<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: KOLOM MARISSA: Menjawab Tantangan Zaman</title>
	<atom:link href="http://bechiblog.com/2008/08/26/kolom-marissa-menjawab-tantangan-zaman/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bechiblog.com/2008/08/26/kolom-marissa-menjawab-tantangan-zaman/</link>
	<description>the soul and spirit of mankind</description>
	<lastBuildDate>Fri, 11 Sep 2009 14:46:13 -0500</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Ydhi Kris</title>
		<link>http://bechiblog.com/2008/08/26/kolom-marissa-menjawab-tantangan-zaman/comment-page-1/#comment-74</link>
		<dc:creator>Ydhi Kris</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Oct 2008 17:23:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bechiblog.com/?p=290#comment-74</guid>
		<description>;)Marissa Haque adalah seorang yang jenius di PPP, coba deh ajak dia diskusi pasti anda ketagihan. Dahulu di PDIP dia dicemburui oleh Megawati si wanita tolol dan Pramono Anung. Apalagi sudah Doktor sekarang. Semoga saja Bachtiar Chamsah dan Suryadharma Ali tidak ikutan mencemburui kecerdasan Marissa. Karena dia akan menjadi salah seorang Presiden Republik Indonesia. Lihat deh 5 tahun lagi sobat!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p> <img src='http://bechiblog.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> Marissa Haque adalah seorang yang jenius di PPP, coba deh ajak dia diskusi pasti anda ketagihan. Dahulu di PDIP dia dicemburui oleh Megawati si wanita tolol dan Pramono Anung. Apalagi sudah Doktor sekarang. Semoga saja Bachtiar Chamsah dan Suryadharma Ali tidak ikutan mencemburui kecerdasan Marissa. Karena dia akan menjadi salah seorang Presiden Republik Indonesia. Lihat deh 5 tahun lagi sobat!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Bambang Yudhoyono</title>
		<link>http://bechiblog.com/2008/08/26/kolom-marissa-menjawab-tantangan-zaman/comment-page-1/#comment-68</link>
		<dc:creator>Bambang Yudhoyono</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Sep 2008 14:50:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bechiblog.com/?p=290#comment-68</guid>
		<description>Detail news : CyberNas &gt; &gt; 6976
Selasa, 30 September 2008 &#124; 20:43:41 wib
 
