KOLOM MARISSA: Menjawab Tantangan Zaman

Tuesday, 26-8-2008 | 7:43 WIB | 4 Komentar | Kategori: wanita

Marissa Haque Fawzi, SH, MHum, Kandidat Doktor

BERBAGAI media masa Indonesia belakangan ini dipenuhsesaki oleh hiruk-pikuk sejumlah besar pesohor Indonesia memasuki pencalegan menuju kursi Wakil Rakyat 2009 di DPR RI maupun DPRD tingkat satu atau dua.

SIKAP pro maupun kontra mewarnai aktivitas ini, dari yang setuju sampai dengan yang sama sekali benar-benar tidak setuju. Atas kejadian tersebut, kelihatannya sebagai anak bangsa dari sebuah negeri yang dikatakan sebagai negara demokrasi prosedural, hendaknya kita semua tanpa terkecuali berendah hati dengan kepala dingin saling introspeksi diri dengan melakukan muhasabah, murakobah, serta ber-tabbayun satu dengan lainnya.

Tulisan sederhana yang merupakan wakil dari sebagian ekspresi masyarakat umum ini, semoga dapat menjadi pencerahan bagi kita semua tanpa terkecuali. Karena menari tango selalunya terdiri dari dua orang. Cover both side story, demikianlah kira-kira.

Sebuah wawancara secara random (acak) yang saya umpankan, memberikan beragam ekspresi jujur tanpa beban yang mengemuka secara spontan. Diharapkan hasil yang muncul ini dapatlah mewakili kepedihan hati sebagian dari kami para selebriti film dan televisi yang telah secara serius mempersiapkan diri dengan menyempurnakan kapasitas diri melalui pendidikan formal dan informal, mengasah diri dalam berbagai organisasi sosial-politik, serta uji identitas diri lainnya.

Keinginan untuk di-wongke secara adil dan setara dengan para politisi senior lainnya menjadi keprihatinan sebagian besar dari kami. Karena sejujurnya sebagian oknum politisi senior telah terbukti terlibat didalam beberapa kasus besar korupsi ditanah air. Bahkan gambar meraka bermunculan silih berganti diberagam media Indonesia.

Sementara para aktor-aktris yang telah terlebih dulu masuk di Senayan, alhamdulillah bersih dari aktivitas korupsi yang memalukan bangsa. Kalaupun ada yang sempat satu-dua muncul dimedia, itu karena para suami mereka yang melakukan korupsi. Bukanlah sang artisn yang bersangkutan yang melakukannya.

Karenanya tak heran saat pertanyaan balik diekspresikan para responden kepada saya. Antara lain sebagai berikut: ”Apa yang salah dengan para artis menjadi politisi?”, “Wong selama ini juga banyak politisi mendadak jadi artis.” Atau: “Lihatlah bagaimana teknik para politisi senior tersebut mulai mengartiskan diri.

Menjadi penyanyi dadakanlah, pembaca puisi dadakanlah, photo model dadakanlah,  pembaca berita dadakanlah, penyiar radio dadakanlah, dan lain sebagainya.” “Katanya Indonesia negara demokrasi, kok diskriminatif sekali ya?” “Memangnya para pengamat politik itu sudah berbuat karya nyata apa sih buat Indonesia selain menjadi pengamat semata?” Bahkan: “Lha, wong Presiden-ne juga mendadak rekaman lagu, jadi yo podo ngartise.” Demikianlah kurang-lebih kalimat-kalimat yang muncul dalam wawancara sederhana yang saya umpankan kepada mereka.

Sejujurnya, sebenarnya sudah sangat lama saya merasa terganggu disaat media tv, radio, internet bahkan cetak menyebutkan sepotong  kata ‘artis’ yang merujuk kepada kami para aktor-aktris film serta sintron. Padahal menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dan ejaan yang baik dan benar yang telah disempurnakan oleh Prof. Yus Badudu dan Prof. Anton Moeliono – para Guru Besar Bahasa Indonesia – kata artis merupakan sepengal kata serapan dari bahasa Inggris atas artist (pekerja seni).

