Arogansi…
Tuesday, 26-8-2008 | 5:42 WIB | Komentar | Kategori: renungan
“NIH siapa? Saya enggak kenal anda. Pagi… pagi telepon orang. Maaf saya lagi sibuk,” kata seorang rekan saya, sambil menaruh pesawat handphoneya di kursi. Wajah rekan saya, menunjukkan mimikketidaksukaannya dengan sang penelepon. Ketika itu jarum jam sudah menunjukan pukul 03.00 dinihari. “Siapa tuh yang baru telepon? Pacar atau cewek lain?” tanyaku. “Ah… enggak tahu Mas. Saya enggak kenal. Dan biasa, kalau malam begini banyak telepon yang nyasar ke handphone saya,” jawabnya.
“Boleh saya sedikit usul? Cara kamu dalam menerima telepon tadi salah!!” “Kenapa?” kejarnya. “Cara-cara yang anda lakukan tadi sah-sah saja. Orang Barat biasa melakukan seperti itu. Tapi persoalannya anda adalah orang Timur yang memegang teguh etika atau adat ketimuran.”
“Apa tidak boleh saya melakukan hal seperti itu?” tanyanya lagi. “Persoalannya bukan boleh atau tidak boleh. Apakah anda pernah berpikir bahwa manusia yang baru saja telepon ke anda tadi, sama-sama mempunyai jiwa, roh, perasaan dan pikiran yang sama dengan sampean?”
Mendengar perkataan saya, wajah lelaki yang masih berusia sekitar 24 tahun itu mulai terlihat berubah. Ia agak gellisah. “Jujur saja, saya enggak habis berpikir dengan sikap atau cara-cara yang anda lakukan tadi. Seharusnya anda tanya identitasnya, lalu kepentingannya apa dan kemudian dijawab pula dengan santun. Itu lebih elegan dan tidak menyinggung perasaan orang lain.”
Lelaki itu semakin penasaran. Dia tak lagi protes atas masukan yang saya berikan. “Coba dipikir, dengan sikap seperti itu, apakah anda tahu bagaimana perasaan dia saat ini… begitu telepon tiba-tiba kamu putus? Padahal, dia sengaja telepon kamu, mungkin karena suka atau ada kepentingan lain. Nah, kalau dinihari ini juga dia tersinggung lalu berdoa kepada Tuhan dan meminta agar Anda ditutup rezekinya, dijauhkan dari jodoh… apa yang akan terjadi?”
Saya amati, bibirnya mulai bergetar. Matanya semakin tajam menatapku. “Wah kalau nbegitu dia saya telepon aja ya…” “Silakan….” kataku. Lelaki itu kemudian masuk ke dalam kamar, sayup-sayup terdengar suara rekan saya tak lagi emosi. Ada sekitar 10 menit dia bercakap-cakap dengan wanita yang belum lama ini hatinya terpukul akibat sikap yang mungkin kurang ‘terpuji’.
“Siapa dia?” tanyaku. “Ternyata dia mahasiswi di Malang. Dia dapat telepon nomer saya dari seorang rekan saya yang ada di Malang. Dia ingin kenal…” Mendengar penjelasan itu, saya tersenyum… merasa lega lantaran hari ini telah saya ajarkan satu nilai bahwa sudah sepantasnya atau selayaknya antarmanusia yang satu dengan lainnya saling menghargai dan menghormati harkat dan martabatnya, tanpa melihat status sosialnya. (achmad subechi)