Kurnas Sentralistik, Pendidikan Belum Memerdekakan
Kamis, 28 Ags 2008 09:07:05

       JOGJA-- Dalam sejumlah hal, pendidikan telah gagal menempatkan dirinya dalam konteks pemerdekaan. Disadari atau tidak, hingga saat ini pendidikan hanya menjadi perpanjangan tangan kekuasaan dan birokrasi. Pengalaman melaksanakan kurikulum yang sentralistik merupakan bukti yang sulit dibantah. Ketidakberanian para pelaksana pendidikan dalam &quot;menawar harga&quot; kurikulum nasional (kurnas) adalah bukti adanya &quot;komandoisme&quot; yang menindas dalam jagat pendidikan di negara ini.
     Paparan tersebut disampaikan oleh budayawan sekaligus Guru Besar Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof Dr Suminto A Sayuti saat menjadi salah satu pembicara dalam seminar nasional &quot;Membedah Kembali Nilai-nilai Kemerdekaan&quot; yang digelar oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi (FISE) UNY, Rabu (27/8) kemarin. Selain Suminto, seminar ini menghadirkan tiga tokoh dari ranah yang berbeda untuk memaknai kemerdekaan, yakni Kepala Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (PUSTEK) UGM Revrisond Baswir, Direktur Pusat Kajian Anti Korupsu (PUKAT) UGM Denny Indrayana, serta artis sekaligus politikus Marissa Haque.
     Menurut Suminto, &quot;situasi penindasan&quot; tersebut salah satu ujungnya hanya melahirkan &quot;kebudayaan bisu&quot;, yakni munculnya ketakutan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan sendiri. Budaya semacam ini pun tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat umum, tapi menjadi situasi khas di kelas-kelas pengajaran dan perkuliahan.
     &quot;Yang namanya merdeka, bukan hanya terbatas pada pengertian merdeka politik dalam batasan negara dan bangsa, melainkan juga merdeka dalam hal pemikiran dan jiwa,&quot; tegasnya.
     Memaknai kemerdekaan dalam ranah lain, ekonom dari UGM Revrisond Baswir mengungkapkan, perbedaan antara &quot;terjajah&quot; dan &quot;merdeka&quot; nampaknya tidak memiliki makna apa-apa bagi sebagian besar ekonom.
     Mengaitkan masalah ekonomi dan politik, ekonom yang akrab disapa Sonny ini mengambil contoh banyaknya tokoh yang mulai mengiklankan diri jelang Pemilihan Presiden 2009 mendatang.
     &quot;Kalau mesin politik mereka saja mahal, konsekuensinya jelas mengarah ke kapitalisme. Kalau ekonominya sudah kapitalistik, mau tidak mau dunia pendidikan juga akan ikut menjadi kapitalistik,&quot; tuturnya.
     Sementara itu, artis sekaligus politikus Marissa Haque mengungkapkan, saat ini yang dibutuhkan oleh Indonesia ialah pemimpin yang memiliki strong leadership.
     &quot;Idealnya, presiden yang terpilih minimal berpendidikan S3, tahu tentang hukum dan konstitusi, dan paham.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Detail news : CyberNas &gt; &gt; 6976<br />
Selasa, 30 September 2008 | 20:43:41 wib</p>
<p>Kurnas Sentralistik, Pendidikan Belum Memerdekakan<br />
Kamis, 28 Ags 2008 09:07:05</p>
<p>       JOGJA&#8211; Dalam sejumlah hal, pendidikan telah gagal menempatkan dirinya dalam konteks pemerdekaan. Disadari atau tidak, hingga saat ini pendidikan hanya menjadi perpanjangan tangan kekuasaan dan birokrasi. Pengalaman melaksanakan kurikulum yang sentralistik merupakan bukti yang sulit dibantah. Ketidakberanian para pelaksana pendidikan dalam &#8220;menawar harga&#8221; kurikulum nasional (kurnas) adalah bukti adanya &#8220;komandoisme&#8221; yang menindas dalam jagat pendidikan di negara ini.<br />
     Paparan tersebut disampaikan oleh budayawan sekaligus Guru Besar Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof Dr Suminto A Sayuti saat menjadi salah satu pembicara dalam seminar nasional &#8220;Membedah Kembali Nilai-nilai Kemerdekaan&#8221; yang digelar oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi (FISE) UNY, Rabu (27/8) kemarin. Selain Suminto, seminar ini menghadirkan tiga tokoh dari ranah yang berbeda untuk memaknai kemerdekaan, yakni Kepala Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (PUSTEK) UGM Revrisond Baswir, Direktur Pusat Kajian Anti Korupsu (PUKAT) UGM Denny Indrayana, serta artis sekaligus politikus Marissa Haque.<br />
     Menurut Suminto, &#8220;situasi penindasan&#8221; tersebut salah satu ujungnya hanya melahirkan &#8220;kebudayaan bisu&#8221;, yakni munculnya ketakutan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan sendiri. Budaya semacam ini pun tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat umum, tapi menjadi situasi khas di kelas-kelas pengajaran dan perkuliahan.<br />
     &#8220;Yang namanya merdeka, bukan hanya terbatas pada pengertian merdeka politik dalam batasan negara dan bangsa, melainkan juga merdeka dalam hal pemikiran dan jiwa,&#8221; tegasnya.<br />
     Memaknai kemerdekaan dalam ranah lain, ekonom dari UGM Revrisond Baswir mengungkapkan, perbedaan antara &#8220;terjajah&#8221; dan &#8220;merdeka&#8221; nampaknya tidak memiliki makna apa-apa bagi sebagian besar ekonom.<br />
     Mengaitkan masalah ekonomi dan politik, ekonom yang akrab disapa Sonny ini mengambil contoh banyaknya tokoh yang mulai mengiklankan diri jelang Pemilihan Presiden 2009 mendatang.<br />
     &#8220;Kalau mesin politik mereka saja mahal, konsekuensinya jelas mengarah ke kapitalisme. Kalau ekonominya sudah kapitalistik, mau tidak mau dunia pendidikan juga akan ikut menjadi kapitalistik,&#8221; tuturnya.<br />
     Sementara itu, artis sekaligus politikus Marissa Haque mengungkapkan, saat ini yang dibutuhkan oleh Indonesia ialah pemimpin yang memiliki strong leadership.<br />
     &#8220;Idealnya, presiden yang terpilih minimal berpendidikan S3, tahu tentang hukum dan konstitusi, dan paham.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: miing bagito</title>
		<link>http://bechiblog.com/2008/08/26/kolom-marissa-menjawab-tantangan-zaman/comment-page-1/#comment-67</link>
		<dc:creator>miing bagito</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Sep 2008 06:10:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bechiblog.com/?p=290#comment-67</guid>
		<description>Bagus Kang Ikang, anda layak jadi pemenang menjadi caleg. Karena Nurul Arifin dan Rieke Pitaloka bakal kesulitan maju. yang satu antek Golkar alias orde baru, yang satu menjilat jilat pantatnya Megawati soekarnoputri. Keduanya nggak ada yang benerlah. Bang Miing dari PDIP malah lebih jujur dan bernas. Nggak goblog seperti Nurul Arifin dan Rieke Pitaloka.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bagus Kang Ikang, anda layak jadi pemenang menjadi caleg. Karena Nurul Arifin dan Rieke Pitaloka bakal kesulitan maju. yang satu antek Golkar alias orde baru, yang satu menjilat jilat pantatnya Megawati soekarnoputri. Keduanya nggak ada yang benerlah. Bang Miing dari PDIP malah lebih jujur dan bernas. Nggak goblog seperti Nurul Arifin dan Rieke Pitaloka.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Antara</title>
		<link>http://bechiblog.com/2008/08/26/kolom-marissa-menjawab-tantangan-zaman/comment-page-1/#comment-62</link>
		<dc:creator>Antara</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 31 Aug 2008 14:15:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bechiblog.com/?p=290#comment-62</guid>
		<description>23/06/08 17:11