Kata ini merujuk kepada para pekerja seni dari seluruh bidang kesenian.  Antara lain; pelukis, penari, pemahat, penyair, pemain teater, penyayi, dan pemain film serta pemain sinetron. Maka kesalahkapahaman kita selama ini, yang didalam Ilmu Keberbahasaan / Linguistics disebut hiper-corrections. Besar harapan saya, dengan segala kerendahan hati melalui tulisan sederhana ini semoga menjadi pencerahan bagi kita semua adanya. Khususnya dikala rasa keadilan anda terganggu atas berbondong-bondongnya kehadiran para selebriti-politisi dadakan didalam upaya pencalegkan diri menuju kursi Wakil Rakyat 2009.

Mari kita periksa apa-siapa para aktor-aktris DPR RI pada periode 2004-9. Tercatat ada lima pesohor yang berhasil masuk di Senayan. Kenapa pesohor saya pakai? Karena ada yang bukan aktor-aktris yang sebenarnya, namun karena kisah percintaannya dengan sang aktor, maka ia didaulat media infotainment sebagai ’artis.’ Lima pesohor yang masuk terdiri dari tiga pria dan dua perempuan: Adjie Massaid, Dede Yusuf, Qomar, Angelina Sondakh, dan saya Marissa Haque.

Sejujurnya hanya empat dari kami berlima yang sesungguhnya aktor-aktris. Angelina Sondakh adalah Putri Indonesia. Tiga artis kondang Nurul Arifin, Puput Novel (keduanya dari Partai Golkar) dan Rieke Pitaloka (Wasekjen PKB versi Gus Dur) belum beruntung memasuki Senayan. Ketiganya terpental bukan karena sekedar nomor urut yang tidak strategis, namun juga karena kesalahan membaca wilayah basis masa pendukung partainya (konstituen) di wilayah Dapil (daerah Pemilihan) masing-masing. Karena Rieke Pitaloka dari PKB berada dalam nomor urut 1 di Dapilnya yang lalu.

Seorang Qomar yang pelawak (dari Partai Demokrat) lebih sering dianggap sedang melawak pada saat ia ingin serius menunjukkan dedikasinya. Sebagai contoh disaat ia dengan keihklasan luar biasa memberikan tiga bulan penuh gajinya kepada seorang guru SMP didaerah Melawai, Kebayoran Baru saat sang guru didzolimi penguasa lokal. Kejadian tersebut membubuhkan kesan positif terdalam dihati saya.

Dan saya yakini juga masyarakat penonton infotainment diseluruh Indonesia.  Begitu juga dengan Dede Yusuf dan Adjie Massaid, berbagai aktivitas sosial mereka lakukan baik secara diam-diam maupun dengan publikasi media. Angelina Sondakh sendiri dengan seluruh energi luar biasanya melakukan belasan langkah signifikan dalam pelestarian lingkungan hidup Indonesia. Saya pribadi, telah melakukan kerja plus-plus atas kerja pengawasan dengan memakai media audio-visual tanpa gaji tambahan dari negara.

Semoga pembaca masih yang ingat bagaimana ditahun pertama saya sebagai anggota Komisi VIII yang membawahi bidang Perempuan, Agama, dan Sosial, termasuk salah seorang anggota dewan yang terpilih untuk dikirim ke Saudi Arabia guna mengungkap Kejahatan Mafia Perhajian (www.marissahaque-haji2005.com).

Pengawasan Haji 2005 yang saya lakukan bersama tim pemantau Haji 2005, berdampak atas digiringnya mantan Menteri Agama Prof. Dr. KH. Said Agil kepenjara atas tuduhan penyalahgunaan Dana Abadi Ummat. Tahun kedua saya dipindah Fraksi PDI Perjuangan ke Komisi 4 yang membawahi bidang Kehutanan, Perikanan, Pertanian & Bulog sesuai kopetensi saya yang mahasiswi Program Doktor Jurusan PSL-IPB (Pengelolaan Sumberdaya Alam & Lingkungan Hidup, Institut Pertanian Bogor).

