Kekuasaan….

Monday, 23-6-2008 | 7:47 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

KEKUASAAN… Kata ini enak didengar dan selalu dirindukan dan diimpi-impikan manusia. Dengan memegang atau menduduki kursi kekuasaan, maka seseorang bisa mengatur-atur bahkan menguasai negara untuk kepentingan dirinya atau kelompoknya. Ia juga bisa bertindak seenak udelnya, ketika negara telah memberikan legitimasi atas epemimpinannya.

Sejak pasca reformasi bergulir, semua orang –terutama mereka yang memiliki modal– berlomba-lomba mencari kursi kekuasaan dengan berbagai macam cara, tanpa mengindahkan etika politik. Seakan-akan kekuasaan menjadi kebutuhan utama yang harus bisa diraih. Kita semua paham bahwa sampai kapanpun yang namanya kekuasaan pasti akan melahirkan kepentingan-kepentingan finansial. sekedar itukah orientasinya? Sungguh terlalu kecil dan teramat kecil jika calon para pemimpin di negeri ini berjuang meraih kekuasaan hanya untuk kepentingan pragmatis semata.

Orientasi yang terlalu pragmatis itu, tanpa disadari akan menyeret mental manusia ke wilayah animal laborans dan berorientasi kepada kebutuhan hidup. Konkritnya, politik seakan menjadi mata pencahrian utama. Jadi, wajar saja kalau sindrom yang menyertai para pemimpin adalah korupsi dan egosentrisme.

Biasanya, ketika sudah berkuasa, mereka cenderung mengabaikan kehadiran manusia lain dan cenderung mengonsentrasikan diri kepada eksistensi dan kebutuhannya. Ada kesan kuat, seakan- akan kekuasaan tidak akan pernah berakhir.
Ketiadaan visi dari calon pemimpin, akhirnya memberikan ruang KKN ketika kekuasaan itu sudah ada di tangannya. Apalagi kita semua tahu bahwa untuk meraih kursi kekuasaan di negeri ini, butuh modal yang tidak sedikit. Fenomena-fenomena semacam itu, akhirnya menidurkan akal sehat manusia.

Sudah sewajarnya kalau masyarakat cenderung skeptis bahkan antipati terhadap para pemimpinnya, karena legitimasi kekuasaan telah tercabut dari akarnya —kehilangan roh atau esensi dari kekuasaan. Akibatnya, kekuasaan cenderung direduksi menjadi masalah-masalah yang terkait dengan kepentingan ekonomi semata.

Mencermati berbagai fenomena itu, ada beberapa hal yang patut kita renungkan sebelum manusia-manusia itu ingin berkuasa di negeri ini melalui Pemilu 2009. Pertama, percayalah bahwa obsesi atau anggan-anggan terlalu tinggi untuk berkuasa tidak akan pernah bisa diraih sampai kapapun manakala hati nurani ditempatkan di dasar jiwa.
Kedua, anggan-anggan terlalu tinggi juga tidak pernah akan teraih karena manusia pasti dan sudah pasti akan berhadapan dengan garis yang dinamakan ajal.

Ketiga, percayalah bahwa tidak ada pesta yang tak akan berakhir. Ketika pesta itu selesai, maka yang akan terjadi adalah kelelahan dan kelelahan lalu berimplikasi kepada gangguan psikis yang ujung-ujungnya akan menyeret manusia ke wilayah kontra produktif dan tanpa disadari akan membawa dirinya menuju ke titik kematian. Lihatlah aib-aib yang sudah terbuka…. (achmad subechi/dimuat di rubrik salam Tribun Kaltim)

Leave a Reply