Marissa Haque Jadi Dosen Akpol


Pekanbaru (ANTARA News) - Aktris yang kini aktif sebagai politisi, Marissa Haque, mengatakan bahwa dirinya sangat terobsesi mengajar para taruna kepolisian, dan tidak lama lagi keinginannya terwujud lantaran menjadi dosen di Akademi Kepolisian (Akpol), Semarang.

&quot;Saya mulai mengajar mulai Agustus besok,&quot; kata Marissa Haque, di Pekanbaru, Riau, Senin.

Istri penyanyi Ikang Fawzi itu mengatakan, kesempatan untuk mengajar itu ditawarkan langsung oleh Gubernur Akpol, Irjen Pol. Sutjiptadi, yang juga mantan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Riau.

Marissa mengatakan, memiliki kedekatan dengan Sutjiptadi karena seringkali bolak-balik ke Riau untuk keperluan disertasinya yang membahas tentang pembalakan kayu liar.

&quot;Dia sudah saya anggap sebagai ayah kedua karena hampir dua tahun saya bolak-balik ke Riau,&quot; ujar politisi dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu.

Perempuan kelahiran Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), itu mengatakan alasannya menerima tawaran menjadi dosen bukanlah karena besarnya honor yang akan diterimanya.

Kesempatan itu, ujarnya, akan digunakan untuk membentuk pola pikir taruna kepolisian sebagai calon pamong yang baik bagi masyarakat. 

Di Akpol, Marissa akan mengajar mata kuliah kriminologi politik. (*)

COPYRIGHT © 2008

 Ketentuan Penggunaan

 Versi Cetak    Beritahu Teman    Beri Komentar

   


 
  Berlangganan berita ANTARA via email gratis!

 


Komentar Pembaca

 rieke pitaloka 30/06/08 23:09

Dibandingkan dengan RIEKE D Pitaloka, ya Marissa jauh lebih baiklah hei kader banci PDIP. Yang kutu lompat itu ya Rieke Pitaloka. Wong di PKB sudah mentok karir dia jadi Wasekjen, eh di PDIP kan Rieke Pitaloka hanya anggota biasa doang. Kacieaaaannnn...deh PDIP. Keok yah?