Kita semua tahu bahwa disaat tersebut mantan Menteri Perikanan dan Ketua Bulog tergiring pula kepenjara. Bahkan ketika saya bersikukuh tidak bersedia mendukung seorang kader partai lain yang didukung PDIP dengan alasan dugaan ijazah asapal dan terdapatnya laporan BPK selama 2 semester berturut-turut (2005-2006) diduga korupsi, untuk menjadi Cagub Banten dalam Pilkada Banten 2006.

Bahkan sayapun tidak bersedia mengundurkan diri ketika diancam pecat sebagai anggota dewan. Alasan saya kepada oknum elit PDIP saat itu karena tidak ada dalam filosofi hidup saya mengundurkan diri dari tanggung jawab yang disumpah dibawah Al Quran. Kalau mau silahkan pecat jawab saya saat itu.

Karena kedepannya dengan saya dipecat partai akan menjadi jelas bagi saya untuk menjelaskannya kembali kepada konstituen saya dari Dapil Jabar 2 (Kabupaten Bandung, Jabar). Dan bukanlah semata karena ingin menjadi Wakil Gubernur Banten niatan saya kemarin ikut dalam Pilkada 2006 itu. Melainkan, semata berjihad di Propinsi Banten untuk menjujurkan keadilan serta membingkai politik disana dengan hukum. Oleh karenanya saya tidak berkecil hati saat kehilangan kursi empuk DPR RI pada Januari 2007.

Sedihkan saya disaat kehilangan jabatan dan kursi empuk DPR RI? Sejujurnya ya, saat itu saya memang sedikit terluka. Terluka karena saya sangat mencintai Ibu Politik pertama saya Megawati Soekarnoputri dan PDIP sebagai partai. Namun kesadaran cepat datang. Menyadari bahwa dengan segala kelebihan sekaligus kelemahannya, Ketua Umum PDIP hanyalah manusia biasa seperti kita semua. Keikhlasan memaafkan Megawati, membuat luka dihati saya cepat sembuhnya. Namun bukan berarti saya berhenti untuk terus berjuang di Banten untuk menjujurkan keadilan serta membingkai politik dengan hukum.

Bahkan hari ini saya dapat tersenyum lepas ketika menyadari bahwa Allah SWT adalah Maha Bercanda. Allah SWT telah menyelamatkan saya dari bencana dipermalukan pada Komisi 4 DPR RI. Karena kita semua faham bahwa hari ini mantan Ketua Komisi 4 dan 2 orang mantan anggota Komisi 4 berada didalam penjara KPK.

Termasuk juga beberapa oknum anggota Komisi 4 dari berbagai macam latar belakang partai yang masih aktif, mereka masah terus bermasalah dengan KPK. Tentulah, sisa dari anggota komisi 4 yang tadinya berjumlah 50 orang tentu hari-harinya belakangan ini sedang tidak nyaman berada dikursi empuk DPR RI. Karena boleh dikatakan bahwa seluruh langkah kegiatan politik mereka sedang dalam pengawasan KPK. Bahkan termasuk seluruh pembicaraan melalui telpon genggam mereka. Beruntung saya sebagai selebriti sudah tidak berada disana. Dapat dibayangkan bagaimana media infotainment akan membuat sang selebriti menjadi bulan-bulanan mereka?

Selepas dari DPR RI dan selama kurang-lebih setahun tidak berpartai, saya masih tetap dengan perjuangan menjujurkan keadilan serta membingkai politik dengan hukum. Gugatan Penyelundupan Hukum Pilkada Banten terus saya kerjakan di 2 peradilan – umum dan TUN (Tata Usaha Negara).

Kenapa para pengamat politik dan media tidak meliput ini semua? Bahkan dari sisi akademik, insya Allah saya akan menjadi seorang doktor yang pertama lulusan dari salah satu Universitas Negeri terbaik Indonesia. Bagaimana dengan parqa politisi senior yang sekarang ada di Legislatif maupun Birokrasi yang mendapatkan kedudukannya dengan kebohongan publik? Kenapa para pengamat politik hanya diam saja dan membiarkan semuanya lewat sekakan tidak terjadi sebuah proses pembodohan rakyat yang sistemik?

