Sederhana dan Bersih

Saturday, 24-5-2008 | 10:09 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan



“SAYA baru kali ini datang ke Balikpapan. Bagus juga ya… bandaranya,” kata Meutya Hafid, kepada Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim Achmad Subechi dan Redpel Priyo Suwarno sesaat turun dari pesawat di Bandara Sepinggan, Balikpapan, Rabu (21/5) malam.

Kedatangan Meutya menarik perhatian para calon penumpang pesawat. Bahkan ada yang meminta foto bersama saat wanita itu baru melangkahkan kaki keluar dari bandara. Ia datang ke Balikpapan, didampingi Usman, salah satu pimpinan di Metro TV yang bertugas mengatur acara Debat Publik Pilgub Kaltim yang ditayangkan secara langsung dari Hotel Bumi Senyiur, Samarinda, Kamis (22/5).

Semalam Meutya mendapat tugas sebagai pembawa acara. Ialah yang memandu jalannya debat antarkandidat calon KT1/KT2. Apa komentar dia usai memandu acara? “Ini paling mending ketimbang yang lain. Paling tidak lebih baik dari calon-calon kepala daerah lainnya yang juga pernah mengikuti Debat Pilgub. Calon-calonnya bagus, cerdas, suasana tampak lebih cair meski awalnya mereka tampak tegang. Tapi itu awalnya saja kok, mereka kan jarang tampil di televisi. Jadi wajar saja kalau tegang…,” kelakar Meutya sambil tertawa ngakak.

Konkritnya? “Semua calon jawabannya baik dan cerdas semuanya. Beneran lho, saya sampai dapat SMS dari teman-teman yang mengatakan calon-calon Gubernur Kaltim pintar-pintar,” ujarnya. Acara debat kemarin dimulai sejak pukul 20.05 hingga pukul 22.00 malam. Tidak hanya disiarkan langsung di Metro TV, masing-masing kandidat juga datang membawa massa mereka untuk memberikan dukungan.

Meutya bercerita, sebelum acara dimulai sempat beredar kabar bahwa salah satu calon menolak untuk hadir di acara itu. “Tapi itu cuma isu saja. Buktinya keempat calon datang dan membuktikan keseriusan mereka untuk maju menjadi gubernur,” tuturnya. Wanita itu berpesan kepada gubernur terpilih mendatang untuk tidak korupsi dan mau memenuhi janjinya. “Semuanya baik, tapi pesan saya jangan korupsi kalau jadi gubernur nanti,” ujarnya.

***

WAJAH Meutya Hafid masih letih. Maklum, ia baru saja menempuh perjalanan cukup jauh, Samarinda-Balikpapan melalui jalur darat. Berangkat dari Samarinda pukul 11.00 Wita. Tiba di markas Tribun Kaltim, Jumat (23/5) sekitar pukul 14.45. Padahal, pesawat yang hendak membawanya terbang ke Jakarta, take off pukul 16.15 Wita. “Maaf agak terlambat. Wah bagus juga kantornya. Sederhana, tapi cukup bersih,” kata Meutya kepada Achmad Subechi saat memasuki ruang redaksi Tribun di Jalan Indrakilla, Balikpapan.

Ditemani Achmad Subechi dan Priyo Suwarno, wanita yang pernah disandera di Irak itu, sempat ngobrol dengan wartawan dan karyawan Tribun. Apa kesannya tentang Bumi Etam? “Senang sekali bisa lihat hutan, bisa lihat Sungai Mahakam yang luas kayak laut,” kata Meutia yang sejak dari Samarinda duduk di samping sopir. Padahal ia ingin sekali menaiki perahu berkeliling Sungai Mahakam. Akan tetapi, karena waktu yang terbatas, ia harus segera berangkat kembali ke Jakarta.

“Wow, senang sekali akhirnya bisa melihat Sungai Mahakam. Pokoknya saya harus kembali lagi suatu saat, karena saya belum nyobain naik perahu di Sungai Mahakam. Pasti seru… Ternyata pas melihat sendiri sungainya besar sekali ya,” tutur lajang kelahiran Bandung, 3 Mei 1978 dengan mata berbinar.

Kemarin malam, Meutya menjadi perhatian publik Kaltim karena ia dipercaya menjadi host acara Debat Pilgub Kaltim. Penampilannya yang smart dan cukup piawai dalam mengarahkan para kandidat KT1/KT2, membuat warga Kaltim, tak bisa melupakan wajahnya.

Walau hanya dua hari berada di Kaltim, Meutya mengaku cukup berkesan dengan masyarakat Kaltim. “Orang Kaltim ramah-ramah. Logat daerahnya agak aneh. Dan orang sini sering ngomongnya ditambahi kata kah. Ada juga yang sering keceplosan pakai bahasa daerah ketika berbicara dengan aku. Tapi untungnya nggak terlalu sulit memahaminya,” ujar wanita kelahiran 3 Mei 1978, jebolan University of New South Wales, Sydney Australia.

Ada satu makanan khas Kaltim yang sangat disukai dara berdarah Aceh. Ia menyukai amplang, camilan khas yang terbuat dari ikan pipih. Saking doyannya, sepanjang perjalanan Samarinda- Balikpapan, ia selalu menikmati makanan itu sambil melihat pemandangan di sekitar Bukit Soeharto. Ia juga membeli amplang sebagai oleh-oleh buat rekan-rekannya di Metro TV. Tak ketinggalan, so… pasti juga buat keluarganya di Bandung. “Aku tadi juga borong sarung tenun khas Samarinda.”

Meutya sendiri sudah tiga kali memandu acara Debat Pilkada, sebelumnya Pilkada Sumut dan Jawa Barat. Untuk Debat Pilkada Kaltim ini, persiapan tim dilakukan jauh hari sebelumnya. Sebulan sebelum acara, tim sudah datang ke Kaltim untuk berdiskusi dengan KPUD Kaltim. “Persiapan kita lakukan bersama-sama. Timnya tidak cuma saya, ada litbang dan LSI (Lembaga Survei Indonesia),” katanya.

Tidak hanya sekali persiapannya. Tim ini sudah tiga kali datang ke Kaltim untuk mengetahui kondisi terkini daerah tersebut. Tapi, dia tidak sempat ikut waktu persiapan tim ke Kaltim. “Dua kali saya tidak ikut. Kebetulan saat itu saya sakit tifus. Saya baru bisa datang ke Kaltim saat acara debat ini,” ujar penulis 168 Jam dalam Sandera –buku yang mengisahkan pengalaman pribadinya disandera pasukan milisi Irak saat meliput invasi Amerika Serikat di Irak tahun 2005. (bdu/m11)

Leave a Reply