangat bersyukur bisa menjadi duta batik, karena saya mencintai karya Indonesia. Apalagi melihat perkembangan batik yang berjalan begitu pesat. Rancangan dari batik pun beraneka ragam dan pakaiannya sudah menjadi suatu rancangan yang modern,” ujar Marissa yang juga Ketua bidang Lembaga Keuangan Mikro Syariah Partai PPP ini.

    Saat di Hotel Grand Mercure Yogyakarta kemarin, Marissa juga panjang lebar bertutur tentang batik, lingkungan, hukum, dan persoalan politik.

    Hilman Hakim, Manager Operasional Pertiwi Grup mengatakan, setahun penuh Pertiwi Grup akan memakai jasa Marissa sebagai media promosi produk batiknya. Marissa adalah publik figur cerdas. Ia juga tak terimbas isu dari perkawinannya dengan Ikang Fawzi. (kpl/tia)

    Lihat Foto Marissa Haque di Yogyakarta

  4. HILMAN says:

    Sabtu, 30 Agustus 2008 10:14

    KOMENTAR FANS MARISSA HAQUE Kapanlagi.com – Artis papan atas Marissa Haque mengatakan bahwa dirinya gelisah dunia entertainment yang selalu menyorot artis dari sisi popularitas saja. Sudah saatnya artis yang memang berlatar akademis tidak hanya disorot keartisannya. Marissa menunjuk Baim, mantan vokalis Ada Band dan Artika Sari Devi yang yang keduanya lulusan sarjana S-2 hukum.

    “Selalu saja kami disorot dari sisi artis. Saya jarang dimintai pendapat tentang hal lain di luar keartisan. Bagi publik, hal itu juga membuat image artis tidak cerdas. Saya ingin jadi akademisi negarawati sejati,” kata Marissa Haque, saat berbincang dengan KapanLagi.com di Hotel Grand Mercure Yogyakarta, Jumat (29/8).

    Wanita kelahiran Balikpapan 15 Oktober 1962 ini mengatakan bahwa dirinya 2-3 pekan lagi lulus sarjana S3 dari IPB jurusan Pengelolaan Sumber Daya Alam. Selain itu, Marissa juga sedang kuliah magister S2 di MM UGM jurusan Human Resources and Organization. Selain di UGM, Marissa juga mengambil jurusan S2 Magister Humaniora di Unika Atmajaya Jakarta dengan spesialisasi pengajaran untuk anak tuna rungu.

    Pada kesempatan di Yogyakarta ini Marissa terpilih sebagai Duta batik Adiningrat dan batik Ningrat. Batik Adiningrat beralamat di Malioboro 73, dan batik Ningrat di Jalan Maliboro 23 ini merupakan gerai bisnis retail batik Pertiwi Group. Penandantanganan Marissa dipilih sebagai Duta batik Adiningrat dan Batik Ningrat MOU Marissa sebagai duta batik tersebut dimulai sejak 1 Agustus kemarin, dengan kurun waktu 1 tahun lamanya.

    “Saya sangat bersyukur bisa menjadi duta batik, karena saya mencintai karya Indonesia. Apalagi melihat perkembangan batik yang berjalan begitu pesat. Rancangan dari batik pun beraneka ragam dan pakaiannya sudah menjadi suatu rancangan yang modern,” ujar Marissa yang juga Ketua bidang Lembaga Keuangan Mikro Syariah Partai PPP ini.

    Saat di Hotel Grand Mercure Yogyakarta kemarin, Marissa juga panjang lebar bertutur tentang batik, lingkungan, hukum, dan persoalan politik.

    Hilman Hakim, Manager Operasional Pertiwi Grup mengatakan, setahun penuh Pertiwi Grup akan memakai jasa Marissa sebagai media promosi produk batiknya. Marissa adalah publik figur cerdas. Ia juga tak terimbas isu dari perkawinannya dengan Ikang Fawzi. (kpl/tia)

    Lihat Foto Marissa Haque di Yogyakarta

  5. ;) Marissa Haque adalah seorang yang jenius di PPP, coba deh ajak dia diskusi pasti anda ketagihan. Dahulu di PDIP dia dicemburui oleh Megawati si wanita tolol dan Pramono Anung. Apalagi sudah Doktor sekarang. Semoga saja Bachtiar Chamsah dan Suryadharma Ali tidak ikutan mencemburui kecerdasan Marissa. Karena dia akan menjadi salah seorang Presiden Republik Indonesia. Lihat deh 5 tahun lagi sobat!

Leave a Reply