 Panda Nababan pandanababan@yahoo.com 05/08/08 21:45

Iya nih nyesel jadi PDI Perjuangan. Lihat yang masuk pada orang bloon semuanyaaaa… Rieke Pitalika juga O’ON, Rano Karno cuma lulusan SMU…hahaha… Ratu Atut Chosiyah??? Lha IJAZAHNYA KAN ASPAL alias asli tapi palsu!!! Yang ngejual bernama Professor Doktor Faisal Santiago anggota kader Partai Demokrat kepunyaan Pak Presiden SBY. Makanya kejahatan Atut dan Faisal Santiago plus Pemilik Yayasan Universitas Borobudur aman-aman saja dari gugatan pidana Marissa Haque. Wong yang pasang badan itu adalah JK

 


Baca Juga
Maftuh Basyuni Tak Sudi Institusi Dijelekkan
Mohammad Said, Sang Wartawan Pejuang
Anang Ardiansyah Cipta 115 Lagu Daerah Banjar


 
Tentang Kami  &#124;  Ketentuan Penggunaan  &#124;  RSS Feed

        

Copyright © 2008 ANTARA</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>23/06/08 17:11</p>
<p>Marissa Haque Jadi Dosen Akpol</p>
<p>Pekanbaru (ANTARA News) &#8211; Aktris yang kini aktif sebagai politisi, Marissa Haque, mengatakan bahwa dirinya sangat terobsesi mengajar para taruna kepolisian, dan tidak lama lagi keinginannya terwujud lantaran menjadi dosen di Akademi Kepolisian (Akpol), Semarang.</p>
<p>&#8220;Saya mulai mengajar mulai Agustus besok,&#8221; kata Marissa Haque, di Pekanbaru, Riau, Senin.</p>
<p>Istri penyanyi Ikang Fawzi itu mengatakan, kesempatan untuk mengajar itu ditawarkan langsung oleh Gubernur Akpol, Irjen Pol. Sutjiptadi, yang juga mantan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Riau.</p>
<p>Marissa mengatakan, memiliki kedekatan dengan Sutjiptadi karena seringkali bolak-balik ke Riau untuk keperluan disertasinya yang membahas tentang pembalakan kayu liar.</p>
<p>&#8220;Dia sudah saya anggap sebagai ayah kedua karena hampir dua tahun saya bolak-balik ke Riau,&#8221; ujar politisi dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu.</p>
<p>Perempuan kelahiran Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), itu mengatakan alasannya menerima tawaran menjadi dosen bukanlah karena besarnya honor yang akan diterimanya.</p>
<p>Kesempatan itu, ujarnya, akan digunakan untuk membentuk pola pikir taruna kepolisian sebagai calon pamong yang baik bagi masyarakat. </p>
<p>Di Akpol, Marissa akan mengajar mata kuliah kriminologi politik. (*)</p>
<p>COPYRIGHT © 2008</p>
<p> Ketentuan Penggunaan</p>
<p> Versi Cetak    Beritahu Teman    Beri Komentar</p>
<p>  Berlangganan berita ANTARA via email gratis!</p>
<p>Komentar Pembaca</p>
<p> rieke pitaloka 30/06/08 23:09</p>
<p>Dibandingkan dengan RIEKE D Pitaloka, ya Marissa jauh lebih baiklah hei kader banci PDIP. Yang kutu lompat itu ya Rieke Pitaloka. Wong di PKB sudah mentok karir dia jadi Wasekjen, eh di PDIP kan Rieke Pitaloka hanya anggota biasa doang. Kacieaaaannnn&#8230;deh PDIP. Keok yah?</p>
<p> Panda Nababan <a href="mailto:pandanababan@yahoo.com">pandanababan@yahoo.com</a> 05/08/08 21:45</p>
<p>Iya nih nyesel jadi PDI Perjuangan. Lihat yang masuk pada orang bloon semuanyaaaa… Rieke Pitalika juga O’ON, Rano Karno cuma lulusan SMU…hahaha… Ratu Atut Chosiyah??? Lha IJAZAHNYA KAN ASPAL alias asli tapi palsu!!! Yang ngejual bernama Professor Doktor Faisal Santiago anggota kader Partai Demokrat kepunyaan Pak Presiden SBY. Makanya kejahatan Atut dan Faisal Santiago plus Pemilik Yayasan Universitas Borobudur aman-aman saja dari gugatan pidana Marissa Haque. Wong yang pasang badan itu adalah JK</p>
<p>Baca Juga<br />
Maftuh Basyuni Tak Sudi Institusi Dijelekkan<br />
Mohammad Said, Sang Wartawan Pejuang<br />
Anang Ardiansyah Cipta 115 Lagu Daerah Banjar</p>
<p>Tentang Kami  |  Ketentuan Penggunaan  |  RSS Feed</p>
<p>Copyright © 2008 ANTARA</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
