kedengkian

Saturday, 23-8-2008 | 3:43 WIB | Komentar | Kategori: renungan


SEORANG rekan saya, selalu ngomel dan ngedumel manakala setiap kali terjadi perubahan struktural dalam sebuah organisasi. “Kenapa dia yang dipilih? Kenapa bukan saya? Padahal, kinerjanya dan prestasinya tidak lebih baik dari kinerja saya.”

ADA segudang ‘protes’ (keberatan) yang ia sampaikan begitu melihat rekan satu kantornya, tiba-tiba naik pangkat (jabatan). Umek dan umek terus. Lagi-lagi saya hanya tersenyum. Pertanyaan atau unek-unek itu saya yakin tidak akan muncul kalau pola pikir manusia tidak lagi dangkal. Ketika cara bepikirnya dangkal, maka percaya cara bersikap dan bertindaknya pun akan menjadi sama.

Lagi-lagi saya hanya tersenyum dan tersenyum. Namanya saja manusia. Manusia, selalu saja diselimuti energi-energi yang bisa merugikan dirinya sendiri akibat kurangnya atau terbatasnya pengetahuan, terutama pengetahuan tentang hati.

Dengki atau kedengkian –spite, spitefulness, jealousy– hadir dalam hati manusia setelah dilandasi rasa ketidaksukaan, kebencian, iri, kecemburuan, tamak, ingin menguasai dan lain sebagainya. Penyakit hati yang satu ini selalu saja ada dan tak pernah hilang dari hati manusia, selama manusia itu masih bernafas, bisa melihat dan merasakan segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya.

Rasa dengki lahir ketika panca indera manusia mulai menangkap sesuatu menyangkut kenikmatan atau kebahagiaan yang dirasakan orang lain. Ketika kedengkian mulai muncul, maka yang terjadi adalah ketidaksenangan, ketidaksukaan, kebencian yang ujung-ujungnya akan melahirkan pergunjingan –kasak-kusuk.

Kasak-kusuk kemudian melahirkan fitnah. Produk dari fitnah adalah stigma. Ketika stigma itu sudah terbentuk, maka berimplikasi terhadap nasib seseorang. Tatkala kenikmatan itu mulai berpindah tangan, maka sang pengunjing merasa lega dan terpuaskan.

Dengki adalah penyakit hati yang susah dihilangkan. Banyak manusia yang gagal melawan melawan penyakit hati yang satu ini. Penyakit ini lebih jahat dibanding penyakit fisik lainnya. Manusia yang hatinya diselimuti oleh energi kedengkian, kecenderungannya destruktif dan dipastikan tidak akan bisa merasakan kedamaian atau kesejukan hati –rasa kegelisahan selalu saja hadir di benak maupun jiwanya. Bila itu yang terjadi, maka lumpulah akal dan nalarnya, lalu menyeret manusia ke wilayah sakit atau kontraproduktif.

Ada juga yang bertanya kepada saya. Kenapa kedengkian melahirkan ‘kenikmatan’ dan bisa memuaskan manusia ketika apa yang mereka inginkan tercapai? Saya cukup menjelaskan, hati adalah segumpal darah yang ditempatkan di dalam ronga dada manusia oleh Sang Ilahi. Diharapkan segumpal darah hitam itu selalu tersinari, sehingga ia tidak gelap… Dan di dalam segumpal darah itu pula, ada folder yang dibuat manusia untuk menyimpan berbagai macam keinginan –nafsu. Nafsu-nafsu inilah yang setiap hari bergejolak dan memprovokasi sang pemilik hati.

Rasulullah SAW bersabda, “Hindarilah dengki (kedengkian), karena dengki itu memakan (menghancurkan) kebaikan sebagaimana api memakan (menghancurkan) kayu bakar.” Dalam kitab Aunul Ma’bud disebutkan, “Memusnahkan dan menghilangkan (nilai) ketaatan pendengki sebagaimana api membakar kayu bakar. Sebab kedengkian akan mengantarkan pengidapnya menggunjing orang yang didengki dan perbuatan buruk lainnya. Maka berpindahlah kebaikan si pendengki itu kepada kehormatan orang yang didengki. Maka bertambahlah pada orang yang didengki kenikmatan demi kenikmatan, sedangkan si pendengki bertambah kerugian demi kerugian. Akibatnya, kata Alah SWT, “Ia merugi dunia dan akhirat.” (‘Aunul Ma’bud juz 13:168) (achmad subechi)

Leave a Reply