Antara Bisnis dan Kebutuhan Spiritual
Thursday, 28-8-2008 | 4:38 WIB | Komentar | Kategori: KONTEMPLASI, achmad subechi, karyawan
DERAJAT kesadaran manusia terhadap kebutuhan spiritual akan semakin meningkat, ketika mereka telah merasakan pahit getirnya kehidupan yang telah dijalaninya. Pengalaman-pengalaman empiris itulah yang akhirnya melahirkan kesadaran agar berbuat yang terbaik dan mampu memberikan makna buat diri sendiri, keluarga dan manusia lainnya.
JABATANNYA lumayan tinggi. Selain menjabat sebagai President Director Hotel Grand Tiga Mustika, Balikpapan, Drs Ec Sumpono Kangmartono MM adalah pemilik hotel yang cukup megah di Kota Minyak. Posisi puncak itu tak akan pernah ia raih, kalau saja Sumpono tak merasakan pahit getirnya dalam menjalani kehidupan.
Ketika usianya sembilan tahun, sang ibunda tercinta wafat. Sejak itu, ia harus berjuang menghidupi dirinya sendiri. Sumpono kecil tak segan-segan berjualan permen di gedung-gedung bioskop yang ada di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
“Untuk bisa hidup saya terpaksa berjualan permen dari bioskop ke bioskop. Dan wakktu itu permen yang saya jual adalah barang dagangan milik kakak saya,” kenangnya. Ketika menginjak dewasa,, Sumpono berangkat ke Surabaya kuliah di Ubaya. Lulus kuliah, ia mendapat gelar sarjana dan menikah dengan kekasihnya yang sama-sama kuliah di Ubaya. Setelah menikah, ia membangun usaha baru berjualan alat-alat tulis kantor. Selanjutnya usahanya berkembang hingga ia diipercaya menjadi supplier.
Dari situ usaha berkembang, dan merangkak ke bisnis lainnya. “Saya bahkan waktu itu sempat jualan nomer buntut, dari nalo, SDSB sampai undian harapan. Saya pernah sukses di usaha itu, tapi harta juga habis atau bangkrut gara-gara itu,” ungkapnya.
Berangkat dari kegagalan itulah, Sumpono lalu merintis usaha kontraktor kecil-kecilan. Selanjutnya ia mendapat kepercayaan dari Maspion, untuk memasok asbes ke rumah-rumah transmigran. “Tapi, lagi-lagi saya bangkrut habis-habisan karena ditipu rekan bisnis saya. Puncak kebangkrutan saya ketika terjadi krismon tahun 1997. Semua harta benda saya habis karena disita bank,” ujarnya.
***
KINI ia menjadi bos besar di Balikpapan. Meski begitu, Sumpono tetap Sumpono, pria bersajaha yang selalu ramah menyapa tamu-tamunya. Agar bisnis hotelnya bisa berjalan dengan baik dan berkembang pesat, ia tak segan-segan meng-handle tamu-tamunya.
Denyut nadi kehidupan di hotelnya mulai dari perencanaan, promosi, melakukan inovasi hingga sampai menata menu restoran yang ada di hotelnya, ia lakukan bersama anggota keluarganya. Pekerjaan semacam ini sudah ia lakoni hampir dua tahun, agar hotel yang menelan investasi Rp 90 miliar itu cepat berkembang dan sukses seperti yang ia cita-citakan.
Gaya bicaranya yang lembut dan ramah memberikan suasana sejuk ketika berbicara dengan para tamu dari berbagai daerah dan belahan dunia. Pendekatan Sumpono terhadap para pelanggannya adalah bagian dari praktik atau upaya menjalankan kegiatan public relations (PR). Banyak tamu yang datang kembali ke hotelnya, lantaran merasa kerasan diperlakukan sebagai keluarga sendiri. “Tamu-tamu itu selalu datang kembali kesini, karena bisik-bisik…,” kata dia memberikan sedikit resep untuk menarik tamu agar kembali menginap di hotelnya.
