Kepemimpinan 2

Wednesday, 27-8-2008 | 6:57 WIB | Komentar | Kategori: KONTEMPLASI

ADA segudang teori kepemimpinan yang secara universal sudah banyak diketahui para pemimpin. Persoalannya, tak banyak pemimpin yang bisa mengaplikasikannya atau bahkan sengaja mengabaikan teori-teori itu. Akibatnya esensi atau roh dari kepemimpinan, benar-benar tercabut dari akarnya.

KREINER pernah mengatakan bahwa leadership adalah proses mempengaruhi orang lain. Konkrit dari teori ini, tugas seorang pemimpin adalah mengajak anak buahnya secara sukarela (dengan penuh kesadaran) ikut berpartisipasi dalam mencapai tujuan organisasi.

Sedangkan Hersey menuturkan bahwa leadership adalah usaha untuk mempengaruhi individual lain atau kelompok. Seorang pemimpin harus memadukan unsur kekuatan diri, wewenang yang dimiliki, ciri kepribadian dan kemampuan sosial untuk bisa mempengaruhi perilaku orang lain. Dua teori itu intinya hampir sama –membawa manusia ke dalam wilayah yang diingiinkan pemimpinnya untuk mencapai suatu tujuan.

Ketika teori ini dipraktekan, sebagian besar para pemimpin mengakui bahwa ada kendala-kendala psikologis dan sosiologis yang menjadi hambatan mereka. Hambatan paling besar dan ini menjadi kunci dari lahirnya berbagai macam persoalan kepeimpinan adalah kegagalan pemimpin dalam meng-influence bawahannya. Seharusnya, ketika seseorang dipercaya menjadi pemimpin, paling tidak ia memiliki kekuatan atau kecakapan untuk mempengaruhi bawahannya menuju kepada satu titik yang dinamakan kesadaran profesionalisme.

Mengapa seorang pemimpin gagal meyakinkan bawahannya? Dari berbagai macam pengalaman empiris, ternyata para pemimpin tidak memiliki kecakapan dalam melakukan komunikasi dengan bawahannya. Kedua, dia tidak mampu memberikan penjelasan atau perintah secara komprehensif, lengkap dengan nilai-nilai filosofisnya. Akibatnya, tugas-tugas atau target yang dibebankan kepada bawahan menjadi bias bahkan melenceng dari apa yang diinginkan atau dicita-citakan. (achmad subechi)

Leave a Reply