Sekali lagi tentunya dengan segala kerendahan hati, saya sang ’artis’ yang bukan siapa-siapa serta belum berhasil menjadi seorang negarawati ini, paling tidak mau dan mampu berjanji kepada rakyat pemilih / konstituen baik di Dapil saya maupun diseluruh Indonesia untuk tetap hanif dan istiqomah didalam perjuangan menjujurkan keadilan serta membingkai politik dengan hukum. Insya Allah selama hayat dikandung badan. Semoga semangat ini dapat menular kepada teman-teman selebriti yunior lain kedepannya. Bismillah, dimulai dengan langkah kanan, positive thinking! Salam kasih…

Comments (4)

 

  1. Antara says:

    23/06/08 17:11

    Marissa Haque Jadi Dosen Akpol

    Pekanbaru (ANTARA News) – Aktris yang kini aktif sebagai politisi, Marissa Haque, mengatakan bahwa dirinya sangat terobsesi mengajar para taruna kepolisian, dan tidak lama lagi keinginannya terwujud lantaran menjadi dosen di Akademi Kepolisian (Akpol), Semarang.

    “Saya mulai mengajar mulai Agustus besok,” kata Marissa Haque, di Pekanbaru, Riau, Senin.

    Istri penyanyi Ikang Fawzi itu mengatakan, kesempatan untuk mengajar itu ditawarkan langsung oleh Gubernur Akpol, Irjen Pol. Sutjiptadi, yang juga mantan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Riau.

    Marissa mengatakan, memiliki kedekatan dengan Sutjiptadi karena seringkali bolak-balik ke Riau untuk keperluan disertasinya yang membahas tentang pembalakan kayu liar.

    “Dia sudah saya anggap sebagai ayah kedua karena hampir dua tahun saya bolak-balik ke Riau,” ujar politisi dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu.

    Perempuan kelahiran Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), itu mengatakan alasannya menerima tawaran menjadi dosen bukanlah karena besarnya honor yang akan diterimanya.

    Kesempatan itu, ujarnya, akan digunakan untuk membentuk pola pikir taruna kepolisian sebagai calon pamong yang baik bagi masyarakat.

    Di Akpol, Marissa akan mengajar mata kuliah kriminologi politik. (*)

    COPYRIGHT © 2008

    Ketentuan Penggunaan

    Versi Cetak Beritahu Teman Beri Komentar

    Berlangganan berita ANTARA via email gratis!

    Komentar Pembaca

    rieke pitaloka 30/06/08 23:09

    Dibandingkan dengan RIEKE D Pitaloka, ya Marissa jauh lebih baiklah hei kader banci PDIP. Yang kutu lompat itu ya Rieke Pitaloka. Wong di PKB sudah mentok karir dia jadi Wasekjen, eh di PDIP kan Rieke Pitaloka hanya anggota biasa doang. Kacieaaaannnn…deh PDIP. Keok yah?

    Panda Nababan pandanababan@yahoo.com 05/08/08 21:45

    Iya nih nyesel jadi PDI Perjuangan. Lihat yang masuk pada orang bloon semuanyaaaa… Rieke Pitalika juga O’ON, Rano Karno cuma lulusan SMU…hahaha… Ratu Atut Chosiyah??? Lha IJAZAHNYA KAN ASPAL alias asli tapi palsu!!! Yang ngejual bernama Professor Doktor Faisal Santiago anggota kader Partai Demokrat kepunyaan Pak Presiden SBY. Makanya kejahatan Atut dan Faisal Santiago plus Pemilik Yayasan Universitas Borobudur aman-aman saja dari gugatan pidana Marissa Haque. Wong yang pasang badan itu adalah JK

    Baca Juga
    Maftuh Basyuni Tak Sudi Institusi Dijelekkan
    Mohammad Said, Sang Wartawan Pejuang
    Anang Ardiansyah Cipta 115 Lagu Daerah Banjar

    Tentang Kami | Ketentuan Penggunaan | RSS Feed

    Copyright © 2008 ANTARA

  2. miing bagito says:

    Bagus Kang Ikang, anda layak jadi pemenang menjadi caleg. Karena Nurul Arifin dan Rieke Pitaloka bakal kesulitan maju. yang satu antek Golkar alias orde baru, yang satu menjilat jilat pantatnya Megawati soekarnoputri. Keduanya nggak ada yang benerlah. Bang Miing dari PDIP malah lebih jujur dan bernas. Nggak goblog seperti Nurul Arifin dan Rieke Pitaloka.