Sebagai pebisnis yang terus bergulat dengan urusan manusia dan uang, ternyata Sumpono punya predikat lain yang melampaui itu semua. Apa gerangan? Pria berdarah campuran Tionghoa itu, ternyata seorang pendeta agama Budha sekte Mahayana dan menduduki jabatan Ketua DPD Walubi, Kalimantan Selatan.
Di tanah kelahirannya Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sumpono juga mempunyai yayasan sosial dan vihara bernama Duta Prabha. Jadi jangan kaget apabila kemudian Sumpono mengenakan jubah kependetaaan dan memimpin upacara keagamaan, Budha. Yayasannya memiliki usaha pemakaman, krematorium dan rumah abu.
14-15 Agustus, dia berangkat ke Banjarmasin memimpin upacara kirim doa untuk para arwah leluhur. “Pas bulan ini, kami ada acara kirim doa. Biasanya diikuti sekitar 200 sampai 300 umat. Mereka kirim doa diiringi pembacaan mantra sutra untuk mendoakan arwah leluhur agar bisa tenang di alam baka, atau menjelma kembali menjadi manusia yang lebih baik,” katanya.
Inilah pendekatan dari perpaduan keseimbangan antara bisnis dan rohani. Sebagai contoh, untuk merayakan ulang tahun hotelnya, wajib hukumnya mengundang anak-anak yatim piatu atau anak-anak panti asuhan. “Tahun lalu, kami undang 300 anak yatim piatu. Semua bisnis bisa kami laksanakan, tapi ada syaratnya. Sebagian harus harus kita sisihkan buat mereka yang membutuhkan,” katanya.
Menyambut Ramadhan, Sumpono merencanakan menggelar kegiatan tilawatil Quran bagi karyawannya yang beragama Islam. “Tilawatil ini sifatnya hanya internal buat karyawan kami. Tujuannya agar mereka termotivasi untuk beribadah,” ujarnya.
Tanggal 13 September 2008 nanti, Hotel Grand Tiga Mustika akan merayakan hari jadinya yang ke-2. Ia sengaja tidak mengundang artis-artis besar dan ternama, tapi ia lebih memilih mengundang tamu agungnya yaitu anak-anak yatim piatu di Balikpapan. “Kami sedang menyiapkan acara untuk anak yatim piatu,” katanya.
Dia juga berencana membuat kotak sumbangan khusus terbuat dari ukiran kayu khas Kaltim. Kotak itu akan ditaruh di hotel, bandara dan tempat-tempat strategis yang ramai dikunjungi orang. “Tujuannya untuk sosial. Jadi kalau ada banjir, musibah atau orang-orang membutuhkan bisa menggunakan dana itu,” tuturnya.
Baginya bisnis dan kegiatan rohani harus berjalan berdampingan, termasuk dalam mengelola Grand Tiga Mustika. Di atas tanah sekitar 5.000 meter di depan Hotel Grand Senyiur, ia bangun hotel sembilan lantai dengan berbagai fasilitas. Lantai delapan ia kembangkan untuk arena hiburan karaoke, spa dan panti pijat keluarga. “Sekarang ini lagi pada tahap pembangunan. Semua hiburan bersifat untuk keluarga,” jelasnya. Di lantai delapan itu pula, Sumpono juga bertempat tinggal bersama istri dan anak-anaknya.
Lantai pertama hingga delapan boleh-boleh saja untuk semua aktivias bisnis, tetapi bagi Sumpono lantai sembilan merupakan area istimewa. Bangunan paling atas hotel itu, secara khusus dibangun sebuah rumah ibadah cetya Budha. Vihara itu berada di puncak hotel dan langsung beratap langit dengan view laut nan menawan di kawasan Teluk Balikpapan. “Ke depan, tamu-tamu dari Thailand atau negara lain bisa melakukan meditasi di tempat ini,” tuturnya. (ps/joi/bec)