  3. Detail news : CyberNas > > 6976
    Selasa, 30 September 2008 | 20:43:41 wib

    Kurnas Sentralistik, Pendidikan Belum Memerdekakan
    Kamis, 28 Ags 2008 09:07:05

    JOGJA– Dalam sejumlah hal, pendidikan telah gagal menempatkan dirinya dalam konteks pemerdekaan. Disadari atau tidak, hingga saat ini pendidikan hanya menjadi perpanjangan tangan kekuasaan dan birokrasi. Pengalaman melaksanakan kurikulum yang sentralistik merupakan bukti yang sulit dibantah. Ketidakberanian para pelaksana pendidikan dalam “menawar harga” kurikulum nasional (kurnas) adalah bukti adanya “komandoisme” yang menindas dalam jagat pendidikan di negara ini.
    Paparan tersebut disampaikan oleh budayawan sekaligus Guru Besar Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof Dr Suminto A Sayuti saat menjadi salah satu pembicara dalam seminar nasional “Membedah Kembali Nilai-nilai Kemerdekaan” yang digelar oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi (FISE) UNY, Rabu (27/8) kemarin. Selain Suminto, seminar ini menghadirkan tiga tokoh dari ranah yang berbeda untuk memaknai kemerdekaan, yakni Kepala Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (PUSTEK) UGM Revrisond Baswir, Direktur Pusat Kajian Anti Korupsu (PUKAT) UGM Denny Indrayana, serta artis sekaligus politikus Marissa Haque.
    Menurut Suminto, “situasi penindasan” tersebut salah satu ujungnya hanya melahirkan “kebudayaan bisu”, yakni munculnya ketakutan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan sendiri. Budaya semacam ini pun tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat umum, tapi menjadi situasi khas di kelas-kelas pengajaran dan perkuliahan.
    “Yang namanya merdeka, bukan hanya terbatas pada pengertian merdeka politik dalam batasan negara dan bangsa, melainkan juga merdeka dalam hal pemikiran dan jiwa,” tegasnya.
    Memaknai kemerdekaan dalam ranah lain, ekonom dari UGM Revrisond Baswir mengungkapkan, perbedaan antara “terjajah” dan “merdeka” nampaknya tidak memiliki makna apa-apa bagi sebagian besar ekonom.
    Mengaitkan masalah ekonomi dan politik, ekonom yang akrab disapa Sonny ini mengambil contoh banyaknya tokoh yang mulai mengiklankan diri jelang Pemilihan Presiden 2009 mendatang.
    “Kalau mesin politik mereka saja mahal, konsekuensinya jelas mengarah ke kapitalisme. Kalau ekonominya sudah kapitalistik, mau tidak mau dunia pendidikan juga akan ikut menjadi kapitalistik,” tuturnya.
    Sementara itu, artis sekaligus politikus Marissa Haque mengungkapkan, saat ini yang dibutuhkan oleh Indonesia ialah pemimpin yang memiliki strong leadership.
    “Idealnya, presiden yang terpilih minimal berpendidikan S3, tahu tentang hukum dan konstitusi, dan paham.

  4. Ydhi Kris says:

    ;) Marissa Haque adalah seorang yang jenius di PPP, coba deh ajak dia diskusi pasti anda ketagihan. Dahulu di PDIP dia dicemburui oleh Megawati si wanita tolol dan Pramono Anung. Apalagi sudah Doktor sekarang. Semoga saja Bachtiar Chamsah dan Suryadharma Ali tidak ikutan mencemburui kecerdasan Marissa. Karena dia akan menjadi salah seorang Presiden Republik Indonesia. Lihat deh 5 tahun lagi sobat!

Leave a Reply